Antusias Vaksinasi COVID-19 Akan Mampu Tekan Kurva Pandemi

 450 total views,  2 views today

PALEMBANG | KSOL — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang menggelar Outlook Series ke-10 Jurnalis 2021 dengan tema ‘Kondisi Sosial Masyarakat Sumsel Pasca Vaksinasi’, Jumat (22/1/2021).

Series kali ini mengundang narasumber dari akademisi dan perwakilan pemerintah yakni Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Palembang dr Fauzia MKes, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya sekaligus Ahli Mikrobiologi Prof Dr dr Yuwono MBiomed, Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang Prof Dr Abdullah Idi MEd Sosiologi, serta Ahli Epidemiologi Sumsel Dr Iche Andriyani Liberty MKes.

Pengadaan vaksinasi COVID-19 menimbulkan beragam sikap dan perilaku masyarakat. Bahkan sejumlah keraguan publik muncul menanggapi efektivitas vaksin yang masuk dalam tubuh. Namun berdasarkan sejumlah penelitian, antusias vaksinasi turut menekan peningkatan kurva epidemi.

Ahli Epidemiologi Sumatra Selatan Dr Iche Andriyani Liberty berujar, adanya minat publik menerima vaksinasi COVID-19 mampu mengurangi penambahan kasus harian. Apalagi hasil pendataan angka kurva epidemi tiga bulan terakhir di Sumsel kasus harian mencapai di atas seribu kasus.

“Kebanyakan OTG (orang tanpa gejala) COVID-19 mulai umur 20 tahun. Artinya potensi percepatan kasus tinggi. Oleh sebab itu dari data kurva epidemi yang belum stabil harus sinergitas dengan memperkuat 3M dan 3T seiring peningkatan vaksinasi terus berjalan,” katanya, Jumat (22/1/2020).

Iche menyampaikan, meski data harian COVID-19 menyentuh angka kesembuhan hingga 82,32 persen secara menyeluruh dan mencapai persentase tinggi jauh dk atas nasional yang hanya sekitar 60 persen, namun pandemi tidak akan berhenti jika tidak ada rantai antisipasi dengan kunci utama siap vaksin.

“Dibantu tren mobilitas yang menurun, vaksinasi COVID-19 bisa berjalan baik. Berdasarkan pendataan kurva epidemi, penyebaran terjadi karena mobilitas tinggi,” ujar dia.

Oleh sebab itu, dengan adanya persentase yang menurun terhadap aktivitas masyarakat. Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 diharapkan mampu berefek dengan mobilitas publik. Pendataan terakhir, mobilisasi warga Sumsel di luar rumah turun. Seperti melakukan aktivitas di kafe berkurang 30 persen.

“Artinya imbuan pemerintah pun mendorong publik mengurangi aktivitas,” katanya.

Sementara menyoal bagaiamana kehadiran vaksin COVID-19 dinilai memunculkan paradigma bisnis dan politik di tengah masyarakat, menurut pengamat sosial sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Prof Abdullah Idi, sebaiknya pemerintah dan pemangku kepentingan memberikan transparansi.

“Seperti memberikan riwayat pengadaan, anggaran dan bagaiaman target sasaran vaksin COVID-19 harus terinformasi jelas,” kata dia.

Menanggapi keraguan vaksin COVID-19 di tengah masyarakat, Abdullah Idi menilai hal ini bukan kali pertama yang terjadi. Sebab sebelum ada vaksin COVID-19, sudah banyak rasa tidak percaya dari masyarakat terhadap kehadiran vaksin-vaksin lain.

“Saya mengutip artikel kesehatan, bahkan perbandingan sebelumnya (vaksin lain) di banyak negara tingkat kepercayaannya hanya 50-60 persen yang bersedia divaksin. Ini tantangan pemerintah tentu untuk menumbuhkan kepercayaan (terhadap vaksin),” kata dia.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Palembang dr Fauzia menuturkan, sebenarnya vaksinasi COVID-19 tidak membuat pandemi hilang begitu saja. Namun kehadiran vaksin membantu memperkuat antibodi dan meningkatkan kekebalan imunitas tubuh.

“Vaksinasi tidak bisa menghalangi masuk kuman, tetapi vaksinasi COVID-19 dalam satu waktu membuat 2/3 kelompok masyarakat dari 270 jiwa melindungi dari terpapar virus,” tuturnya.

Ahli Mikrobiologi Unsri Prof Yuwono menjelaskan, penilaian COVID-19 secara logika harus diketahui bahwa kasus ini tidak lebih besar dari HIV, influenza dan TBC. Namun penderita COVID-19 memiliki angka kematian 0,4 persen kasus aktif bagi pasien dengan kasus berat.

“Angka mutlak secara global, COVID-19 per hari kasus aktif mencapai 112.255 orang,” jelas dia.

Sedangkan untuk kasus krisis COVID-19 dilihat berdasarkan tingkat penularan dan bagaimana riwayat perjalan penyakit. Sebab jika pasien psotif namun tanpa gejala penyakit, khatir menularkan kepada yang komorbit (memiliki penyakit penyerta).

“Karena kalau sudah kena (terpapar COVID-19) ke yang berat, dampaknya akan berat dan sulit masuk fase membaik,” katanya.





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster