Ramadhan Momentum Keluar dari Krisis

 9,933 total views,  104 views today

Oleh : H. Yuswar Hidatullah, S.IP, M

Ramadhan tahun ini, memasuki tahun ke dua, dari Pandemi Covid 19. Dampak Pandemi ini, selain Krisis kesehatan, juga Krisis Ekonomi, dan berdampak tidak kecil pada  bidang-bidang lain. Hal ini dikarenakan pembatasan gerak manusia, agar Pandemi Covid 19 ini tidak semakin mewabah.

Dalam Ramadhan tahun ini, seiring dengan program vaksinisasi, dimulainya pembukaan pembelajaran sekolah terbatas, sektor sektor lain juga mulai bergerak. Momen Ramadhan juga didorong untuk terwujudnya pertumbuhan ekonomi, dengan tradisi umat Islam dalam menyambut bulan Suci dan Lebaran.

Namun ada nilai-nilai penting yang diajarkan dalam Ramadhan, yang seharusnya djadikani gelombang nilai, sehingga bangsa ini, bisa lebih cepat keluar dari krisis.

Pertama, Ramadhan mengajarkan agar kita melakukan kontemplasi, melakukan perenungan dengan sungguh-sungguh. Merenungkan dalam rangka muhasabah, melakukan evaluasi baik secara pribadi, masyarakat, dan berbangsa.

Melakukan evaluasi, sudah sejauh mana kebaikan serta keburukan pada semua aspek kehidupan, dari program penanggulangan krisis, dampak dari Covid 19. Muhasabah dalam berbangsa, sudah sejauh mana kita mencapai cita-cita nasional, dari pengaruh krisis.  Apakah sudah sesuai,  semakin jauh atau terpuruk, dari Cita-cita Nasional itu.

Cita-cita nasional, dalam konstitusi kita: “..melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”.

Muhasabah adalah merenungkan, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan. Lebih jauh dari itu bersifat solutif, menyusun rencana dalam rangka perbaikan ke depan (hari esok).

Anjuran bermuhasabah dalam Al-Quran surah Al Hasyr ayat 18.  “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka keluar dari krisis, yang diramalkan bisa berkepanjangan, jika kita tidak bersatu dalam menghadapi dampak Pandemi ini.

Oleh karenanya, Yang kedua, Ramadhan mengajarkan kita kepada satu tujuan bersama. Ramadhan menanamkan nilai-nilai persatuan dalam niat, serentak imsak, bersama berbuka puasa, bersama dalam teraweh, tadarus dan lain-lain.

Dalam Ramadhan nilaii kebersamaan (berjamaah)  sangat terasa. Kita saksikan dampak  Pilpres, Pilkada, atau dukungan masih berdampak pada persatuan kita dalam berbangsa.

Energi dalam berbangsa  jangan sampai terkuras, menghadapi perselisihan pilihan. Arahkan energi bangsa ini dan semua.masyarakat pada Cita-Cita besar.  

Dalam awal Abad 20, bangsa ini bersatu dalam cita-cita yang kuat, yaitu “Indonesia Merdeka”. Dan puncaknya terjadi di bulan Ramadhan, yaitu Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H.

Perlu sebuah tujuan besar yang dapat menyatukan Bangsa ini dengan semangat kolaborasi semua elemen, yaitu menjadikan Indonesia masuk dalam 5 kekuatan besar dunia. Sehingga menjadi bangsa yang disegani dan berpengaruh besar di dunia, sehingga terlibat dalam percaturan dunia.

Dengan persatuan dan tujuan besar bersama, dapat mempercepat kita keluar dari krisis, dan bahkan mewujudkan cita-cita nasional kita.

Yang ketiga, menahan diri.  Dalam bulan Ramadhan diperintahkan berpuasa atau Saum (menahan diri) dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.

Semangat menahan diri, untuk taat, merasa diawasi membutuhkan kesadaran pengendalian diri, tidak melampaui batasan yang telah diatur, sehingga tetap dalam jalan yang benar. Terjadinya pelanggaran aturan, perselisihan, karena melampaui batas. Kita akan sulit keluar dari krisis jika yidak mampu menahan diri.

Pandemi virus Corona, bukan Cuma persoalan kesehatan dan kemanusiaan. Pandemi ini juga menimbulkan masalah sosial-ekonomi. Kalau ini tidak ditangani dapat mengganggu kestabilan politik.

Dampak sosial-ekonomi, ketimpangan antara si kaya dan si miskin kian lebar. Ketimpangan yang diukur dengan gini ratio meningkat, pertanda bahwa jurang pemisah si kaya dan si miskin semakin jauh.  

Bulan Ramadhan dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketimpangan ini. Maka, yag keempat, Ramadhan bulan kepedulian sosial. Rasulullah SAW, dalam bulan Ramadhan ini lebih cepat dan banyak dalam sedekah. Semangan berbagi, memberi, meringankan ekonomi masyarakat.

Dalam Hadits Riwayat At-Turmidzi dari Anas.

“Sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” .

Tujuan puasa Ramadhan, adalah Taqwa. Krisis akan cepat kita lewati jika adanya nilai Taqwa dalam setiap lapisan kepemimpinan di Bangsa ini. Kita membutuhkan warga yang semakin taqwa, dan pemimpin memberikan dorongan serta keteladanan dalam Taqwa. Salah satunya dengan mengisi bulan Ramadhan ini dengan semangat ibadah, sehingga menjadi momentum mempercepat keluar dari krisis dampak dari Pandemi Covid 19. InSyaAllah.**





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster