Spiritual Komitmen : sebuah Solusi

 103 total views,  2 views today

Oleh KH Taufik Hidayat*)

Alkisah, Khalifah kedua Umar bin Khatab suatu ketika melakukan perjalanan. Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai orang  yang sangat peduli dengan rakyat, dan sering melihat langsung kondisi rakyat secara obyektif di sejumlah tempat.

Dalam perjalanan itu, Khalifah Umar bin Khatab menyaksikan sebuah bukit.  Dari kejauhan, bukit itu terlihat berwarna putih. Kali itu, Khalifah Umar bin Khatab kemudian mendekati bukit itu untuk memastikan gerangan apa yang membuat sebagan bukit itu menjadi putih.


Kecerdasan yang dimiliki sebagian orang tua kita hanya didasari logika dan hitungan matematis yang kemudian ditularkan kepada anak dan cucunya. Sehingga kesadaran yang muncul pada putra-putri kita, hanya sebatas angka-angka dan pendapatan material. Lain tidak.

KH Taufik Hidayat

Setelah dekat, Khalifah Umar bin Khatab baru mengetahui, bukit yang tersapu dengan warna putih itu karena bukit itu sebagian dipenuhi oleh domba-domba yang gemuk-gemuk. Tak jauh dari sekumpulan domba itu ada seorang penggembala yang menunggu domba-domba itu. Khalifah Umar bin Khatab kemudian mendekati penggembala dan bertanya :

“Banyak sekali domba itu,” Khalifah Umar bin Khatab mulai membuka pembicaraan.

“Iya, domba ini setiap hari bertambah,” jawab si Penggembala.

“Domba ini milik siapa?” tanya Khalifah Umar bin Khatab.

“Milik Tuan saya,” jawabnya si Penggembala pendek.

“Kamu tahu tidak jumlah domba ini?” tanya Khalifah Umar bin Khatab.

“Jangankan Tuan saya. Saya yang setiap hari bersama domba-domba ini, saya juga tidak tahu berapa jumlah domba ini. Apalagi Tuan saya?” jelas si Penggembala.

“Kalau begitu, bagaimana kalau saya beli satu ekor?” ujar Khalifah Umar bin Khatab.

“Mohon maaf Tuan. Saya hanya diamanati untuk menggembala, dan tidak diamanati untuk menjual. Kalau Tuan mau  membeli, Tuan bisa menemui pemilik domba ini. Tuan saya tinggal di balik bukit sana,” jawab si Penggembala menunjukkan rumah si pemilik domba.

Lalu Khalifah Umar bin Khatab mencoba membujuk si Penggembala, agar mau menjual satu ekor domba yang sedang digembalakann.

“Kalau salah satu domba ini saya beli, Tuanmu kan tidak mengetahui. Apalagi,  disini tidak ada  orang  yang tahu jika kamu menjual seekor kambing milik majikanmu?” ujar  Khalifah Umar bin Khatab.

Mendengar itu, seketika si Penggembala berdiri dan melanjutkan kalimatnya. Kali itu, seperti ada hal yang mengganjal di dalam hati si Penggembala.

“Iya Tuan. Engkau memang benar. Di sini tidak ada satu pun orang yang tahu  jika saya menjual seekor kambing milik majikan saya. Tapi, di mana Allah, Tuan? Dia selalu melihat apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya!” jawab si Penggembala, yang kemudian membuat Khalifah Umar bin Khatab meneteskan air mata.

Khalifah Umar bin Khatab kemudian meminta si Penggembala untuk bertemu dengan pemilik domba. Di balik bukit, Khalifah Umar bin Khatab akhirnya bertemu dengan pemilik domba dan berbincang seperlunya.

“Tuan, apakah boleh kalau saya menebus budak penggembala ini?” tanya Khalifah Umar din Khatab pada pemilik domba.

“Boleh saja Tuan, asal cocok harganya,” ujar pemilik domba itu. Khalifah Umar bin Khatab dan pemilik domba kemudian melakukan tawar menawar. Setelah ada kesepakatan, Khalifah Umar bin Khatab memerdekakan si Penggembala dari seorang budak.

“Nak, kamu sudah saya tebus dan kamu saya merdekakan. Saya kagum dengan keteguhanmu memegang amanah,” ujar Khalifah Umar bin Khatab, yang kemudian menyerahkan beberapa ekor kambing kepada si Penggembala.

Tak henti-hentinya si Penggembala mengucapkan syukur dan terima kasih. Selain karena dimerdekakan dari status budaknya, juga atas pemberian kambing. Kali itu, si Penggembala baru mengetahui, orang yang menyapa sejak awal di atas bukit dan sampai memerdekakan adalah Khalifah Umar bin Khatab.

*

Lain si Penggembala, lain pula kisah berbeda si Anak Sekolah di zaman modern. Di antaranya perilaku masa lalu sebagian orang tua kita, bahkan hingga di era ke-kinian. Setiap orang tua selalu berkeinginan anaknya mendapat prestasi bergengsi (rangking satu) di sekolahnya. Sebut saja Si Anak Sekolah.

Tak ayal, untuk mendorong itu, diantara sebagian orang tua kemudian tak jarang menjanjikan hadiah kepada anaknya untuk sebuah prestasi yang prestise di mata publik. Namun karena di zamannya belum ada hand phone (HP), tablet dan perangkat teknologi modern seperti sekarang, diantara orang tua kemudian berjanji akan memberi hadiah sepeda.

“Nak, nanti kalau kamu rangking satu, ayah akan beri kamu hadiah sepeda,” ujar orang tua kita tempo dulu. Kira-kira begitulah ujaran kebanyakan dari sebagian orang tua untuk memotivasi anak-anaknya meraih prestasi. Mungkin Anda diantaranya.

Di era ke-kinian hadiah itu kemudian berubah menjadi HP, Tablet, sepeda motor, mobil, jalan-jalan ke luar negeri, atau apapun yang sifatnya pemenuhan material.

Demikian semangatnya si Anak Sekolah itu belajar untuk meraih rangking satu dalam ujian. Mengapa semangat? Karena yang membersit di kepala si Anak Sekolah itu hanya: hadiah sepeda, atau HP, Tablet dan lainnya.

Namun faktanya berbanding terbalik. Ternyata soal ujiannya saja yang mudah. Sementara jawabannya sulit. Tetapi karena yang terlintas di benak si Anak Sekolah itu : hadiah sepeda, maka si Anak Sekolah ini melakukan berbagai cara agar dapat meraih rangking satu, meskipun harus menyontek. Sekali lagi demi mendapat hadiah!

Maka bisa kita bayangkan, kalau di masa kecil saja, si Anak Sekolah sudah “dipaksa” untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginan (hadiah sepeda-red), lalu bagaimana bila sudah dewasa kelak? Itulah yang sekarang terjadi di negeri ini.

Kecerdasan yang dimiliki sebagian orang tua kita hanya didasari logika dan hitungan matematis yang kemudian ditularkan kepada anak dan cucunya. Sehingga kesadaran yang muncul pada putra-putri kita, hanya sebatas angka-angka dan pendapatan material. Lain tidak.

Efek yang menyedihkan ketika di antara sebagian kita dan putra-putri kita kemudian rela melakukan apapun, atau bahkan menghalalkan segala cara demi “mendapatan sesuatu” yang berdampak pada perolehan angka-angka rupiah, jabatan, prestise dan sejenisnya.

Di sinilah kemudian kita melihat, kecerdasan intelektual yang dimiliki si Anak Sekolah atau setiap diri seseorang akan menentukan komitmen perjuangannya. Apabila kita hanya memiliki kecerdasan intelektual, sebagaimana kisah si Anak Skeolah tadi, maka yang lahir dalam perilaku keseharian hanya komitmen intelektual (intellectual commitment). Nyaris semua kiat kerja dan etosnya, diukur dengan hitung-hitungan matematis dan rasionalitas, sebagaimana si Anak Sekolah.

Oleh sebab itu,  beiring dengan potret perilaku mahluk Tuhan ini (manusia-red), kecerdasan yang mesti dimiliki tidak hanya berhenti sampai di situ. Namun membangun kecerdasan emosional (emotional commitment) pada setiap diri kita menjadi keharusan.

Kecerdasan emosional sangat memungkinkan kita dan si Anak Sekolah dapat mengelola emosi dengan baik. Sehingga, dalam keseharian kita akan mampu menempatkan ekspresi (emosi) pada ruang yang tepat dan efektif. Dampaknya, akan memudahkan kita bekerjasama dengan orang lain, baik rekan kerja, tetangga maupun dalam organisasi atau komunitas tertentu. :un demikian halnya untuk anak-anak kita.

Posisi kecerdasan emosional ini menjadi penting. Sebab meminjam istilah Aristoteles – manusia sebagai zoon politicon – makhluk sosial yang selalu membutuhkan persaudaraan dan kesetiakawanan sosial dalam pemenuhan keseharian.

Kecerdasan emosional yang melekat pada diri seseorang, akan melahirkan komitmen emosional (emotional commitment). Meskipun, sangat mungkin efek tingginya komitmen emosional ini akan membentuk attitude (sikap) primordialisme seseorang terhadap tokoh tertentu. Apalagi, misalnya tokoh tersebut sedang terlibat dalam perhelatan politik praktis di sebuah wilayah. Sebut saja dalam pemilihan bupati, walikota, gubernur bahkan presiden.

Bukan tidak mungkin, sebagai akibat tingginya emotional commitment, lantas “menidakkan” tokoh lain yang bukan asal daerahnya, atau yang bukan satu almamaternya. Meskipun secara nyata “lawan politik”  itu, memiliki kapasitas dan kualitas mumpuni untuk duduk di kursi kekuasaan.

Tetapi, karena bibit negatif  atau ketidaksukaan terhadap “tidak se-daerah” atau “tidak se- almamater” lebih dominan,  maka di antara sebagian kita kemudian mengangap orang tersebut tidak baik. Apapun prestasi yang sudah dilakukan tidak membuat mengubah cara pandang. Ironisnya, “klan se-daerah” ini, mencari cara untuk meminggirkan–bahkan menjatuhkan “musuh politik”-nya dari kancah kompetisi kekuasaan, dengan segala cara. Pada kondisi ini tidak ada lagi kata haram. Semua halal, sebab yang haram adalah : kalah!

Bila itu yang terjadi, cukupkah dua kecerdasan yang melekat dalam setiap diri kita? Jawabnya : tidak! Guna memangkas efek negatif komitmen intelektual dan komitmen emosional, diperlukan satu kecerdasan lagi, yaitu : kecerdasan spiritual, yang akan melahirkan spiritual commitment.

*

Dari kisah pertama (si Penggembala) diatas kemudian muncul pertanyaan : apa yang dimiliki si Penggembala, sehingga begitu teguhnya memegang amanah, sampai-sampai dia tidak bersedia menjual seekor domba kepada Khalifah Umar bin Khatab, meski majikannya tidak mengetahui? Inilah yang disebut kecerdasan spiritual yang kemudian melahirkan spiritual commitment.

Sementara di kisah berbeda, si Anak Sekolah rela menghalalkan segala cara (dengan menyontek) ketika mengerjakan soal ujian, demi mendapatkan hadiah sepeda dari orang tuanya. Itu  karena dalam diri si Anak Sekolah itu, tidak tertanam kecerdasan spiritual.

Tetapi sebaliknya, meski tidak pernah mengenyam bangku sekolah, kecerdasan spiritual justeru mengalir deras di tubuh si Pengembala–yang melahirkan spiritual commitment–sebuah kesadaran dalam diri si Penggembala yang disebut : God Consciousness (kesadaran Tuhan) : sebuah kesadaran merasa dilihat Allah Swt, kapanpun dan dimanapun kita berada.  Sementara dalam diri si Anak Sekolah ini, kesadaran spirtualnya jauh panggang dari api.

Alangkah indahnya bila kesadaran spritual si Penggembala itu juga dimiliki—bukan saja si Anak Sekolah–tetapi juga mengalir ke setiap denyut nadi dan detak jantung ke semua komponen bangsa ini, yang kemudian akan menjadi salah satu solusi atas segala persoalan yang tengah melanda Bumi Pancasila ini.

Sejak munculnya degradasi moral, kenakalan anak remaja, menyontek saat ujian karena iming-iming hadiah, jual beli bangku sekolah, bisnis skripsi, sampai manipulasi birokrasi dan korupsi yang merajalela, Insya Allah bisa dibersihkan secara perlahan, bila semua kita mau memaksimalkan kepemilikan kesadaran merasa dilihat Allah Swt.

Bila kemudian deretan kasus penyimpangan di negeri ini hingga sekarang masih terus menggejala di Indonesia Raya, maka akhirnya kita mengetahui, apa yang tidak dimiliki oleh negeri Merah Putih ini? yaitu : kesadaran merasa dilihat Allah Swt (kecerdasan spiritual), yang kemudian melahirkan spiritual commitment.**

Ponpes La Roiba Muaraenim, 10 Agustus 2021


*) Penulis adalah Pendiri dan Mudir Ponpes Tahfidz & Dakwah La Roiba Muaraenim – Sumatera Selatan





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster