KEMULIAAN ADAB DAN ILMU AGAMA

 113 total views,  6 views today

Oleh Anto Narasoma (Penyair dan Jurnalis di Palembang)

KEMULIAAN adab manusia merupakan sesuatu paling berharga. Karena adab yang baik mampu memberikan kebijakan dari cara berpikir dan sikap hidup manusia sehari-hari.

Karena itu Islam menahulukan adab dibanding ilmu agama. Rasulullah SAW, sebelum memberikan nilai-nilai keagamaan sebagai ilmu, beliau terlebih dahulu mengajarkan akhlak bagi pengikutnya.

Karena akhlak mampu memberikan nilai-nilai kemanusiaan untuk membenahi kepribadian manusia yang cenderung berbuat keliru.

Karena itulah peradaban Islam yang membentuk akhlak pengikutnya mampu diselaraskan dengan ilmu agama terkait denhan nilai kebaikan perilaku (akhlak) dan kebaikan berpikir.

Sebagai fokus kepasrahan terhadap nilai Ilahiyah, Islam mengajarkan kepekaan rasa kemanusiaan untuk memberdayakan akhlak manusia. Sikap inilah yang memberikan kontribusi bagi ketinggian akhlak manusia untuk tidak membenci, mendendam atau merendahkan nilai kemanusiaan orang lain.

Hakikatnya, Islam selalu mengajarkan pemahaman terhadap jiwa, rasa dan kepasrahan bagi sejumlah kebaikan. Allah SWT tidak melihat rupa manusia dalam berbagai bentuk, tapi yang dilihatNya adalah hatimu.

Kejernihan seperti apa hati manusia itu dalam pandangan Allah, tentu nilainya adalah hakikat pengabdian. Artinya, selain berusaha membentuk akhak dengan perilaku yang baik dan tidak mementingkan kebutuhan diri sendiri, Islam pun membentuk sikap Islami sesuai ilmu yang dipelajari.

Karena itu seorang yang memiliki akhlakul karimah, selalu terketuk jiwanya untuk membantu orang dalam kesulitan. Ia akan melakukan kebaikan secara diam-diam hanya karena Allah.

Karena itu Allah tidak akan melihat apakah yang berbuat baik itu bergamis, bersorban atau berbusana muslim saja. Orang-orang biasa saja, dengan pakaian biasa, ketika berbuat baik, nilainya di mata Allah adalah pengabdian tulus.

Karena itu Allah tidak melihat baju gamis, sorban atau apalah yang berkaitan dengan nilai agama, tapi yang dilihat Allah SWT adalah hatinya.

Orang baik dengan hati yang baik, akan mudah tersentuh hatinya ketika melihat sesuatu. Misalnya, ketika bepergian dengan bus angkutan kota, ketika melihat ada seorang wanita tak kebagian tempat duduk, dan dengan terpaksa dia berdiri, maka hatinya praktis tersentuh.

Ia segera memberi tempat duduk ke pada wanita itu. Sikap ini merupakan corak akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Bahkan ketika Rasul masuk ke masjid, ahklak dan kerendahan hatinya sangat jelas terlihat. Kesantunan dirinya terhadap orang-orang di masjid begitu menyentuh dan menyenangkan siapa pun.

Padahal sebagai orang “nomor satu” yang sangat cintai dan dicintai Allah SWT, bisa saja Rasulullah bersikap adigang-adigung, angkuh atau congkak. Tapi Masya Allah, ia tetap berjalan seperti biasa dengan segala kesantunannya.

Bahkan pengabdiannya kepada Allah (salat) sungguh tak terhingga. Salatnya ke pada Allah membuat kakinya membengkak.

Begitu hebatnya akhlak yang diajarkan Rasul ke pada umatnya. Namun apakah kita mampu menerima contoh teladan darinya? (*)

Tirta Bening, 9 Mei 2019





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster