Kemenkes: Kematian Dokter di Palembang Bukan karena Vaksinasi

 37,031 total views,  1 views today

PALEMBANG¬† |¬† KSOL — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan kematian dokter di Palembang, Sumatera Selatan bukan karena disuntik vaksin Covid-19. Dokter tersebut diketahui baru saja menerima vaksin Sinovac sebelum meninggal dunia.

“Laporan awal penyebab kematian dikarenakan kurang O2 (oksigen) ya, bukan terkait gejala KIPI (Kejadian Ikutan Pascaimunisasi),” kata Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi kepada CNNIndonesia.com, Minggu (24/1).

Siti mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu laporan resmi dari pihak terkait di Palembang mengenai detil penyebab kematian dokter tersbut. Namun, ia menegaskan kasus tersebut bukan berkaitan dengan vaksinasi Covid-19.

Lewat akun Twitter @KemenkesRI, Kemenkes menyebut selama kurang lebih 10 hari program vaksinasi Covid-19 berjalan, para ahli melaporkan belum menemukan efek samping atau KIPI yang serius, termasuk munculnya reaksi anafilaktik.

Sejauh ini, hanya ditemukan reaksi ringan dan mudah diatasi seperti mengantuk, nyeri otot maupun lemas.

“Reaksi anafilaktik adalah syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat. Syok Anafilaktik membutuhkan pertolongan yang cepat dan tepat. Untuk itu fasilitas pelayanan kesehatan harus selalu siap mengantisipasi kemungkinan kejadian tersebut,” tulis @KemenkesRI.

Menurut Kemenkes, reaksi anafilaktik pasti terjadi pada penyuntikan vaksinasi skala besar meskipun kejadiannya sangat jarang. Dari 1 juta dosis, terjadi sebanyak 1 atau 2 kasus. Reaksi ini bisa terjadi tidak hanya disebabkan vaksin, tapi bisa juga karena antibiotik, kacang, nasi, maupun zat kimia.

“Reaksi Anafilaktik tergolong ke dalam KIPI serius, sehingga setiap kejadiannya harus segera dilaporkan secara berjenjang yang selanjutnya diinvestigasi oleh petugas kesehatan yang menyelenggarakan imunisasi,” ujarnya.

Kementerian yang kini dipimpin Budi Gunadi Sadikin itu memastikan vaksin yang dipakai dalam program vaksinasi aman, sesuai rekomendasi WHO, memiliki reaksi lokal dan efek sistemik rendah, memiliki imunogenitas tinggi serta efektif mencegah Covid-19.

Sebelumnya, kasus kematian dokter di Palembang disampaikan Prof Yuwono lewat akun Facebook. Ia mengatakan kerabatnya yang merupakan seorang dokter meninggal dunia setelah melakukan vaksinasi pada Kamis (21/1). Padahal kerabatnya itu tak punya penyakit komorbid dan tidak pernah dirawat di rumah sakit.

“Apakah ini ada hubungannya dengan vaksin? Perlu penjelasan dari dinkes kota sebagai penanggungjawab vaksin sekaligus lembaga di mana sahabatku mengabdi. Sebagai dokter saya sudah bilang bahwa pemberian vaksin atau obat apapun harus benar-benar ilmiah dengan jaminan safety dan efficacy yang baik,” tutur dia dalam unggahan itu.

Komisi Nasional KIPI telah menerima 28 laporan efek samping usai vaksinasi covid-19 Sinovac hingga Selasa (19/1). Laporan yang diterima masih dikaji dan dievaluasi.

Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan menegaskan tidak semua kasus yang dilaporkan akibat vaksnasi. Untuk itu, pihaknya perlu melakukan pengkajian mendalam untuk membuktikan dugaan KIPI.

TEKS/ILUSTRASI : CNN Indonesia / (fey/fra)

kontak Pengelola : 0812-7127-4232




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster