Rindu kami Pada Sekolah : Senandung Guru di Masa Pandemi Covid-19

 68 total views,  10 views today

Oleh Reno Syah Putra, S. Pd, Guru BK SMA PGRI 2 Palembang

Meningkatnya jumlah penularan Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di beberapa kota besar.

Jauh sebelum PPKM, pada 31 Maret 2020, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020, yang mengatur pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap COVID-19, yang memungkinkan pemerintah daerah untuk membatasi pergerakan orang dan barang masuk dan keluar dari daerah masing-masing, asalkan mereka telah mendapat izin dari kementerian terkait (Kementerian Kesehatan)

Peraturan tersebut juga menyebutkan, pembatasan kegiatan yang dilakukan paling sedikit meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan atau pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

Bila menilik pemberlakukan PSBB dan kini PPKM, praktis rentang waktu yang demikian panjang, berimbas terhadap dunia pendidikan yang sudah lebih satu tahun. Kondisi ini kemudian memaksa anak didik berkewajiban belajar di rumah secara daring.

Foto : Net

Seperti diinformasikan sebelumnya, kebijakan belajar daring bagi anak didik di semua lembaga pendidikan, bertujuan untuk memutus mata rantai paparan Virus Corona, terutama bagi anak didik di semua jenjang. Efeknya, demikian sangat terasa betapa Pandemi Covid-19 berdampak langsung terhadap proses belajar mengajar (PBM) di semua lembaga pendidikan.

Di tengah kegalauan ini, para tenaga didik kemudian sempat mendapat angin segar. Terdengar sebelumnya, adanya rencana PBM di sekolah secara luring (tatap muka) akan segera dimulai pada 12 Juli 2021.

Namun, lagi-lagi kebijakan itu ditunda. Alasannya demi menjaga keselamatan bersama. Pemerintah tidak ingin paparan Virus Corona akan lebih meluas di lembaga pendidikan, sebagai akibat PBM secara luring.

PBM secara daring, di satu sisi mendorong anak didik dan orang tua atau wali murid dipaksa cerdas terhadap teknologi. Tak bisa dibantah, bila kemudian belajar secara daring ini tergambar jelas tentang fungsi teknologi yang sangat membantu PBM bagi anak didik dan tenaga didik.

Selain itu, melalui PBM secara daring seolah menjadi senjata ampuh membatasi ruang gerak anak didik di sekolah yang berpotensi terpapar Virus Corona.

Mengapa tidak? Sebab anak-anak didik yang biasanya bertatap muka di sekolah, kemudian mengerjakan semua tugas di rumah dengan fasilitas teknologi.

Namun kenyataan ini tetap saja menyisakan persoalan tersendiri. Baik efektifitas PBM ataupun persoalan teknis lain, yang pada kenyataannya dirasakan langsung sebagian wali murid, tenaga didik dan anak didik.

Foto : Net

Satu diantaranya transfer knowledge (transfer pengetahuan) yang selama ini dilakukan secara luring (offline) di kelas tidak berjalan sebagaimana harapan dan tujuan pendidikan.

Fungsi pendidikan yang seharusnya dapat mengurangi pengendalian orang tua terhadap anak didiknya–melalui pendidikan orang tua yang melimpahkan tugas dan wewenangnya kepada pihak sekolah, kini beralih kembali ke rumah. Nyaris semua terkembali para orang tuanya. Sementara para tenaga didik hanya bisa memberi tugas melalui daring.

Secara langsung atau tidak, sejak pemberlakuan PBM secara daring, banyak persoalan muncul, baik bagi wali murid maupun di dalam rumah itu sendiri.

Diakui atau tidak, orang tua atau wali murid yang selama  PBM di skeolah sudah menyerahkan proses pendidikan anak didiknya kepada sekolah, kini harus kembali mengeluarkan tenaga ekstra untuk mamastikan anak didiknya mendapat pengetahuan di rumah sebagaimana di sekolah.

Belajar daring juga berdampak secara psikologis bagi tenaga didik yang selama ini dapat melihat langsung gestur anak didik di setiap kelas. Sementara dengan PBM daring tenaga didik tak bisa lagi melihat gerak tubuh anak didik dalam setiap detiknya selama di sekolah.

Ada tangungjawab moral yang tercabik-cabik, ketika para tenaga didik tidak lagi bisa melihat gelak tawa anak didiknya, geliat permainan di halaman sekolah, yang sebenarnya hal itu bagian dari proses pengawasan tenaga didik terhadap perkembangan dan pertumbuhan setiap anak didik di sekolah.

 Bagaimanapun PBM di sekolah tetap menjadi kerinduan bagi para tenaga didik. Sebab, interaksi antara tenaga didik dan anak didik, walaupun tidak sepenuhnya akan bisa mengantikan peran penting sentuhan hati dari kedua orangtuanya, tetapi PBM di sekolah tetap akan menjadi bagian tanggngjawab moral para tanaga didik untuk mengajarkan nilai-nilai, adab lahir dan batin bagi anak didik, guna tercapainya tujuan pendidikan yang hakiki. Lekas Pulih bangsaku!





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster