In Memoriam Kelly Mariana, Ketua KPU Sumsel : Taat Suami Lebih Utama

 937 total views,  2 views today

“Waktu SD saya bercita-cita jadi Pramugrari. Tapi saat SMA saya malah ingin jadi arsitek. Tapi itu kan cita-cita dulu. Kalau dak jadi, ya sudah, ndak apa-apa. Sekarang, apapun yang saya dapatkan saat ini, tetap saya syukuri,” ujar  Dra. Kelly Mariana, Ketua KPU Sumsel, periode 2018-2023 (Komisioner Divisi, Keuangan, Umum dan Logistik), pekan silam, kepada Tim Kabar Sumatera (KS), Taufik Usman dan Imron Supriyadi. (25/09/2020), Petikannya;

—————————————-

Tak ada niat, apalagi cita-cita menjadi guru Bahasa Inggris. Tapi kata pepatah : ala bisa karena biasa. Begitulah yang dialami Dra. Kelly Mariana, Ketua KPU Sumatera Selatan. Bagi Kelly, belajar Bahasa Inggris bukan bermula dari kursus atau menempuh perguruan tinggi jurusan Bahasa Inggris, namun karena kebiasaan sejak kecil di rumahnya ketika tinggal di Pendopo (Stanvac) sekarang di Kabupaten PALI).

H. Mgs. M. Ibrani Omar, seorang Insinyur bekerja di perusahaan perminyakan Belanda di Pendopo, Sumatera Selatan. Sehingga bahasa pergaulan Omar terbawa di rumah. Setiap hari Omar memerintah  Kelly dan saudaranya selalu dengan Bahasa Inggris.

“Kawan-kawan Papa banyak orang asing. Apalagi Papa beberapa tahun di Amerika. Kerja di Stanvac banyak orang asing dan berbahasa Inggris.  Jadi kalau di rumah, Papa selalu ngasih perintah dengan bahasa Inggris. Misalnya : Please take my glasess. Dari hal yang ringan-ringan, tapi tiap hari, akhirnya jadi kebiasaan,” kisahnya ketika dijumpai di Ruang kerjanya pekan silam.

Kelly Mariana, Ketua KPU Sumsel bersama Tim Redaksi Kabar Sumatera, Imron Supriyadi, (pakai jas dan kaos putih), Taufik Usman (pakai kemeja hitam) di ruang kerjanya, (25/09/2020)

Pembiasaan ayah Kelly, kemudian mendorong isteri dari A Hamid Yamin SE M.Si ini, kian menggemari Bahasa Inggris. Bukan ikut kursus atau menggeser cita-cita menjadi ahli Bahasa Inggris, tetapi membuat ibu dari 4 anak ini gemar membaca buku berbahasa Inggris.

“Saya banyak membaca buku Bahasa Inggris. Kadang saya tertawa sendiri. Diantara kawan-kawan itu kalau membaca, biasanya baca cerpen atau novel. Saya malah baca buku Bahasa Inggris Papa. Di buku ada exercise-nya. Setiap ada soal, saya isi. Dari sana, saya semakin banyak tahu Bahasa Inggris,” ujar Komisioner KPU Sumsel periode 2008-2013.

Bahasa Inggris Membawa ke Luar Negeri

Alumnus Universitas Sriwijaya Jurusan Administrasi Negara (Fisipol) 1992 ini tak menduga, bila di kemudian hari Bahasa Inggris membawa Putri dari pasangan H. Mgs. M. Ibrani Omar (alm) dan Hj. Maria Agusnan ke luar negeri. Bukan rekreasi, tetapi mengikuti pendidikan non formal, diantaranya Excecutive Electoral Assistance Course,  Effective Electoral Assistance Course, 2014 Milan Italy juga Great Britain Parlianmentary Visit, 2014 di London UK.

Namun, alih-alih memiliki kecerdasan Bahasa Inggris, wanita yang pernah mengenyam pendidikan non formal Building Resources in Democracy Governance and Elections (BRIDGE) , Acrediting Facilitator, 2012 Melbourne, BRIDGI International ini, tidak kemudian masuk menempuh studi dalam bidang bahasa.

Agak bertentangan bila akhirnya, Pengamat Pemilu Negara Bagian Australia Selatan 2014 ini, menentukan pilihan di Universitas Sriwijaya memilih Sosial Politik (Sospol) dalam menempuh akademik. Bagi Lead Facilitator BRIDGE Module Training untuk KPU Provinsi Banten 2016 ini, justeru dengan Bahasa Inggris yang dikuasai membuatnya bisa lebih berkembang.

“Dengan saya bisa Bahasa Inggris, saya banyak punya peluang mengembangkan pengetahuan saya,” ujar Lead Facilitator BRIDGE Module Training untuk KPU Provinsi Kalimantan Timur 2018 ini.

Sebagai mahasiswi Sospol–didukung Bahasa Inggris yang mumpuni, membuat  Kepala Bagian (Kabag) Organisasi Wanita Syarikat Islam Wilayah Sumsel  ini, berniat menjadi diplomat. Guna memenuhi niatnya ini,  meski masih aktif sebagai mahasiswi, Wakil Bendahara BinN Bridge Indonesia Network ini mengikuti tes wawancara, hingga masuk ke tahab akhir seleksi.

Menunda Menikah

Dra. Kelly Mariana bersama suaminya, A Hamid Yamin SE M.Si

Tidak tanggung-tanggung, dari sejumlah mahasiwa yang lolos tes calon diplomat, hanya orang tiga, termasuk Kelly. Namun syarat untuk tahab selanjutnya Kelly harus menunda niat menikah. Kali itu Kelly mendapat pertanyaan tentang rencana menikah.

“Waktu itu saya ditanya, kamu sudah ada rencana nikah belum? Ya, saya jawab : setahun dua tahun mendatang rencana menikah. Tim seleksi tanya lagi : kalau sudah menikah, apa kira-kira suami mau diajak tugas luar? Nah, waktu itu saya kemudian kompromi dengan calon suami.  Kalau keluarga saya waktu itu mendukung, tetapi saya harus komitmen dengan calon suami. Akhirnya saya batalkan. Meskipun, ketika saya selesai kuliah, saya dan calon suami juga tetap berjauhan. Sebab saya harus ke Bogor, Papa kan rumahnya di sana,” ujar Anggota International Election Expert Forum (2011-Sekarang).

Selama 2 tahun di Bogor,  sebelum menikah dengan A Hamid Yamin, di Kota Hujan itu, Kelly bekerja dengan  posisi sebagai Executive Secretary di Aspac Group yang waktu itu membangun   perumahan mewah Bogor Lakeside Residencial. Bahkan, Sekretaris Wilayah Sumsel, Jambi Lampung, Bengkulu GMNI 1988-1992 ini, ketika itu menjadi bagian pemegang kebijakan perusahaan yang ikut membangun sejumlah gedung di Bogor dan Jakarta.

Deretan prestasi Kelly bukan hanya diperoleh ketika dirinya purna akademik. Jauh sebelumnya, ketika masih aktif di kampusnya, Wakil Bendahara Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumsel 2010-2014 ini pernah terpilih sebagai peserta American Field Service (AFS) di Australia, sebuah program pertukaran antarbudaya bagi para pelajar dan mahasiswa selama 1 tahun di negara lain untuk meningkatkan keahlian bahasa. Kebanyakan alumnus AFS akan menguasai bahasa dari negara yang mereka kunjungi dengan lancar.

“Di progran AFS saya tinggal di sebuah keluarga Australia. Keluarga angkat inilah yang menjadi keluarga saya selama setahun dimana saya diperlakukan seperti anak dan saudara sendiri.  Setelah lebih dari 30 tahun kami masih berkomunikasi dan berinteraksi juga saling mengunjungi.  Sayapun merasa sudah menjadibagian dari keluarga mereka dalam kehidupan sehari-hari,” kisahnya.

Ketaatan pada Suami

Meski sudah pernah tinggal di kota besar, bekerja di perusahaan bonafide, dan memiliki kemampuan plus. Namun bagi Kelly, ketaatan pada suami lebih utama. Panggilan nurani perempuan sebagai isteri ketika itu tetap menjadi yang terdepan.

Kelly Mariana bersama Suami dan Keempat anaknya-

“Ketika itu saya kan sudah bersuami, jadi semua kegiatan di Bogor saya tinggal. Komitmen saya jadi isteri dan ibu rumah tangga yang baik. Saya akhirnya ikut suami ke Jambi,” ujarnya.

Suasana dan iklim daerah Provinsi Jambi sudah tentu jauh berbeda dengan dua kota yang sebelumnya ditinggali Kelly : Bogor dan Jakarta. Namun tugas mulia sebagai isteri menjadi hal penting dalam perjalanan hidup Kelly bersama keluarga.

Empat belas (14) tahun sudah di Jambi. Tahun 1994, usai melahirkan anak pertamanya, Kelly mencari kesibukan di luar tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga. Atas izin suami, Kelly kemudian menjadi seorang freelancer.

Dari kantor ke kantor, Kelly dengan yakin melangkah. Kala itu tak ada jabatan, lembaga, apalagi perusahaan yang sedang dipimpin. Kelly mencoba menawarkan skill bahasanya-nya ke Telkom dan PLN di Jambi.

“Karena merasa ada kemampuan, saya berjalan sendiri, melamar dan menawarkan diri sebagai penerjemah di Telkom dan PLN. Jadi saya mengajari  Bahasa Inggris para manajer, bos-bos dan beberapa direktur perusahaan,” kisahnya.

Langkah Kelly tak pernah henti. Kemampuan Bahasa Inggris yang melekat kemudian membawanya ke Indonex Consulting, sebuah lembaga bahasa di Jambi, yang kemudian Kelly juga menjadi salah satu direkturnya.

Nama Kelly sebagai penterjemah bahasa kian meluas. Hingga akhirnya, sejumlah Lembaga Swdaya Masyarakat (LSM), yang acapkali mendapat penawaran program dari luar negeri, mau tidak mau harus memanggil Kelly untuk menterjemahkan project=project mereka ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya.

“Selain perusahaan, ada juga Lembaga Swadaya Masyarakat yang minta bantu untuk menerjemahkan. Di LSM itu banyak dapat surat atau proposal ke luar negeri. Jadi saya yang menterjemahkan,  Sampai-sampai ada salah satu petinggi di Jambi yang akan ke Jepang, katanya mau pidato bahasa Inggris di event international, saya juga yang membuat teks pidatonyanya,” tambahnya.**

Nama Kelly & Private Interpreter

Tak banyak yang mengetahui tentang sejarah nama Kelly. Katanya, nama Kelly bermula dari  penghormatan terhadap atasan ayahnya yang juga bernama Kelly. Belum lagi, pekerjaan ayah Kelly sebagai Drilling Engineer (insinyur pengeboran), yang selalu melakukan pengeboran minyak.  Dalam bahasa inggris mata bor ini disebut Kelly.

“Nama Bos Papa saya dulu namanya Om Kelly. Terus pekerjaan Papa kan driling engeneer, yang melakukan  pengeboran minyak. Nah,  Jadi akhirnya Kelly dijadikan nama saya,” ujarnya.

Terlepas dari sejarah nama itu, tahun 2006 Kelly hijrah ke Jakarta ikut suami yang bekerja di Kantor Pusat Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jakarta.

Satu tahun berikutnya, tahun 2007 Kelly kembali menancapkan jurus Bahasa Inggrisnya, sebagai penterjemah pribadi (private interpreter).  Kelly membantu para pegawai asing yang bekerja di perusahaan minyak. Ada banyak expatriate yang tidak bisa ber bahasa Indonesia dan mereka memerlukan saya utk menterjemah juga mengurus dokumen-dokumen mereka.

“Kemanapun para expatriate ini meeting ya saya ikut bahkan sampai ketempat terpencil sekalipun utk mengecek lokasi-lokasi perminyakan antara jamnbi dan Palembang.  Nah, kalau jadi penterjemah pekerja asing waktu itu saya dibayar dengan dollar,” kenangnya.

Daftar ke KPU

Bekerja sebagai penterjemah berakhir tahun 2008, dilanjutkan mendaftar sebagai salah satu calon anggota komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Selatan. Ketika itu Kelly masuk 10 besar bersama rekan lainnya. Namun nama Kelly masuk dalam 5 orang yang tersingkir.

Kelly dan Kmoisioner KPU Sumsel

Tetapi, putaran nasib berbalik 180 derajat. Tidak sampai 6 bulan, sebuah peristiwa memaksa 5 anggota KPU Sumsel turun dari kursinya. Akhirnya  Kelly dan 4 rekan lainnya yang tercatat dalam “daftar tunggu” masuk ke KPU Sumsel periode 2009 – 2013.

“Kalau memang rejeki kita, kapan saja pasti akan sampai. Setelah lima teman sebelumnya didiskualifikasi, akhirnya kami berlima menggantikan mereka di KPU, dan saya waktu itu sebagai anggota,” tambahnya.**

Menjadi Konsultan KPU Australia

Tahun 2013, Kelly purna bhakti di KPU Sumsel. Namun karirnya terus gemilang. Kelly berhasil menembus  jenjang lebih tinggi, yaitu sebagai Konsultan KPUAustralia Perwakilan Jakarta.

Detak kariri kian berpacu., Kelly mendapat posisi bergengsi, Setelah memenangi penawaran (bidding),  Kelly menjadi Konsultan KPU Australia di Jakarta untuk melanjutkan program BRIDGE di Indonesia untuk KPU seluruh Indonesia

 “Waktu itu, saya menang dalam bidding, yang diikuti rekan lain yang juga pernah ikut BRIDGE Kali ini secara pribadi. Karena ini pribadi, saya diberi kebebasan untuk memilih siapa saja yang akan diikutsertakan dalam Bridge ini,” katanya. Yang saya pilih saat itu adalah pak Ilham Saputra  rekan sesama fasilitator BRIDGE yang sekarang menduduki jabatan sebagai anggota KPU Republik Indonesia.

Kelly menyebut, program ini berisi tentang pelatihan sistem pemilu bagi KPU  se-Indonesia yang belum mengikuti Bridge. “Pelatihan tentang penguatan kelembagaan pemerintahan dan pemilu,” tegasnya.

Posisi ini ia dapatkan bukan tanpa  sebab. Jauh sebelumnya, ketika Kelly masih di  KPU Sumsel, ia ikut pendidikan Building Resources in Democracy Governance and Elections (BRIDGE) yang didanai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam hal ini UNDP.

“Ketika itu saya menjadi salah satu fasilitator untuk Indonesia, yang akreditasinya internasional,” ujarnya.

Jenjang akreditasi internasional Kelly yang terus menanjak, akhirnya membawa Kelly masuk dalam jajaran acrediting fasilitator. Dari Indonesia hanya 10 orang, dan Kelly adalah salah satu diantaranya.

“Dari Indonesia hanya sepuluh orang yang lolos menjadi acrediting fasilitator, yang kemudian kami layak mengakreditasi orang lain,” tambahnya.

Karena Program BRIDGE  inilah saya bersama tim saya mewakili KPU RI keliling Indonesia memberikan pelatihan kepemiluan sampai tahun 2018 sebelum saya akhirnya dilantik menjadi anggota KPU Propinsi Sumatera Selatan dan terpilih sebagai Ketua.

Tumpukan prestasi Kelly ini, memantik Parlemen Inggris mengundang Kelly dalam sebuah pertemuan yang berkaitan dengan pemilu. Bukan hanya di Inggris, tetapi sejumlah negara lain juga mengundang Kelly dalam event internasional.  “Waktu itu yang di undang Cuma dua orang, saya dan satu lagi dari UNPAD,” ujarnya.**





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster