Metode “Serang Hindar” Hanya Ada di Perisai Diri

 548 total views,  1 views today

PALEMBANG |  KSOL –  Bagi sebagian orang, metode “Serang Hindar”  mungkin agak asing. Tetapi bagi para pesilat, terutama di Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Perisai Diri, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “PD” metode “serang hindar” bukan hal aneh. Sebab metode “serang hindar” adalah kewajiban bagi para anggota PD di seluruh dunia.

Ketua Umum PD Sumsel, H Zukfikar Ali Fajri, S. Ag, M. Si, mengatakan metode “Serang Hindar, adalah metode yang tidak ditemukan dalam beladiri manapun di dunia, ujar Zulfikar, mengutip nukilan sejarah tentang PD.  Munculnya metode serang hindar ini berdasar pada motto PD “Pandai Silat Tanpa Cidera” yang kemudian serang hindar menjadi metode latihan praktis di Kelatnas PD di seluruh dunia.

Dibekali Pedoman Tehnik

Zulfikar yang kesehariannya sebagai Penghulu KUA Alang-Alang Lebar ini menjelaskan,  dalam latihan Serang-Hindar, setiap anggota dibekali dengan pedoman tehnik untuk menyerang dan menghindar dengan ketentuan yang baku dan ilmiah.

Para Pesilat PD sedang latihan Serang Hindar

Melalui metode itu, Zulfikar menjelaskan setiap anggota mampu menerapkan gerak menyerang dan menghindar dalam posisi sesaat, ketika berhadapan atau berdekatan dengan lawan tanpa harus merubah posisi tubuh.

Lebih lanjut, Zulfikar mengungkapkan metode latihan Serang-Hindar juga melatih mental pesilat dalam menghadapi situasi apapun  dan sigap dalam mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi.

“Pada akhirnya, metode ini dapat membentuk sikap dan karakter pribadi yang berfikir cepat dan bertindak tepat serta antisipatif,” tambahnya.

Selain itu, Zulfikar menjelaskan  metode Serang-Hindar akan mewujudkan semangat saling asah, asih dan asuh. Sebab menurutnya, masing-masing berusaha mempraktikkan gerakan yang benar dan tidak saling mencederai.

Bila kemudian akan mengenai sasaran sebagai akibat terlambat menghindar, maka diarahkan ke bagian tubuh yang tidak berbahaya. “Ini hanya sekedar mengingatkan, kalau yang bersangkutan lambat atau salah bergerak,” ujar Zulfikar di sela-sela latihan rutin di Balai Diklat Keagamaan  (BDK) Palembang, belum lama ini.

Kembangkan dan Bangkitkan Kejayaan

Ketua Umum PD Sumsel, H Zulfikar Ali Fajri, S. Ag, M.Si (dua dari kiri), sedang berbincang dengan para senior di Balai Diklat Keagamaan (BDK) jelang latihan rutin.

Beriring dengan rancangan kepengurusan Kelatnas PD Sumatera Selatan yang sudah selesai tersusun, menurut Zukfikar jajaran Pengurus PD Provinsi Sumsel saat ini sedang menjadwalkan rencana pelantikan.

Sampai saat ini menurut Zulfikar,  Pengurus PD Pusat sudah mengirimkan SK Pengurus PD Sumsel pada tanggal 16 Februari 2021.  Setelah SK diterima, mewakili pengurus PD di Sumsel, Zulfikar berharap agar Ketua Umum Pusat PD, Dr. Ir. Dwi Soetjpto, MM  yang juga Kepala SKK Migas dapat melantik Pengurus PD di Provinsi Sumsel.

“Kami sudah mengajukan surat permohonan pelantikan ke pengurus Pusat. Harapan kami,  Pak Ketum dapat hadir dan melantik kami di Sumsel,” ujar Zulfikar.

Lebih lanjut, alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang  yang akrab dipanggil Ustadz Zulfikar ini berkeinginan, agar PD di Sumsel yang kini sedang kembali digiatkan, akan bangkit lagi dan berjaya di Sumsel.

Oleh sebab itu, sebagai bentuk motivasi bagi Kelatnas PD di Sumsel, Zulfikar mengatakan sudah beberapa bulan terakhir, PD di Palembang menggiatkan latihan rutin di BDK Palembang, setiap Ahad ba’da Shalat Ashar.

“Melalui latihan ini, kita ingin membangkitkan lagi kejayaan Perisai Diri di Sumsel, yang memang sebelumnya pernah kita raih. Semangat ini menjadi potensi yang sedang kita kembangkan lagi, agar kejayaan Perisai Diri di Sumsel bangkit kembali. Salah satunya melalui latihan rutin di BDK setiap Ahad ba’da Ashar,” ujarnya.

Sejak Usia 9 Tahun Belajar Silat

Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, Pendiri Perisai Diri

Pada kesempatan lain, Zukfikar juga menjelaskan tentang sejarah PD di Indonesia.  Menurutnya, PD merupakan salah satu Perguruan Silat di Indonesia yang  didirikan Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo atau lebih akrab dipanggil Pak Dirdjo (1913 – 1983).

Pak Dirdjo, sebagaimana dalam catatan sejarah merupakan  Putra dari R.M. Pakoe Soedirdjo (Buyut dari Sri Paduka Pakoe Alaman II).

Sejak umur 9 tahun  Pak Dirdjo sudah mulai belajar silat, terutama ketika dirinya masih berada di lingkungan keraton Pakoe Alaman Yogyakarta. Pada usia 16 tahun, Pak Dirdjo sudah mulai merantau untuk berguru ilmu silat keliling nusantara.

Setelah  merasa cukup, Pak Dirdjo kemudian mengembangkan ilmu silatnya yang telah ia dapatkan dari berbagai perguruan silat di nusantara.

Berguru pada Yap Kie San

Latihan PD Sumsel di BDK Palembang, setiap Hari Ahad ba’da Ashar, 15.30 – 17.30 WIB

Tepatnya di Parakan, Jawa Tengah, tahun 1936, Pak Dirdjo mendirikan perguruan silat Eka Kalbu (Satu Hati). Di tengah kesibukannya di perguruan silat Eka Kalbu ini, Pak  Dirdjo

kemudian bertemu dengan Suhu : Yap Kie San, salah satu Suhu dari aliran Kungfu Siaw Liem Sie.

Pak Dirdjo tak mau menyia-nyiakan pertemuan itu. Pak  Dirdjo muda kala itu kemudian bertarung dengan salah satu murid Suhu Yap Kie San.

Namun Pak  Dirdjo kali itu harus mengakui keunggulan murid Yap Kie San. Sudah menjadi prinsip Pak Dirdjo, setiap kali kalah di salah satu perguruan silat, Pak  Dirdjo kemudian harus berguru di perguruan silat, tempat dirinya dikalahkan.

Pun demikian halnya dengan Yap Kie San. Setelah dengan segala upaya dilakukan, akhirnya Pak Dirdjo diterima sebagai salah satu murid Yap Kie San.

Dari murid yang dilatih Yap Kie San, hanya 6 pesilat yang dinyatakan lulus, terdiri dari 4 orang keturunan Tionghoa, dan 2 dari Indonesia, yaitu Pak Dirdjo dan R. Brotosoetardjo, yang kemudian dikenal sebagai pendiri perguruan silat BIMA.

Meramu ilmu Yap Kie San

Sekitar 14 tahun Pak Dirdjo berguru dengan Yap Kie San. Berbekal ilmu silat yang sudah didapatkan, Pak Dirjo kemudian mengolah dan meramu berbagai ilmu silat  itu dalam bentuk teknik silat yang sangat sesuai dengan anatomi tubuh manusia.

Tepatnya  pada 02 Juli 1955 di Surabaya,  secara resmi Keluarga Silat Nasional (Kelatnas) Indonesia PERISAI DIRI, yang sehari-hari dikenal dengan sebutan “PD” akhirnya berdiri.**

TEKS : T PAMUNGKAS   |  EDITOR : IMRON SUPRIYADI  |  FOTO : HUMAS PD SUMSEL





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster