Tahun 2030, Musi Banyuasin siap Jadi Ibu Kota dunia EBT

 37 total views,  1 views today

…Energi fosil saat ini semakin menipis. Oleh sebab itu, hilirisasi kelapa sawit menjadi biofuel ini menjadi solusi transformasi dan penyiasatan energi fosil yang semakin menipis. Bahkan pada 2030 Muba siap menjadi ibu kota dunia Energi Baru Terbarukan (EBT)…


PALEMBANG | KSOL — Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), dikenal sebagai satu kabupaten terkaya diantara 17 kabupaten dan kota di Bumi Sriwijaya. Pasalnya, Kabupaten yang bermotto Bumi Serasan Sekate ini jumlah Pendapatan Asli Daerahnya (PAD), selalu menempati urutan pertama di Sumatera Selatan.

Betapa tidak? Kabupaten yang ibukotanya Kota Sekayu ini, tahun 2021 menargetkan PAD-nya hingga Rp.3.20 triliun. Angka itu bukan hal aneh. Sebab dengan potensi hasil perkebunan dan migas, kabupaten yang memiliki luas wilayah ±14.265,96 km² ini sangat mungkin akan tercapai. Sebab sepuluh tahun lalu (2010), PAD Kabupaten  yang kini dipimpin Dodi Reza Alex dan wakilnya Beni Hernedi, sudah mencapai 2.2 triliun.

Target PAD Pemerintah (Pemkab) Muba tahun 2021 ini tertuang dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD Muba tahun 2021 yang dirancang DPRD dan Pemkab Muba.

Kali itu, Bupati Muba Dodi Reza Alex mengatakan, pendapatan daerah tersebut terdiri dari PAD senilai Rp332,6 miliar. “Sisanya bersumber dari pendapatan transfer senilai Rp2,77  triliun dan lain-lainnya sebanyak Rp97,3 miliar,” katanya.

Melihat potensi itu, kabupaten dengan jumlah penduduk  622.206 jiwa, bukan mustahil angka itu akan tercapai. Sebab, dengan berbagai inovasi dan terobosan Pemkab Muba, target PAD itu sangat rasional.

Diantara dari sekian banyak terobosan yang dilakukan Pemkab Muba, antara lain inovasi pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan bakar yang diinisiasi Bupati Dr Dodi Reza Alex Noerdin Lic Econ MBA.

Gagasan ini diyakini banyak pihak, akan menjadi masa depan yang sangat baik dalam upaya mensejaterahkan petani sawit lokal dan menekan emisi di bumi.

Emisi di bumi merupakan zat-zat pembuangan yang beracun dan dapat membahayakan makhluk hidup serta mencemari lingkungan.

Gas atau uap emisi berasal dari aktivitas agrikultur dan pabrik yang menggunakan bahan bakar fosil. Akselerasi tersebut menimbulkan dampak yang signifikan dalam proses pemanasan global.

Prestasi lain sebelum Pemkab Muba merealisasikan inovasi pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan bakar bensin sawit, kabupaten yang memiliki warga yang terdiri atas 320.561 laki-laki dan 301.645 perempuan ini juga tampil sebagai kabuoaten yang menjadi perintis pertama  Indonesia untuk peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani rakyat.

“Kita yakini bahkan juga didukung oleh UNESCO dan pakar marketing dunia Hermawan Kartajaya bahwa pada 2030 petani sawit Muba akan menjadi tuan rumah sendiri dengan kesejahteraan yang meningkat,” ucapnya.

Dodi mengatakan, Muba juga telah merealisasikan inovasi pengolahan karet menjadi aspal demi menunjang pembangunan infrastruktur jalan yang berkualitas. “Prinsipnya apa yang dilakukan ini demi kesejahteraan petani sawit rakyat dan petani karet di Muba,” ulasnya.

Dodi juga bakal segera mengimplementasikan kawasan industri hijau sebagai kawasan pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri.

“Industri hijau dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga, mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Berdasar deretan prestasi itu, orang nomor satu di Pamkab Muba ini didaulat menjadi pembicara pada Yeosu-UEA Summit 2021, Kamis (30/9/2021) secara virtual di Hotel Santika Premiere Palembang.

Kali itu, Dodi menyebutkan, energi fosil saat ini semakin menipis. Oleh sebab, hilirisasi kelapa sawit menjadi biofuel ini menjadi solusi transformasi dan penyiasatan energi fosil yang semakin menipis. “Bahkan pada 2030 kami di Muba sudah siap menjadi ibu kota dunia energi baru terbarukan (EBT),” ungkap putra dari Alex Noerdin,  Gubernur Sumsel periode 7 November 2008 hingga 21 September 2018 ini.

Lebih lanjut, pada acara yang mengusung tema “Musi Banyuasin Regency as Pioneer of The Green Fuel Industry of Palm Oil to Support The Commitment Zero Emission By 2050, Wakil Ketua Bidang Hubal & Pengelolaan Migas Daerah ADPMET ini mengatakan, impor BBM akan meningkat 6,3% per tahun menjadi 182,3 juta kiloliter pada tahun 2050.

Proyeksi konsumsi minyak sawit untuk biohidrokarbon akan meningkat > 4,1% per tahun (5.158.000 ton pada tahun 2018 menjadi 42.670.000 ton pada tahun 2030).

“Terkait Kebijakan Energi Indonesia, dukungan terhadap komitmen Paris menargetkan bauran Energi Nasional untuk energi baru dan terbarukan mencapai 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Sub Division Chef Climate Change Division Dept Environment Protection, Jen Miao Fen Chiang mengaku, terobosam yang sudah dilakukan Muba saat ini merupakan pondasi kuat untuk menghadapi masa yang akan datang.  “Muba punya inovasi yang luar biasa, dan inisiasi tersebut diyakini dapat menekan emisi dengan maksimal,” ucapnya.

Pada acara itu, hadir sebagai pembicara diantaranya, Deputy Director Ministry of Agriculture Forestry and Fisheries, Heng Bunny, Director City ENRO (Environment Natural Resources Office), Noel Hechanova, Mayor Fongu Cletus Tanwe, Fongu Cletus Tanwe, Malaka Green Technology, Hafizam Mustaffa, Free Lance Consultant Municipality Council Matale Sri Lanka, Wimal Wimaladasa, dan Senior Researcher R&D Bureau International Climate & Environment Center Republic of Korea, Dong Woo Yang.

TEKS / FOTO : CINDRA IRAWAN   |  EDITOR  : IMRON SUPRIYADI





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster