Dapunta Hyang

 877 total views,  1 views today

Esai Conie Sema

Dapunta Hyang muncul kembali dalam peta modern Silkrouter yang terekam dari langit Nusantara. Wajahnya penuh spot kolase sejarah samudera. Membentang dari utara sampai pesisir tenggara Asia.

“Kami Cina, Arab, Parsi dan India. Kami berlayar sepanjang riwayat lautan!” teriak Dapunta dari garis pelayaran Jalur Sutra maritim. Di mana darat dibaca sebagai lautan.

Kapal-kapal niaga berlayar pada musim dingin. Memuat barang dagangan dijual untuk musim panas. Dari pesisir Asia Timur, seorang lelaki berkebat kain di kepala, membacakan puisi-puisi Li Bai, sambil menenteng buku tua Kaisar Tang Xuanzong. Begitu hikmat.

“Oh, kau orang-orang benua, selamat datang di Asia Tenggara,” sapa Dapunta. “Dari pesisir timur Sumatera, kami menunggu tiba burung-burung Siberia. Ya, sebentar lagi musim dingin.

” Kapal-kapal menurunkan barang-barangnya ke kapal Sriwijaya. Mereka silih berganti merapat ke selat Malaka.

Di dermaga umpan menuju tol laut, Dapunta Hyang menitipkan kenangan bahari dalam rak buku dipenuhi biografi lautan. Meletakkannya bersebelahan dengan antologi puisi pujangga Li Bai.

Meski tak bertanda waktu. “Ini sebuah geopolitik perdagangan, bukan buku sejarah yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara, Kepulauan Indonesia, anak benua India, Semenanjung Arab, hingga ke Mesir dan ke ujung utara Eropa,” tulis Dapunta.

Jalur pelayaran terus berkembang antara abad ke-2 SM hingga abad ke-15 Masehi. Sebuah rute maritim perdagangan Asia Tenggara.

Sejarah memang menarik dibuat zigzag. Dapunta Hyang lalu mengirim pesan-pesan budaya dari Sang Budha Agung. Khotbah-khotbah manusia dan alam.

Sebagaimana Dapunta menulis pesan kehidupan untuk rakyatnya melalui prasasti tembikar Talang Tuwo.

Tentang sebuah taman yang harmoni, Taman Sriksetra. Seperti genta Budha, gaungnya melayang dari Asia Tenggara, Tiongkok, Timur Tengah, sampai Eropa.

“Datanglah ke negeri kami, Sriwijaya. Bawa dan kenalkan budaya dan agama kalian pada kami,” ajak Dapunta.

Ramailah, perdagangan rempah, perdagangan Samudra Hindia, dan setelah abad ke-8, jaringan perdagangan laut bangsa Arab.

Jaringan tersebut juga membentang ke timur, ke Laut China Timur dan Laut Kuning yang menghubungkan Tiongkok dengan Semenanjung Korea dan Kepulauan Jepang.

“Untuk menjadi bangsa yang kuat, berlayarlah dengan ombak dan badai. Terbanglah bersama camar dan cahaya langit. Untuk menjadi makmur dan sejahtera, jadilah manusia bahari,” teriak Dapunta.

Jalur Sutra (Silkrouter)

Lima tahun lalu, seorang lelaki asal County Fuping, bernama Xi Jinping tiba di dermaga Sriwijaya. Ia disambut orang-orang Dapunta Hyang. Di hadapan orang-orang itu, ia membuka peta Jalur Sutra masa kini.

Menjelaskan secara rinci jalur dan poros maritim di lintasan laut kawasan Asia Tenggara. China “One Belt One Road” inilah semboyan baru Jalur Sutra modern, kata lelaki yang pernah menjabat Sekjen Partai Komunis Tiongkok itu.

Jinping begitu bernafsu ingin menjadikan Tiongkok pusat konektivitas seluruh dunia, melalui peta Jalur Sutra modern itu. Ia lalu menggelar Road Forum For International Cooperation di negaranya.

Mengundang para pemimpin dunia, termasuk Presiden Joko Widodo dari Indonesia. Ia menggelontorkan dana US$124 miliar, sekitar 1.645 triliun rupiah, untuk membiayai Jalur Sutra modern itu.

Dengan target perdagangan Tiongkok terkoneksi dengan Asia, Afrika, dan Eropa. Tidak hanya melalui pelabuhan laut, tetapi juga jalur darat –perkeretaapian dan jalan, juga jalur udara.

Jinping juga menyiapkan lembaga keuangan China Development Bank untuk mengalokasikan ribuan triliun rupiah guna memfasilitasi berbagai megaproyek tersebut. Mereka merangkul Malaysia, membangun pelabuhan di Malaka. Mendekati Singapura, Indonesia, untuk memiliki akses dominan pelabuhan.

Skema Jalur Sutra modern itu terus bergerak melintasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tetapi sayang di dermaga Sriwijaya, Xi Jinping tidak bertemu Dapunta Hyang.

Ia hanya diterima dan dijamu orang-orang yang membaca bahari sebagai daratan. Orang-orang yang hilang dari tradisi peradaban kepulauan Nusantara. Orang-orang yang melihat laut dan bentang alam sebagai pusat kemakmuran dan kekuasaan manusia.

Orang-orang melayu yang mengalami determinasi budaya menjadi kontinental, terjajah sebagai manusia kebudayaan yang kehilangan rujukan material dan spiritualnya.

Pagi ini, Dapunta berharap bertemu Jinping. Ia membuka peta tol laut Indonesia. Tetapi tak berjumpa Jinping. Dapunta malah bertemu pujangga Li Bai. Dapunta menolak tawaran minum arak.

Ia tak mau ikut mabok oleh puisi anak muda dari perguruan Taoisme itu. Li Bai memang dikenal penyair yang terinspirasi menulis puisi setelah minum arak. Du Fu, seorang penyair kontemporer Tiongkok pernah menulis tentang Li Bai di puisinya Lagu dari Delapan Dewa Pemabuk:

Li Bai, menantang orang lain untuk minum, menciptakan
seratus sajak,

Tidur di antara jeruji Chang-an,

Bahkan jika kaisar memanggil dia untuk naik kapal
ia tidak menghiraukan,

Menyebut dirinya maha peminum yang abadi.

Di dermaga terakhir sore itu, perahu kecil terlihat terombang-ambing digoyang gelombang kapal-kapal besar yang melintas di tol laut Nusantara. “Ini poros maritim baru.”

Dapunta lalu mengumpulkan beberapa puisi Li Bai. Ia bertemu para pesastra, pujangga, dan kaum intelektual Nusantara. Mereka tengah sibuk berkontestasi menentukan calon pemimpin negerinya.

“Terlihat betul, mereka semua ingin bahagia,” bisik Dapunta sembari tersenyum sendiri.

Dapunta menyelipkan puisi “pemabuk” itu ke buku tuanya. Ia berpikir, jika para cerdik pandai negerinya meninggal dunia di Jalur Sutra, jenazahnya jangan ditenggelamkan ke laut.

Mereka harus dilemparkan ke suatu tempat bernama pemakaman langit atau alam terbuka. Agar mereka percaya bahwa puncak kehidupan manusia adalah berbuat kebaikan bagi semesta jagat raya ini. Hingga akhir hayatnya. Biarkan di alam terbuka burung-burung memakan tubuh mereka. ***





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster