SYAIR PUTIH UNTUK SYEKH ALI JABER – Puisi Karya Anto Narasoma

 208 total views,  1 views today

Anto Narasoma

Begitu hitam warna langit
meski mendung sudah berkali-kali menangisi kepergianmu; Guruku

Di antara kabar dan celoteh pedih di sekitar RS Yarsi Cempaka Putih, namun lembaran Alquran di benakmu berkisah tentang ribuan alif sebagai Alif

Karena hujan air mata yang mengalir dari kesedihanku ;
telah menidurkan suara-Nya dalam lelapnya ribuan pintu surga

“Masuklah Habaib. taman-taman dan bunga-bunga surga merindukanmu dalam kesucian syiarmu, seputih gamis di kepalamu.”

Habaib,
seindah apapun seribu senja dalam syair putih itu;
aku pun karam seperti kapal pecah di laut kesedihan
karena kepergianmu yang jauh

Dari Madina ke Lombok,
telah kau catat
kata-kata seindah firman
tentang laut, kasih sayang dan rasa syukur di antara uraian sajak kematianmu

Ah, begitu sejuk hujan doa
yang menangisi kepergianmu
Karena engkau adalah lembaran firman yang tercatat sebagai sajak
di atas pasir putih laut mati;
setelah kau ada sebelum ada ; Habaib

14 Januari 2021


GEMURUH CINTA KITA

kujelajahi gelombang sungai kota
ketika riak-riak persoalaan
mengambang dalam pikiran
aku tak mampu bangkit dari beragam masalah
di tanganku sendiri

tahun lalu telah hanyut ke muara
membawa ribuan kenangan ;
yang tegak
di atas patok kayu,
karena lapuk dalam usiaku
penuh senyuman itu

dalam derai kata-kataku
yang basah,
hujan pun mengguyur
sejumlah ide
tatkala percik air menggenangi kumparan sajakku

di bawah payung itulah
akhirnya; kau menyatakan
Cinta
setelah bunga-bunga akhir tahun menyadarkanku
atas ribuan nyawa
yang terkubur di antara
gugusan seribu makam

maka percik hujan inilah
yang membebani pikiranku
setelah pandemi itu
mematikan musim cinta kita di akhir tahun lalu

  • lalu tak ada lagi gugusan
    hari-hari yang memuat
    batinku ;
    di atas rangkaian Cinta sajak-sajakku

“selamat tinggal tahun kenangan”

maka setelah curah hujan
membawa banjir bandang
yang menghanyutkan segala kenangan
musim itulah akhirnya
memupuk kau dan aku
dalam gemuruh Cinta
kita ; Kekasihku

Januari 2021

BIODATA PENULIS :

ANTO NARASOMA —Dilahirkan di Palembang 16 Juni 1960. Sejak di Sekolah Dasar ia sudah akrab dengan dunia sastra. Setamat SMA ia bergabung dengan Teater SAS Palembang, kemudian Teater Potlot Palembang. Sebagai pekerja teater ia sering ditunjuk sebagai penata musik di beberapa kelompok teater, dan pernah memainkan beberapa peran dalam pertunjukan drama. Sejumlah tulisannya berupa cerita pendek, puisi, artikel telah dimuat di beberapa media cetak terbitan daerah dan pusat. Puisi-puisinya dimuat dalam antologi Ghirah (1992), Bahasa Angin (1994), Menghitung Duka (1988),Empat Wajah (2000), dan Semangkuk Embun (2005. Kini ia bekerja sebagai wartawan Sumatera Eskpres Palembang. Email: antonarasoma@gmail.com Kontak: 081367459281, (0711)415263, 415264






Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster