Curah Hujan Tinggi, Harga Cabai di Sumsel “Makin Pedas”

 56 total views,  1 views today

OGAN ILIR | KSOL – Di sejumlah pasar daerah Sumatera Selatan terpantau harga cabai masih mengalami kenaikan, seperti di daerah Ogan Ilir tepatnya di Pasar Indralaya.

Hingga Senin (25/01/2021) harga cabai rawit masih berkisar Rp. 80 ribu hingga Rp. 85 ribu per kg. Bahkan sebelumnya di akhir tahun lalu tepatnya Desember 2020 harga cabai rawit meroket hingga Rp. 100 ribu per kg.

Menurut sejumlah petani cabai di daerah Tanjung Baru, Ogan Ilir (OI) Sumatera Selatan hal ini terjadi sebagai akibat dari tingginya curah hujan yang membuat panen cabai menurun. Sebab ketika curah hujan melebihi kapastisas dan kebutuhan tanaman, cabai hasil panen akan mengalami penyakit kering atau busuk.

“Kita kan kalau betanam cabai itu setahun sekali. Jadi kalau panennya dikit ya jadi mahal di pasaran. Karena ketika sudah sampai di pengepul juga harganya makin tinggi. Belum lagi sekarang musim hujan. Biasanya cabai-cabai jadi lebih mudah busuk dan kena penyakit kering. Kalau sudah begitu kita petani terpaksa ngebuang cabai yang busuk. Kalau dijual juga tidak bisa,” tutur Fitri (37) petani cabai di Tanjung Baru, OI yang ditemui di kebun miliknya Senin (25/01/2021).

Salah satu pedagang di Pasar di Ogan Ilir Sumatera Selatan. (Foto.DOk.KSOl/Efin).

Fitri menambahkan, seperti sebelumnya, setelah panen cabai lahannya akan diganti dengan komoditas lainnya seperti terong, tomat, dan sayur lainnya. “Biasanya banyak petani disini kalau sudah panen cabai, langsung diganti dengan tanaman lain. Kalau saya biasanya bertanam kacang, kisik, sayuran. Jadi ya berapa pun hasil panen cabe ya segitu yang kita dapat,” jelas Fitri.

Ikut Jawa Timur

Selain itu, bagi sejumlah petani cabai di Tanjung Baru kenaikan harga cabai juga mengikuti tren harga di Pulau Jawa. “Kita sebagai petani kadang juga melihatnya dari harga cabai di Jawa, kalau yang dijual di Jawa tinggi biasanya daerah-daerah lain juga akan naik harganya, apalagi kita juga masih mendapat kiriman dari Jawa jadi masih ada pengaruh dari sana,” jelas Fitri.

Selain petani cabai, kondisi ini dirasakan pula Rohimah (30), salah satu pedagang cabai di Pasar Indralaya. Bagi Roimah, pada kondisi seperti sekarang juga merasa sulitnya memasarkan cabai dengan harga tinggi.

Imbasnya, cabai kualitas rendah yang laku jual, karena harganya yang ditawarkan jauh lebih miring. “Karena kan harga cabai naik. Jadi pembeli lebih banyak beli yang kualitas rendah. Jadi untuk menjual cabai dengan harga tinggi ini buat kami juga susah. Untungnya juga nggak seberapa,” jelasnya, Senin (25/01/2021)

Selain petani dan pedagang cabai, naiknya harga cabai juga dirasakan Iin (50) pemilik rumah makan. Pemilik usaha kuliner pecel lele ini mengeluhkan kenaikan harga cabai yang dimulai dari akhir tahun lalu.

“Ya gimana, kalau harga cabai naik, kita juga nggak bisa naikin harga makanan kita. Sebab orang udah tahu harganya sekian. Kalau kita naikin harga karena cabai naik, kan orang nanti ngeluh juga. Jadi bisa-bisanya kita yang punya usaha makanan, apalagi saya yang punya pecel lele,” ujar Iin, Selasa (26/01)

Meskipun terpantau mendekati bulan Februari harga cabai mulai mengalami penurunan, akan tetapi penurunan hargai cabai tersebut belum signifikan sehingga masih banyak masyarakat dan penjual yang mengeluhkan harga cabai saat ini.**

TEKS/FOTO : PUTRI EFIN D.K | EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster