Hari Pahlawan sebagai ikhtiar menyerap nilai perjuangan

 44 total views,  1 views today

YOGYAKARTA  | KSOL — Setiap 10 November selalu terbayang sosok-sosok tangguh dan tidak gentar membela bangsa, rela bercucur darah dan menukar jiwa demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Karenanya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir menyayangkan, bila Hari Pahlawan dijadikan sebagai acara seremonial belaka.

Bangsa Indonesia harus memperingati Hari Pahlawan sebagai ikhtiar menyerap nilai perjuangan pahlawan Indonesia. Sekaligus mengaktualisasi nilai kepahlawanan agar hidup dalam jiwa, alam, pikiran, sikap dan tindakan warga dan elit bangsa.

Terlebih, kini bangsa Indonesia dihadapkan dengan tantangan yang lebih kompleks, lawan tidak datang dalam bentuk penjajahan fisik. Ancaman terbesar justru hadir saat warga dan elit bangsa Indonesia ini tidak lagi menjaga persatuan.


menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan


Maka itu, ia mengingatkan agar Hari Pahlawan kembali menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan baik bagi warga maupun elit. Pertama, nilai pengorbanan. Pahlawan berkorban demi merawat eksistensi bangsa dalam panggung sejarah bangsa-bangsa.


nilai pengorbanan


Jika nilai pengorbanan diaktualisasikan dengan baik, terbentuk bangsa yang peka, mau membantu sesama, tidak lagi provokasi yang menimbulkan konflik berbangsa dan bernegara. Pahlawan berani berkorban pikiran, harta bahkan jiwa untuk Indonesia.

“Mereka memberi bukan meminta dan bukan mengambil. Itulah ciri berkorban,” kata Haedar, Selasa (9/11).

Kedua, meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan yang lain. Sebab, persoalan dan tantangan bangsa Indonesia begitu banyak dan kompleks tidak mungkin terselesaikan tanpa kolaborasi dan persatuan segenap elemen anak bangsa.


Pahlawan mampu satukan Tanah Air


Pahlawan mampu satukan Tanah Air karena selalu meletakkan kepentingan bangsa di atas diri, keluarga dan kroni. Melintasi batas hadir untuk semua kalangan, jadi sosok-sosok yang meletakkan kepentingan lebih luas di atas kepentingan sempit.

Haedar tidak untuk diri, keluarga atau kroni, melainkan untuk bangsa dan negara. Ketiga, nilai kenegarawanan. Pahlawan mengajarkan ekspresi sikap kenegarawanan paling sederhana, niscaya ada dalam tindakan jujur baik di perkataan maupun perbuatan.

Ketika ada kesalahan mereka dengan gagah berani mengakui kesalahan dan tidak menutupi kesalahan dengan kesalahan lain. Seharusnya, kebiasaan laku jujur pahlawan ini jadi inspirasi dan batu tapal kemajuan untuk bangsa dan negara. 

“Pahlawan berdiri tegak di atas nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan kepatutan dalam hidup. Mereka tidak berdusta, namun sangat jujur dengan kehidupan. Jiwa kesatria ini begitu penting,” ujar Haedar.

Keempat, nilai uswah hasanah atau keteladanan hidup. Haedar merasa, jadi teladan yang baik merupakan salah satu simpul harapan bangsa saat negara alami kerapuhan sosial. Sebagai imbas pertarungan politik dan ekonomi ambisius seperti sekarang.

Perlu teladani pahlawan yang telah memberi panduan dalam berbangsa dan bernegara yaitu kata dan tindakan tidak pernah pecah kongsi. Pahlawan, pada dasarnya hidup sejahtera nan bersahaja, tetap jiwanya seluas samudera, bahkan melampauinya.

“Kata sejalan dengan tindakan, sehingga masyarakat memperoleh obor dan suluh dari sikap, pikiran, cita-cita, langkah dan jejak para pahlawan,” kata Haedar.


Hari Pahlawan tak hanya sekadar seremonial


Sementara, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Fitra Arda mengatakan, merayakan Hari Pahlawan tak hanya sekadar seremonial tapi juga membangun kembali memori kolektif agar dapat meneladani nilai-nilai kepahlawanan.

“Terlebih bagi kaum muda yang masa depannya masih panjang dan merupakan penerus bagi kemajuan bangsa kita ini,” kata Fitra.

Dia melanjutkan, kepahlawanan masa kini sudah berbeda dengan kepahlawanan dulu yang identik dengan kegiatan memanggul senjata.Menurutnya, kepahlawanan saat ini dapat diartikan dengan melakukan kegiatan sehari-hari yang bernilai positif, produktif, dan bermanfaat untuk semua orang.

Fitra juga mengatakan, perjuangan hari ini adalah melanjutkan cita-cita para pahlawan untuk mewujudkan negeri yang berdaulat, adil, makmur, sejahtera, dan merdeka di segala bidang.

“Tentu peran generasi muda sangat dibutuhkan. Tantangan kita adalah bagaimana memerangi ketertinggalan, kekurangan pengetahuan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya.


generasi muda untuk menggali potensi


Melalui generasi muda, semua bahkan bisa kita atasi lewat kerja keras, inovasi, dan produktivitas dengan potensi yang dimiliki,” ujar Fitra.

Untuk itu, Fitra mengajak generasi muda untuk menggali potensi dengan cara selalu giat belajar dan meningkatkan prestasi serta inovasi di berbagai bidang kehidupan.

Dia juga mengatakan kemajuan teknologi hendaknya dijadikan modal untuk mengembangkan diri, bukan malah memperdaya diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat.Di samping itu, kata dia, para generasi terdahulu juga harus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya dan menuangkan kreativitasnya.

Dengan begitu, Fitra mengatakan anak muda dapat lebih percaya diri untuk menunjukkan dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.”Ini dapat kita buktikan ketika Ditjen Kebudayaan membuat kegiatan Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM). Hasilnya bagus-bagus. Banyak ide-ide baru yang muncul yang hasilnya sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari dan pembangunan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Fitra berharap, dalam rangka melanjutkan semangat para pahlawan, anak muda dapat menjadi teladan di lingkungannya serta menggerakan kesadaran diri dan orang-orang di sekitarnya untuk meneladani nilai-nilai kepahlawanan dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.Selain itu, Fitra mengajak anak muda untuk bersemangat dan dapat menyiasati berbagai kondisi untuk terus maju dan menjadi pemenang.”Berbagai kendalanya hendaknya bukan menjadi halangan untuk terus berkarya dan mencari jalan untuk berinovasi dan berkreativitas,” ujar Fitra.

“Terakhir, anak muda harus berdialog dengan berbagai kalangan atau lintas generasi untuk membuka peluang dan menghapus berbagai rintangan. Dengan kebersamaan, tak ada yang tak bisa kita lakukan,” pungkasnya.

Sedangkan cendekiawan UIN Syarif Hidayatullah Muhbib Abdul Wahab mengatakan, jika disebut kata pahlawan, setidaknya asosiasi kita tertuju kepada dua hal: perjuangan dan pengorbanan.

Dua kata ini memang sulit dipisahkan, karena setiap perjuangan pasti menuntut adanya pengorbanan.


pahlawan adalah orang yang ikhlas mengorbankan jiwa


 Akan tetapi, pengorbanan tidak mungkin terwujud jika tidak disertai keikhlasan. Jadi, pahlawan adalah orang yang ikhlas mengorbankan jiwa, raga, ilmu, dan hartanya demi meraih dan mewujudkan cita-cita perjuangan.

Perjuangan itu multidimensi. Ada perjuangan meraih kemerdekaan, perjuangan membela akidah (agama) Islam, perjuangan mencerdaskan anak-anak bangsa, hingga perjuangan membela kebenaran dan hak-hak asasi manusia dalam hidup berbangsa dan bertanah air. Semua ragam perjuangan itu mulia dan merupakan fitrah setiap manusia.

Dikisahkan, ada seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ”Ya Rasul, tahukah engkau orang yang berperang untuk mencari pahala dan popularitas? Apa yang didapatkan oleh orang seperti itu?” Rasul menjawab, ”Dia tidak mendapat apa-apa.” Orang itu mengajukan pertanyaan yang sama hingga tiga kali dan Rasul pun memberi jawaban yang sama. Rasul lalu menegaskan, ”Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal (perjuangan), kecuali yang ikhlas dan semata-mata mengharap ridha-Nya.” (HR Muslim).

Ranah kepahlawanan itu luas dan terbuka. Yang terpenting adalah pertama, menyucikan komitmen spiritual (niat) dalam melakukan segala aktivitas. Cita-cita luhur dan perbuatan harus berangkat dari panggilan iman yang direspons oleh hati yang tulus ikhlas untuk mewujudkan cita-cita mulia itu.

Kedua, tujuan utama dalam merealisasikan perjuangan adalah menjunjung tinggi kalimah (agama) Allah, bukan mencari popularitas dan ambisi duniawi. Perjuangan meraih cita-cita luhur itu bernilai heroik jika dikawal oleh semangat mahabbatullah (cinta Allah).

Cinta Allah–dan tentu saja cinta Rasul-Nya–merupakan sumber energi dan inspirasi yang tidak pernah padam. Pahlawan yang hakiki akan selalu berbuat yang terbaik dan paling dapat memberi manfaat bagi umat manusia karena cintanya yang tulus kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ketiga, meraih dan membela kemuliaan diri dan agama merupakan visi pahlawan sejati. Ia mendedikasikan dan mengorbankan segala yang dimilikinya bukan untuk mewujudkan ambisi pribadi atau kepentingan duniawi. Pahlawan sejati tidak pernah takut jatuh miskin, tetapi selalu menunjukkan kekayaan hati dan keluhuran jiwa.

Agenda perjuangan adalah memberi dan memberi (give and give more), bukan meminta dan mengharap imbalan. Memberi yang terbaik adalah memberi keteladanan dengan akhlak mulia, bukan memberi materi. Karena, keteladanan yang baik itu abadi, sedangkan materi itu nisbi dan tidak abadi. Semoga kita bisa meneladani perjuangan para pahlawan kita.

TEKS : REPUBLIKA.CO.ID

Kontak Pengelola : 0812-8171-2933 An. Ustadzah Putri




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster