Batal Masuk Islam karena Adzan

 124 total views,  2 views today

Menukil Kitab Mastnawi karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi yang lahir di Balkh pada tanggal 6 Rabiul Awal tahun 604 Hijriah. Kitab Matsnawi sering disebut juga sebagai insan nameh atau buku tentang perilaku manusia.

Melalui syair-syair kolosalnya, Rumi memperkenalkan banyak tokoh yang mewakili berbagai karakter manusia. Syair-syair Matsnawi syarat pembelajaran tentang asal-usul dan hakikat manusia, perjalanannya, hingga berbagai potensi yang ada dalam diri manusia. Diantara kisah yang ditulis Rumi dalam Matsnawi, tentang perilaku Muadzin (seorang yang azdan di masjid atau mushola).

TONTON VIDEONYA : KLIK SEKARANG

Suatu ketika, seorang Muadzin ini demikian semangatnya ingin mengumandangkan adzan di tengah ramainya teman-teman lain berada di sekitarnya. Tapi, sejumlah teman tiba-tiba melarangnya.

            “Sudahlah, tidak usah kau adzan, suaramu itu jelek,”  ujar teman si Muadzin tak setuju, karena mengetahui suara Muadzin ini tidak bagus.

            “Iya. Kalau kamu adzan, nanti orang bukan tertarik beribadah. Jangan-jangan kamu akan kena marah, karena suaramu jelek,” ujar yang lainnya yang juga tidak setuju.

            Tapi, dengan penuh percaya diri si Muadzin tetap bersikeras mengumandang adzan. Tak peduli saran dan ejekan teman-temannya. Tanpa mengindahkan lagi sikap keberatan dari orang sekitar, si Muadzin seketika dengan lantang mengundangkan adzan. Maka terdengarlah suara adzan  yang nada dan suaranya jelek.

            Usai adzan, tiba-tiba ada seorang Pasteur mendatangi kaum muslimin yang sedang berkerumun itu. Setelah mendekati mereka, lantas Pasteur ini bertanya;

            “Mohon maaf, bolehkah saya bertemu dengan orang yang adzan tadi?” Pasteur minta izin kepada kaum muslimn yang sedang berada di situ. Mereka saling pandangan heran.

            “Kenapa Pastuer ingin bertemu dengan Muadzin?” tanya teman Muadzin agak curiga.

            Tak lama dari itu, tiba-tiba si Muadzin muncul.

“Nah, ini orang yang adzan tadi,” ujar teman lainnya, sembari menunjuk ke Muadzin.

            “Benarkah Anda yang tadi mengumandang adzan tadi?” tanya Pasteur memastikan.

            “Benar, saya orangnya?” kata Muadzin dengan bangga. “Memang ada apa?” tanya Muadzin tanpa beban. Sementara teman lainnya hanya mengeryitkan kening. Bingung.

            “Adzan yang Anda kumandangkan tadi, untuk apa?” tanya Pasteur yang tidak mengetahui perihal Adzan dalam Islam.

            “Itu adalah suara Adzan, panggilan shalat untuk kaum muslimin, Pasteur!” ujar yang lain menjelaskan. Pasteur manggut-manggut.

            “O. Iya. Kalau begitu terima kasih. Saya akan memberi hadiah kepada Bapak Muadzin,” ujar Pasteur yang membuat terkejut orang-orang yang hadir.

            “Kenapa Pasteur akan memberi hadiah kepada Muadzin?” tanya lainnya lagi. Mereka heran dengan Pastetur. Sebab suara adzannya jelek, tetapi justreu Pasteur ingin memberi hadiah kepada Muadzin. Kali itu si Muadzin juga begong keheranan.

            “Kalau pun saya punya lebih banyak harta, mungkin saya akan memberi hadiah lebih dari ini,” ujar Pasteur sembari menyerahkan hadiah kepada si Muadzin.

            “Tapi kenapa Pasteur memberi hadiah pada saya?” tanya Muadzin penasaran.

            “Saya punya anak gadis cantik. Awalnya ingin masuk Islam, tapi mendengar suara adzan Anda tadi, saya jadi membatalkannya masuk Islam,” ujar Pasteur, yang kemudian permisi dan berlalu dari hadapan Muadzin dan kaum muslimin di tempat itu.

**

            Kisah yang ditulis Rumi diatas, tentu sarat makna dan pesan. Bukan untuk memojokkan kaum satu dan lainnya, atau merendahkan kaum muslimin atau Pasteur. Tetapi lebih penting dari itu, yang mesti kita catat adalah bagaimana kita harus mengemas pesan kebaikan dengan cara yang baik pula. Dalam sebuah hadits disebut :  Innallaha jamilun yuhibbul jamal (Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan).

            Kata Indah sangat multi makna. Bisa berarti lovely (indah, cantik, bagus, menarik, elok, jelita). Picturesque (indah, menarik, permai, sangat indah, unik, yang mengasyikkan). Beautiful (indah, cantik, bagus, elok, ayu, jeli). Magnificent (indah, agung, sangat bagus, kelihatan penting). Fine (halus, bagus, indah, tipis, cerah, sangat baik). Fancy (indah, fantastis, ajaib, bermutu tinggi).  Precious (berharga, mulia, indah, murni, agung). Elegant

(anggun, indah, elok, luwes, cantik, perlente). Sublime (sublim, agung, indah, maha, tertinggi, mahamulia).

            Deretan pemaknaan kata indah itu, bila kita hubungnkan dengan si Muadzin dalam kisah Rumi, sudah tentu ada satu catatan kecil yang berakibat fatal, sebagai efek pesan kebaikan yang tidak disampaikan dengan cara dan bahasa yang baik oleh si Muadzin.

Tanpa bermaksud menuduh pihak manapun, dalam keseharian sering kali kita melihat pesan kebaikan itu yang disampaikan dengan cara yang tidak baik. Akibatnya, bukan membuat orang simpati tetapi berbaik menjadi antipati. Termasuk kaum muslimin sendiri. Bukan mendekat tetapi sebaliknya kian menjauh. Bukan dalam arti menjauhi Islam, tetapi tidak lagi ada keinginan untuk berdekatan dengan orang yang menyampaikan pesan kebaikan itu dengan cara yang tidak arif dan bijak, sebagaimana si Muadzin tadi.

Kita seriing melihat, betapa kata “Allahu Akbar” yang sejatinya harus diucapkan dengan penuh kerendah-hatian, dengan ke-khusyukan dan kehambaan diri di hapadan Allah Swt, tetapi ketika disuarakan dengan nada tinggi dan dibahasakan dengan gestur tubuh yang kasar, maka sudah barang tentu, kalimat “Allahu Akbar” nilai, pesan dan kesannya akan berubah. Kalimat agung itu di mata publik akan identik dengan rasa amarah dan dendam.

Sebab, bila diumapakan kita ini kenek bis atau mobil, kita tidak akan bisa menarik simpatik calon penumpang, bila cara dan bahasa kita mengajak calon penumpang dengan kasar, penuh amarah dan dendam.

Tentu calon penumpang, bukan akan mendekat tetapi sebaliknya akan menjauh. Cara santun, lemah lembut dan indah adalah bahasa yang diajarkan Allah Swt, ketika kita hendak menyampaikan pesan kebaikan, melalui firman-Nya :

Fabimaa rahmatin minallahi linta lahum walau kunta fazh-zhan ghaliizhal qalbi laanfadh-dhuu min haulika faa’fu ‘anhum waastaghfir lahum wasyaawirhum fiil amri fa-idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallahi innallaha yuhibbul mutawakkiliin.

 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Qs. 3 ; 159).

Kita belajar dari Rumi, betapa kemasan pesan kebaikan tetap saja harus dilakukan dan disampaikan dengan cara dan bahasa lemah lembut yang baik. Sehingga, perwujudan Islam rahmatan lil ‘alalamiin (rahmat bagi sekalian alam) : islam sebagai pesan nilai untuk alam ini benar-benar “membumi”, yang kehadirannya di manapun dan di tengah golongan apapun, tetap membuat suasana nyaman, damai dan sejuk, bukan malah sebaliknya.

Semoga kita tidak menjadi si Muadzin yang ceroboh–meskipun yang disuarakan itu kumandang adzan—panggilaan shalat bagi kaum muslimin dan muslimat.**

Ponpes La Roiba – Muaraenim, 2021

*) Penulis adalah Pendiri & Pimpinan Ponpes Tahfidz & Dakwah La Roiba Muaraenim – Sumatera Selatan





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster