Haji Dibatalkan, Ribuan Calhaj 1951 Telantar di Jakarta

 36 total views,  3 views today

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Calhaj menilai tak ada alasan bagi pemerintah membatalkan haji karena tak ada wabah di Arab.

Sekitar 800 calon jamaah haji (calhaj) berdemo di DPR pada 16 Agustus 1951. Pagi harinya, mereka telah berdemo di Kementerian Agama, meminta pencabutan penundaan pemberangkatan calhaj ke Arab. Mereka mengaku sudah telantar di Jakarta selama 2-8 minggu menunggu pemberangkatan.

“Kami tidak ingin pulang dari Jakarta, tetapi pulang dari Makkah,” kata Kartadiredja, calhaj dari Cianjur kepada kantor berita Aneta.

Mewakili calhaj, Kartadiredja menyatakan tak ada alasan bagi pemerintah membatalkan keberangkatan calhaj ke Arab karena ternyata tak ada wabah di Arab. Ada 9.000-an calhaj yang menunggu kepastian keberangkatan.

Menurut Kartadiredja, berlama-lama di Jakarta membuat mereka  kehabisan bekal, sehingga banyak yang menjual pakaian dan perhiasan untuk bertahan hidup. Sewaktu berangkat dari kampung halaman, calhaj diberitahu hanya akan tinggal beberapa hari di Jakarta sebelum diberangkatkan ke Arab.

Di depan para pendemo, anggota DPR Muh Yamin menilai tepat para calhaj mengadu ke DPR. Namun ia menyayangkan mereka tak menyampaikan pernyataan tertulis agar DPR bisa segera menindaklanjuti.

Menurut Yamin, kasus pembatalan pemberangkatan calhaj ini bisa berujung pada pengunduran diri Menteri Agama KH Wahid Hasyim. Perwakilan pendemo diterima Ketua DPR AM Tambunan.

Menurut Yamin, kasus pembatalan pemberangkatan calhaj ini bisa berujung pada pengunduran diri Menteri Agama KH Wahid Hasyim.

Agggota DPR dari PSII, Amelz, kepada kantor berita Aneta mengaku telah mengajukan interpelasi ketika para pendemo masih di Kementerian Agama. Usulan interpelasi itu didukung oleh Assaat Datuk Mudo, Iwa Kusumasumantri, Siradjudin Abbas, dan Rasuna Said.

Sebagai koran milik partai yang berkuasa, Masyumi, tak menghalangi Abadi mengkritik pemerintah dalam kasus haji ini. Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) dibubarkan, Masyumi adalah partai yang berkuasa. M Natsir dari Masyumi menjadi perdana menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kemudian digantikan oleh Sukiman pada April 1951.

Ada 10 ribuan calhaj pada 1951. Namun, pada 3 Agustus pemerintah mengeluarkan instruksi penundaan keberangkatan dengan alasan ada wabah “penyakit disertai demam”. Instruksi tersebut ditandatangani oleh Wakil Perdana Menteri Soewirjo, Menteri Agama Wahid Hasyim, dan Menteri Kesehatan J Leimena.

KBRI di Jeddah dan Kairo melaporkan soal wabah penyakit ini. Tak ada penjelasan lebih lanjut tentang jenis penyakitnya. Berkaca pada kolera di Arab tahun 1881, wabah itu membuat hampir 50 persen jamaah haji dari Hindia Belanda meninggal dunia. Dari 4.605 jamaah haji dari Hindia Belanda, yang meninggal akibat wabah mencapai 2.000 jamaah.

Pada 8 Agustus 1951, kapal Pulau Laut, Blitar, Eurybates, yang siap berangkat  tak boleh berangkat ke Jeddah. Kapal Kota Baru dan Tarakan yang sudah berangkat mengangkut 1.850 calhaj, pada 9 Agustus 1951 diminta mendarat di luar wilayah Arab.

Terjadi negosiasi, karena tak mungkin melabuhkan kapal di luar wilayah Arab dengan alasan tidak praktis dan bisa membengkakkan biaya akomodasi. Akhirnya, pemerintah membolehkan dua kapal itu menurunkan jamaah di Jeddah.

TEKS : REPUBLIKA.CO.ID

loading…




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster