Awal Tahun 2021, Tahu dan Tempe Merangkak Naik

 6,541 total views,  2 views today

OGAN ILIR  | KSOL — Sejumlah komoditi pasar mengalami kenaikan harga di awal tahun 2021.  Setelah sebelumnya harga cabai yang meroket hingga Rp.100 per kg, kini giliran tahu dan tempe yang mulai mengalami kenaikan harga.

Kenyataan ini sudah dirasakan sejumlah pedagang di pasar Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir (OI) Sumatera Selatan. Di awal Januari 2021 kenaikan tahu tempe mencapai Rp. 2. 000 per buah.

Namun di pertengahan Januari 2021, harga tahu dan tempe sempat mengalami penurunan dan stabil. Tetapi kondisi itu tak berlangsung lama. Di awal Februari tahu dan tempe naik kembali di kisaran kenaikan Rp. 1.000 per buah.

Akibat Pandemi

Bukan hanya pedagang, tapi kenaikan harga tahu dan tempe juga berdampak pada kebutuhan di rumah tangga. Satu diantaranya Ani (48) seorang ibu rumah tangga di Ogan Ilir. Sejak masa Pandemi, Ani mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keseharian. Bukan hanya tahu dan tempe, tetapi juga cabe.

“Ya semua naik. Waktu itu cabe sekarang tahu tempe juga, apalagi naiknya nggak tanggung-tanggung, bisa dua kali lipat, cabe aja kemarin bisa 90 ribu,” ujarnya, belum lama ini, Kamis (28/01/2021) di Inderalaya Ogan Ilir.

Senada dengan Ani, kenaikan harga tahu dan tempe juga dirasakan Mamat (29), salah satu penjual tahu dan tempe di pasar Inderalaya, Ogan Ilir, belum lama ini, Kamis (28/01/2020)

Menurut Mamat, kenaikan harga tahu dan tempe di beberapa pasar akibat dari adanya isu akan kenaikan harga kedelai. Dengan sendirinya menurut Mamat, produsen tahu dan tempe kemudian ikut menaikkan harga tahu dan tempe di pasaran.

“Karena dari awal tahun sudah ada isu akan ada kenaikan harga kedelai, jadi harganya  naik. Semua ngikutin dari pengrajin tahu dan tempe-nya,” jelas Mamat (29) salah satu penjual tahu tempe di pasar Inderalaya, belum lama ini, Kamis (28/01/2020)

Terhadap kondisi ini, Mamat berharap harga tahu dan tempe bisa segera stabil. Namun, Mamat mengakui semua itu akan terjadi bila harga kedelai juga mengalami penurunan.   

“Kita sih berharapnya nanti harga bisa stabil. Tapi kan kita nggak bisa maksa, karena kita bergantung sama harga kedelai dan dari pengrajin tahu tempenya sendiri mau jual berapa ke kita sebagai pedagang di pasar. Jadi masih bisa naik, bisa juga turun kalau harga kedelai udah stabil,” tambah Mamat.

Harga Kedelai

Menanggapi persoalan itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Suhanto sebagaimana diilansir newssetup.kontan.co.id menegaskan, naiknya harga kedelai di dalam negeri, murni karena naiknya harga kedelai di tingkat internasional. Suhanto memaparkan harga kedelai di pasar internasional naik 9% dari kisaran US$ 11,92 menjadi US$ 12,95 per busel.

Suhanto menjelaskan, penyebab naiknya harga kedelai terjadi semasa pandemi corona. Akibatnya terjadi perlambatan produksi kedelai dunia. Adapun pada Desember 2020, saat perekonomian China sudah mulai membaik, China memborong kedelai dari Amerika hingga dua kali lipat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

“Seperti yang diketahui, sumber utama kedelai dunia dari Amerika, maka dari itu hukum dagang berlaku yakni harga naik ketika permintaan lebih besar dibandingkan pasokannya. Ini masih berlangsung hingga kemarin sore,(4/1/2021),” kata Suhanto.

Produsen tempe di Kabupaten Indramayu yang mengeluhkan kenaikan harga kacang kedelai impor. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Pendapat lain menyatakan, bila kemudian produksi tahu tempe yang sempat berkurang, hal ini akibat dari tingginya harga kedelai, sehingga para produsen mengurangi jumlah produksi. Tujuannya untuk menekan kerugian. Namun hingga pertengahan Januari harga kedelai mulai stabil dan membuat harga tahu tempe mulai mengalami penurunan.

Akan tetapi, sejumlah pedagang dan pembeli tetap mewaspadai kenaikan harga tahu tempe. Sebab masih belum stabilnya harga di pasaran internasional, apalagi tahu tempe kini masih menjadi komoditi yang banyak digemari masyarakat.

Bahkan yang ditakutkan apabila para produsen tahu dan tempe melakukan aksi mogok, akibat tingginya harga kedelai maka dapat dipastikan harga tahu tempe akan kembali mengalami kenaikan.

Pada kondisi seperti sekarang, Aip Syaifuddin, Ketua Umum Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) juga turut mengeluhkan harga kedelai yang terlalu tinggi di dalam negeri. Keluhan itu sempat berbuntut pada rencana mogok produksi.

Menurut Aip, hal ini terjadi karena kenaikan harga kedelai yang merupakan bahan baku tahu dan tempe tak serta merta bisa diteruskan ke masyarakat selaku konsumen.

Aip menyebutkan, sebagian pengusaha tahu dan tempe sebenarnya sempat akan menaikkan harga sekitar 10-20 persen. Namun, rencana ini rupanya tak diamini oleh semua pengusaha secara kompak.

Sebagian pengusaha, katanya, justru tetap menjual tahu dan tempe dengan harga normal agar dagangan tetap laku. Hal ini membuat harga jual tetap rendah pada akhirnya dan membuat sebagian produsen merugi.

Seperti diketahui, impor kedelai di negeri ini tak terbendung ke Indonesia. Bahkan sejak awal tahun hingga bulan Oktober 2020, menurut data BPS pada Minggu (3/1/2021), Indonesia sudah mengimpor kedelai sebanyak 2,11 ton dengan total transaksi sebesar US$ 842 juta atau sekitar Rp 11,7 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Dari jumlah tersebut, negara yang paling banyak mengekspor kedelainya ke Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Malaysia, Argentina, hingga Prancis.

Selama Januari-Oktober 2020, impor kedelai dari AS ke Indonesia jumlahnya mencapai 1,92 juta ton dengan nilai transaksi sebesar US$ 762 juta atau sekitar Rp 10,6 triliun.

Selama tiga tahun terakhir, impor kedelai pun terus meningkat. Di tahun 2018 impor kedelai mencapai 2,58 juta ton, kemudian jumlahnya naik di tahun 2019 menjadi 2,67 juta ton. Selama itu pula, AS menjadi negara paling banyak yang menyediakan kebutuhan kedelai di Indonesia.**

TEKS/FOTO : PUTRI ERFIN  D.K.   | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster