Eksistensi Kritikus dan Karya Sastra

 137 total views,  1 views today

MENGAPA penulis sastra (penyair, cerpenis) terkadang tersulut emosi ketika karyanya dikritik seorang kritikus? Padahal apa yang sitelaah si pengeritik kontensnya baik dan benar. Barangkali dari landasan inilah perlu ada kebijakan di diri kita untuk menyikapi masalah itu.

—————–

Seperti sudah diketahui sebelumnya, karya sastra yang baik memang harus didampingi kritikus sastra yang baik. Tak hanya mendampingi, tapi sang kritikus selalu memberikan hasil telaah yang tajam, benar dan hasilnya dilakukan sesuai kaidah.

Apakah salah jika seorang kritikus sastra melakukan tugasnya untuk menelaah karya tulis seseorang?

Menurut saya tidak. Sebab antara karya dan kritik merupakan rangkaian aktifitas yang saling berkaitan. Bahkan satu dengan yang lainnya sangat membutuhkan ruang dan fungsinya masing-masing.

Seorang kritikus tidak akan berfungsi apabila tidak ada karya yang ditelaahnya. Sebaliknya, seorang penulis (penyair dan cerpenis) sangat membutuhkan sentuhan kritik dari kritikus agar memperoleh hasil karya yang berkualitas.

Sebenarnya, selain menulis, semua kita bisa menjadi kritikus sastra. Seperti yang dikemukakan Narudin Pituin, baca lagi sejarah piskologi, serta memahami nilai enjamben di dalam satu karya puisi.

Mengapa kita semua bisa menjadi kritikus sastra? Nah, pertanyaan ini sesungguhnya sangat menarik.

 Seperti kata Xenophanes dan Heriticlus yang mengeritik tajam seorang punjangga besar Yunani, Hemorus, “Saudara jangan merasa hebat dan besar. Sebab kami bisa menelanjangi karya Saudara yang dikagumi banyak orang tersebut”.

Dengan mempelajari prikologi sastra dan psikologi manusia, sejarah serta nilai-nilai bahasa yang digunakan,  Xenophanes dan Horiticlus mampu memberikan nilai terbaik bagi karya telaah kritiknya. “Semua orang bisa menjadi kritikus sastra, tergantung hobi atau tidaknya orang tersebut terhadap karya sastra,” ujar Xenophanes.

Karya Homerus saat itu mengungkap ketidaksenonohan para dewa Yunani. Dari sinilah menjadi pemikiran Plato terkait pertentangan purba antara puisi dan filsasfat.

Terkait masalah itu, Aristoteles mengeritik habis Euripides yang menulis sastra, hanya menjunjung tinggi nilai seni, tapi tidak membubuhinya dengan nilai-nilai sosial.

Kemudian Aristoteles menulis buku tentang seni sastra yang mulai menemukan bentuk berjudul “Poetica”. Pada saat yang sama, Plato juga menemukan tiga poin penting terkait karya sastra yang baik.

Pertama memberikan ajaran moral (akhlak) yang tinggi, memberi keindahan dan kenikmatan serta memberikan ketepatan dalam bentuk pengungkapan karya sastra sesuai tujuan karya secara intensif.

Karena itu Kaspar Shopp (1576-1649) setuju dengan membuka ruang bagi kritikus sastra untuk menganalisis dan melelaah kecacatan karya, baik dalam bahasa Yunani atau bahasa Latin.

Dari tuturan di atas, sesungguhnya jiwa seorang kritikus tidak memiliki kepentingan lain,  selain melalukan tugasnya secara kaffah.

Itu artinya, ketika seorang kritikus melakukan telaah terhadap karya penulis, meski ia memiliki keleluasaan ekspresi, namun dirinya dibatasi moral atau akhlak yang baik sebagai nilai sosial kemanusiaannya.

Plato menyatakan, aklak atau moral yang baik bisa nelahirkan telaah yang baik pula. Meski ia bertugas menelanjangi karya seseorang, tapi ia berusaha keras untuk tidak menelanjangi perasaan penulisnya.

Sebab sastra tak hanya menganut sistem keindahan semata, tapi berusaha untuk memperindah perasaan penulisnya sebagai ungkapan sosialisasi kemanusaan (etika moralitas).

Di Indonesia, sastra itu ditulis berdasarkan ide dan gagasan penulisnya dari tiap pulau. Sedangkan bahasa yang digunakan bahasa Melayu. Sedangkan bahasa Indonesia hanya sebagai turunan bahasa Melayu dari daya ungkap masalah yang ditulis penyair atau cerpenis.

Karena itu penting bagi seorang kritikus untuk menguasai ilmu sejarah, biografi, latar belakang kesastraan,  penciptaan karya sastra, seni sastra serta moralitas kemanusiaan sebagai daya ungkap ilmu sosial kemasyarakatan.

Kritik sastra sangat memungkinkan untuk melakukan analisis telaah,  diklasifikasi yang kemudian diberikan penilaian edukasi (apresiasi sastra).

Sebenarnya, masyarkat sastra (baca penulis)  berharap agar karyanya yang dianalisa seorang kritikus, ada baiknya diapresiasi dengan daya ungkap yang baik.

Artinya, ketika ditemukan ada kosa dan fungsi kata yang kurang baik, ada cara yang paling santun untuk diungkap dengan bahasa yang santun.

Atau kalau terjadi perdebatan dengan pemilik tulisan (puisi atau cerpen), ungkap dengan cara yang tidak menggores luka ke pada di penulis.

Menurut Nafron Hasjim dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,  cara yang baik bagi kritikus untuk menyampaikan hasil telaahnya, sebaiknya ditutur dengan nilai bahasa terdidik (Analisis Kebudayaan : PN Balai Pustaka Jakarta — diterbitkan Gunung Jati Jakarta 1983).

Dengan daya ungkap yang santun, dapat mencerminkan budaya nusantara yang dapat menumbuhkan kepribadian nasional (cultural identity).

Dalam hubungan kritik dan sastra dalam alur kebudayaan di Minangkabau, filsafat orang Minang bersumber pada ajaran alam.

Karena itu nilai budaya, perilaku dan sikap yang dianut “urang awak” terjabar dari kelaziman Alam Takambang Jadi Guru (alam terkembang menjadi guru).

Ajaran ini memberi tafsiran bahwa kedudukan setiap orang dan setiap kelompok, sama dan apa adanya. Karena itu ketika seorang kritikus menyampaikan hasil telaahnya, perlu diungkap (perbaikan) dengan penyampaian yang santun.

Menurut HB Jassien, seorang kritikus sastra Indonesia, sebelumnya hidup dan  tidak terlepas dari tradisi masyarakatnya.

Karena adat istiadat yang melingkupi kehidupan di sepanjang hidupnya, akan memberi sinyal siapa dia sebenarnya.

Karena hakikat apresiasi karya sastra tidak terlepas dari sikap dan perilaku si kritikus seperti yang dikatakan Plato (nilai moral dan sosial kemasyarakatan).

Jadi wajar apabila terdapat sentuhan moral ketika terjadi telaah sastra atas kritikan, indikasinya adakah bahasa (kata yang baik).

Apabila kata yang diungkap sesuai adat istiadat,  maka penulis akan menerima.kekurangannya dengan hati legowo.

Saya yakin, kita semua paham bahwa saatra berasal dari bahasa Sansekerta, shastra. Sebagai kata dari bahasa asing (India),  kontens sastra mengandung pedoman atau instruksi. Karena itu nilai tertingginya memiliki arti ajaran (pengajaran) atau instruksi yang baik dan santun.

Tentu saja akumulasi dari semua itu terdapat kaitan adat istiadat dan akhlak manusia. Karena banyak yang berharap agar hasil telaah sastra (krtikan) itu diungkap dengan ucapan santun dan tidak melukai perasaan.

Jadi jelas, jika karya seorang sastrawan habis dikukiti kritikus, yang muncul adalah sakit hati, benci dan tidak suka karyanya (harga diri) ditelaah dengan bahasa menyakitkan.

Karena itu kita berharap, si pengeritik (di Indonesia) bisa mempertimbangkan kebiasaan sehari-hari karya seorang penulis yang ditelaahnya.

Sebab tidak sedikit penulis merasa bahwa karyanya yang ia tulis dari hasil pengalama, ide dan gagasan itu merupakan “harga dirinya”.

Karena itu ketika ada pengeritik yang mencoba mengalisis dan menelaah dari berbagai alur ilmu pengetahuan, ia menjadi tersinggung dan marah besar. Karena hasil telaah yang diungkap ke pada penulisnya, disampaikan dengan bahasa kasar dan tak simpatik.

Perlu diingat bahwa sastrawan di Indonesia ini hidup di alam tradisi yang heterogen (berbeda-beda). Jika pengeritik menganalisis dengan bahasa yang berada di luar adat istadatnya, si penulis akan tersinggung.

Meski hasil telaah itu dianalisis dengan struktur nilai kesastraan yang benar, namun karena bahasa yang diungkap lebih banyak “melecehkan” kontens karya tersebut, ternyata secara sosial kemasyarakatan, hasilnya buruk dan menyakitkan perasaan.

Karena itu sastrawan membutuhkan kritikus sastra yang tegas dan cerdas, sembari memperhatikan tradisi masyarakat si penulis. Dengan demikian usaha yang dilakukan kritikus tidak memenuhi harapan banyak pihak.

Dalam kondisi sastra Indonesia mutahir, tuturan Roland Barthes dalam bukunya “Penulis Mati Setelah Karyanya Tercipta” ternyata sudah diabaikan.

Dalam kaitan itu, penulis dalam kesendiriannya ternyata “menolak mati”. Dengan sikap keras kepala ia justru memilih tetap hidup untuk mempublikasikan karyanya ke masyarakat.

Bahkan secara terus-menerus ia muncul di depan umum untuk menyosalisasikan karyanya. Inilah masa lampot sorot tertuju ke pada sastrawannya, ketimbang karya yang berdekatan jarak dengan kritikus sastra.*

Tirta Bening, 21 Februari 2020





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster