Musnahnya Logie Belanda di Sungai Hawur

 839 total views,  2 views today

Pada tanggal 13 September 1811 Sri Sultan Ratu Mahmud Badaruddin mengadakan musyawarah di ruang istana Keratuan. Dihadiri oleh semua unsur didalam kesultanan. 

Sri Ratu mendapatkan berita dari utusannya baru pulang dari Jawa, bahwa Gubernur General Janssens dan pasukan nya telah mengundurkan diri dari Jawa Tengah dan Betawi telah dikuasai oleh Inggris. Dalam musyawarah tersebut hadir utusan Raffles, bernama Pgn.  Syarif Muhammad dan Said Bakar Roem dan seorang Portugis Antonio Villarubi. 

Sri Sultan Ratu menyampaikan hasil musyawarah tersebut kepada pihak Belanda agar mereka meninggalkan logie Belanda di sungai hawur (sungai aur) dan orang Belanda diperintah kan untuk meninggalkan Wilayah Palembang. 

Pada tanggal 14 September 1811 petugas kerajaan mendatangi logie Belanda tersebut untuk menemui Resident Jacob G van Woortman, namun pembicaraan taj menghasilkan apa, karena Resident tersebut belum mendapat perintah atasannya di Batavia, sehingga berita tersebut dianggap nya belum resmi. 

Namun sejumlah laskar disiapkan dengan persenjataan kerajaan atas perintah Sri Ratu. Setelah sholat zuhur petugas tersebut kembali ke logie Belanda dengan membawa surat resmi dari kerajaan Palembang. Karena Sri Ratu khawatir kalau Resident Belanda tersebut tidak segera meninggalkan lokasi logie di sungai hawur, Inggris akan menggempur Belanda di sungai hawur sehingga mengakibatkan perang di Palembang. 

Namun Resident Groenhoff masih tetap bertahan tidak bersedia meninggalkan posnya. Sesudah solat Ashar datang lagi rombongan resmi dari Sri Ratu di pimpin seorang Pangeran Natadiraja dan Demang Oesman beserta pengiringnya dengan tata cara resmi kesultanan yaitu dengan tutur adat istiadat. Mengundang Resident Groenhoff v Woortman dan Resident Haarvlegter dan komandan tentara Belanda di sungai hawur untuk membicarakan kesepakatan, dan mereka bertiga menyetujui. 

Pangeran Natadiraja mendahului rombongan mereka dan berhasil melucuti  tentara Belanda, mereka disandera dimasukkan kedalam dua perahu. Setelah itu mereka  menurun bendera Belanda. 

Tepat tanggal 21 September 1811 M (Hari ahad bertepatan 3 Ramadhan 1220 H)  keseluruhan logie dan benteng di sungai hawur dibongkar dan diratakan dengan tanah. 

Kedua perahu tersebut yang berisi lebih kurang menurut salah satu sumber berjumlah 87 orang (24 orang Belanda dan 63 tentara lainnya diamankan menuju kuala). 

Namun mereka memberontak dan mereka dibunuh. Namun dari sumber lainnya dari kesemuanya itu masih ada yang sempat lolos berjumlah 5 orang ( 2 laki laki dan 3 perempuan).

Kejadian ini kemudian terkenal dengan Peristiwa 14 dan 21 September 1811.yaitu penghancuran logie Belanda di sungai Hawur. 

Ini merupakan satu catatan buat kita sebagai generasi penerus bahwa perjuangan para pendahulu kita begitu gigihnya mempertahankan tanah air kita sebagai tempat tumpahan darah ibu pertiwi.

Pendekatan yang dilakukan oleh Sultan Sri Ratu Mahmud Badaruddin pertama beliau tetap mengedepankan cara perdamaian. Terlihat pada tanggal 13 September 1811 .Sultan tidak mau bertindak sendiri, dia memanggil unsur di dalam pemerintahan kesultanan bermusyawarah untuk mengambil putusan guna menyuruh Belanda untuk meninggalkan kota Palembang. Keesokan harinya sultan mengirim utusan sampai tiga kali baru Resident Belanda bersedia melakukan perundingan. 

Pada hari yang sama sebenarnya sultan tidak akan melakukan kekerasan terhadap mereka sehingga akhirnya mereka dibunuh karena orang orang Belanda tersebut melakukan perlawanan.  

Kalau kita hubungkan dengan peninggalan sejarah sebenarnya logie tersebut dewasa ini sangat disayangkan di musnahkan karena menghilangkan fakta sejarah betapa beratnya para pejuang dulu yang sudah dimulai pada abad abad dimana kerajaan dan kesultanan Palembang sedang berjaya.**

Penulis : H Albar Sentosa Subari (Ketua Pembina Adat Sumsel / Peneliti Hukum Adat Indonesia  dan Marsal (Pemerhati Hukum Adat di Muaraenim) 






Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster