Mencuci Kaki Ibu, Sigit Menggantang Nasib

 1,073 total views,  4 views today

Sigit Amiseno, dari jual kodok sampai jadi Pemilik Usaha Model “Pakde Slamet” Palembang

Dia berasal dari keluarga anak transmigrasi di Pematang Panggang, Lempuing, Ogan Komering Ilir. Pahit manis getirnya hidup ia alami sejak kecil. Makan dengan nasi tiwul, sekolah dasar pun ia tak tamat. Beruntung tak buta huruf dan pandai berhitung.

Adalah Sigit Amiseno yang kini berkisah pelbagai kisah persingahannya demi sebuah kehidupan yang laik. Bagai Sigit alias Slamet menggantang nasib di tengah himpitan kemiskinannya? Pekan silam di kediamannya, Imron Supriyadi, Taufik Usman dan Suterisno, dari Tim KabarSumatera, berbincang dan menguntit pemilik brand Model Slamet ini. Petikannya;

“Luar biasa prihatinnya hidup yang saya jalani. Saya terlahir dari keluarga transmigrasi di Pematang Panggang, Lempuing. Soal pendidikan, SD pun saya tak tamat. Alhamdulillah, saya tak buta huruf. Jadi kalau kemana-mana, saya tahu berapa harga tiket bis,’’ kelakar Sigit Amiseno yang hijrah ke Palembang awal 2009 silam.

Sigit sedang membuat Gerobak untuk Model Slamet (Foto.Dok.Pribadi/Sigit)

Jauh sebelum merantau ke Kota Pempek, Sigit bahkan pernah menjalani profesi sebagai kenek mobil angkutan umum. Sekitar 1994, Sigit berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah lewat angkutan jurusan Palembang-Kayuagung-Belitang-Rajabasa. “Dulu mobilnya saya itu mobil Tin-Tin. Aku sampai hafal bagaimana jembatan Kertapati,” kisahnya.

Jual Kodok

Kata pepatah; banyak jalan menuju Roma. Kendati hanya seorang kenek jasa angkutan antar kota, namun keuletan Sigit dalam menambah penghasilan kali itu benar-benar nyata. Sembari bekerja menagih ongkos angkutan, Sigit mencoba menjalani usaha sampingan sebagai pencari kodok salkon di kawasan Tanjung Raja. Kodok-kodok yang dicari itu, lalu dikumpulkan dan ia jual ke orang Cina yang tinggal di Palembang.

“Biasanya saya nyari kodok sehabis Magrib hingga Subuh. Pagi-pagi kodok itu saya bawa ke rumah Yuk Yana di 10 Ulu. Kebetulan suaminya pengumpul kodok salkon. Per kilogram dibeli seharga Rp 12 ribu,” ujar Sigit yang menikah di usia 22 tahun.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini berkisah, sekian lama dia gawe di jasa angkutan. Namun akhirnya Sigit tertantang untuk merambah ke perkebunan karet. Di awal 2008, ia memutuskan jadi pengumpul getah karet. Bermodalkan selembar sertifikat tanah sebagai agunan, Sigit pun coba meminjam suntikan dana segar Rp 100 juta dari sebuah Bank ternama.

Sigit Amiseno dan isteri
Sigit Amiseno bersama isteri dan putra-putrinya (Foto.Dok.Pribadi/Sigit)

“Berapa tahun jalan. Ternyata semuanya meleset. Dana saya habis. Pelajaran yang saya dapatkan rupanya bermain di pengumpul getah karet, banyak bohongnya. Timbangan bahkan jadi sasaran permainan,” ujarnya.

Tahun 2009, harga-harga komoditi perkebunan terasa semakin semraut. Kondisi itu berpengaruh pula pada cicilan pinjaman Sigit ke perbankan. “Karet hancur lagi. Waktu itu cicilan Rp 6 juta selama dua tahun. Saya benar-benar merasa jatuh nian. Terseok betul nasib saya waktu itu,” nada Sigit merendah.

Untuk menutupi tumpukan hutangnya, Sigit terpaksa merelakan kebun karetnya seluas 2 hektar terjual. Belum lagi tanah pekarangan rumahnya seluas ¾ hektar dan lahan seluas ¼ hektar juga ikut berpindah tangan ke orang lain. “Ingat nian saya harga karet waktu itu Rp 15 ribu per kilogram. Rasa-rasanya saya diuji oleh Gusti Allah,” ucapnya.

Waktu itu, kegelisahan hidup Sigit makin berpuncak. Seketika ia coba berbisik ke istrinya dan berkata ‘Dik, aku bukan orang yang baik untuk anak-anak dan istriku’.  Toh, istrinya masih tetap bersabar dan tegar menghadapi apa yang sedang mereka alami.

“Tinggal rumah ini saja yang bersisa. Almarhumah Ibu saya pernah berpesan: Nak, jangan sampai dijual rumah ini. Beliau ngomong. Cakmanopun jangan sampai rumah ini dijual,” Sigit coba memerlihatkan peninggalan warisan sang Ibundanya.

Merantau dan Rumput Gajah

Kejatuhan Sigit masih berlanjut. Tak ingin menjadi beban yang berkepanjangan untuk keluarga, Sigit lantas mencoba mencari peruntungan ke tanah Jawa. Ia berkelana dari Magelang, Jogyakarta, sampai Kebumen. Kerja apa saja yang penting bisa untuk menyambung hidup.

“Stres? Tetap ada di benak saya. Saat tinggal di Kerang Batu. Saya diajak ambil rumput gajah untuk ternak sapi oleh kawan. Saya waktu itu tidak ada gaji, yang penting bisa makan.  Saya di Jawa, sedangkan istri di Sumatera. Kebetulan saat itu istri saya kerjanya nyadap karet dengan gaji berbagi tiga. Kalau dapat Rp 30 ribu, artinya masing-masing dapat uang Rp 10 ribu,’’ sambung Sigit.*

Es Dahulu, Model Kemudian

Empat bulan lamanya Sigit mengubah nasib di tanah Jawa. Namun, tak ada perubahan yang berarti. Satu waktu ia berpikir untuk kembali ke Sumatera. Dia bahkan pernah kehabisan ongkos di tengah jalan ketika menuju ke provinsi ini.

Dua Gerobak Model Slamet yang sedang membuka di Palembang (Foto. Dok.Priabdi/Sigit)

“Di Magelang waktu itu, ongkos saya habis. Bus itu hanya sampai Jambi. Padahal kan saya mau ke Betung. Untungnya sopir Bus ngerti dengan keadaaan saya. Sebuah handphone jadul saya kasihkan ke sopir tadi. Ya, hitung-hitung sebagai jaminanlah,” kisah Sigit yang lahir di Pematang Panggang 10 Oktober 1975.

Tim Kerja Model Slamet berfoto bersama di depan Gerobak Model tempat mereka berjualan

Dan, sesampainya di Betung, Sigit sempat makan siang di warung Sate Mir Senen. Merasa kasihan, akhirnya Mir Senen lalu memersilakan Sigit untuk jualan es doger. “Alhamdulillah saya dikasih jalan terbaik. Saya berjalan sampai lima kilometer untuk berjualan es memakai gerobak. Ternyata es yang saya jual enggak laku-laku,” ujarnya.

Hari-hari Sigit ketika di Betung tak banyak berubah. Berjualan es doger tak lama. Sigit kemudian memutar otaknya beralih ke usaha lain. Kali itu, ia berniat jualan kuliner model saja. Guna menambah ilmu dan pengalamannya tentang kuliner model, Sigit berupaya mempelajarinya serta mendalami ilmunya ke daerah 9 Ilir Palembang.

Lokasi Model Slamet di Palembang Milik Sigit Amiseno

“Di situlah awal saya jalani usaha model. Belum ada pengalaman sama sekali, model itu tekwan itu apa? Gusti Allah kasih jalan terbaik. Saya jualan di Betung belajar cara membuatnya di Palembang,” kata suami dari Luluk Idasanjaya ini.

Awal-awal 2009, Sigit berniat membuka usaha modelnya di Palembang. Buru-burulah ia membawa gerobak miliknya yang sebelumnya mangkal di Betung.

Model Slamet-Menu yang menjadi andalan

“Nah, begitu masuk Palembang, saya ngontrak rumah di seputaran BLPT di Jalan Angkatan 66. Kala itu aku mangkal persis di depan Dealer Daya Cipta. Entah kebetulan, pelanggan saya itu karyawan di dealer tersebut. Dan, setiap mereka pesan model, selalu panggil saya Pakde Slamet. Dari situlah awal nama model Pakde Slamet,’’ ia menjelaskan.

Nama model Pakde Slamet lambat-lambat mulai dikenal banyak pelanggan. Uang hasil berjualan model, ia coba sisihkan demi berkembangnya usaha. Tidak semata untuk memodali bahan baku, namun Sigit juga memersiapkan beberapa gerobak. “Prinsip saya, kita hanya butuh mesin yang ini. Saya pelajari, lama-lama saya bisa membuatnya. Alhamdulillah sekarang sudah puluhan gerobak yang beroperasi,”  tutur ayah dari Gitaistiani, Reze Agustina, Muhammad Khairul Anam, Bayu Airlangga ini.

Mencuci Kaki Ibu

Sigit Amiseno sedang memandikan ibunya

Sigit tak hirau dengan sejumlah perdebatan tentang wajib dan sunnahnya mencuci kaki ibu. Baginya, mencuci bahkan memandikan ibu, bagi Sigit menjadi bagian ketaatannya kepada perempuan yang telah melahirkannya. Diantara badai hidup yang terus mendera, Sigit tersadar tentang dirinya yang tidak banyak mengetahui tentang agama.

“Saya tidak banyak tahu tentang agama. Tapi isteri saya yang banyak mengajari agama anak-anak,” ujarnya.

Tapi ketika kemudian Sigit harus mencuci dan menadikan kaki ibunya, menurut Sigit hal itu sebagai pintu pembuka rizki bagi semua bisnis yang mengalami jatuh bangun.

Dalam hadits disebut ; “Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain” (Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua).

Bukan karena kemurkaan, bukan pula dosa pada kedua orangtuanya, bila kemudian Sigit harus mengajak semua anggota keluarganya bersimpuh di depan ibunya. “Semua saya ajak bersimpuh dan meminum air cucian kaki ibu saya. Isteri dan anak-anak saya juga,” kisahnya.

Meski tidak melesat bagai roket, namun pendaran rejeki Sigit terus mengalir, dan sampai batas waktu yang tak diketahui…**





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster