Perjalanan Hukum Islam Dalam Tatanan Di Indonesia (Bag-01)

 1,544 total views,  217 views today

Oleh : Albar Sentosa Subari, Ketua Pembina Adat Sumsel.

Dalam proses islamisasi kepulauan Nusantara yang dilakukan oleh para saudagar melalui perdagangan dan perkawinan, peranan hukum islam adalah besar ( Al-Naquib al -Attas, 1981).

Ketika seorang saudagar muslim hendak menikah dengan seorang wanita pribumi, misalnya, wanita itu diislamkan lebih dahulu dan pernikahan nya kemudian dilangsungkan menurut ketentuan hukum islam.

Keluarga yang tumbuh dari perkawinan ini mengatur hubungan antar anggota anggotanya dengan kaedah islam atau kaedah lama (adat istiadat) yang disesuaikan dengan nilai nilai islam.

Pembentukan keluarga yang kemudian berkembang menjadi masyarakat islam baru itu memerlukan pengajaran agama baik untuk anak anak maupun bagi orang orang yang telah dewasa.

Secara tradisional, biasanya pelajaran agama yang diberikan pada waktu itu adalah. : ilmu kalam, ilmu fiqh, dan ilmu tasawuf. Dengan sistem pendidikan dan perkawinan yang demikian, menyebar ajaran islam ke seluruh kepulauan secara damai (Hamka, 1974).

Setelah agama islam berakar dalam masyarakat, peranan saudagar dalam penyebaran islam diganti oleh para ulama yang bertindak sebagai guru dan pengawal hukum islam (S. Soebardi, 1978)

Contoh dapat dikemukakan nama Nuruddin ar – Raniri (abad 17) menulis buku islam dengan judul Sirathal Mustaqim (jalan lurus) tahub 1628.
Menurut Hamka, kitab ini merupakan kitab hukum islam yang pertama disebar ke seluruh Indonesia.

Oleh Syech Arsyad Banjari, yang menjadi mufti di Banjarmasin, kitab hukum Sirathal Mustaqim itu diperluas dan diperpanjang uraiannya dan dijadikan pegangan dalam menyelesaikan sengketa antara umat islam di daerah kesultanan Banjar.

Di daerah kesultanan Palembang dan Banten, diterbitkan pula beberapa kitab hukum islam yang dijadikan pegangan okeh umat islam dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam hidup dan kehidupan mereka (Hamka, 1976)

Hukum islam diikuti dan dilaksanakan juga oleh para pemeluk agama islam dalam kerajaan kerajaan Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Ngampel,, Mataram sampai ke Palembang.

Ini dapat dibuktikan dari karya para pujangga yang hidup masa itu. Diantara nya dapat disebut misalnya Kutaragama, Sajinatul Hukum dan lain lain( Moch. Koesnoe, 1982).

Simpul dalam tulisan ini dan akan disambung dalam beberapa episode adalah bahwa sebelum kolonial Belanda mengukuhkan kekuasaan nya di Indonesia, hukum islam sebagai hukum yang berdiri sendiri telah ada dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang di samping hukum adat.

Menurut Soebandi, dalam majalah prisma halaman 65 terdapat bukti yang menunjukkan bahwa islam berakar dalam kesadaran penduduk kepulauan Nusantara dan mempunyai pengaruh yang bersifat normatif dalam kebudayaan Indonesia.

Pengaruh itu merupakan ” penetration pasifique, tolerante et constructive “( de Jasselin de Jong seperti dikutip Kusumadi dalam bukunya Pelajaran Tata Hukum Indonesia, 1960). Bersambung





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster