In Memoriam Suparno bin Wonokromo (CEO Sumatera Ekspres Grup)

 452 total views,  1 views today

Meski bukan orang  terisitimewa dalam dunia persuratkabaran (pers) di Palembang, tetapi bagi saya, almarhum Suparno bin Wonokromo yang kemudian lebih akrab saya panggil Mas Parno adalah sosok jurnalis yang banyak memberi pelajaran tentang dunia pers kepada saya.

Oleh Imron Supriyadi, Jurnalis Kabar Sumatera

Tentu pelajaran yang disampaikan tidak seperti di perkuliahan. Tetapi semua berjalan secara natural dalam konteks keredaksian.

Bahkan sangat mungkin Mas Parno sendiri juga tidak mengetahui, kalau selama 2 tahun saya di Harian Pagi Sumatera Ekspres (Sumeks) Jawa Pos News Network (JPNN) saat Mas Parno sebagai Pemimpin Redaksi harian JPNN,  saya banyak mencuri ilmu tentang penulisan berita, leadership, tata kelola Koran Harian dan lainnya.

SEMITRAJUR

Flashback ke belakang di tahun 1995, ketika Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Ukhuwah Institut Agam Islam Negeri (IAIN) yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menggelar Seminar Iptek dan Training Jurnalistik (SEMITRAJUR) selama satu pekan di kampus IAIN Raden Fatah Palembang. Ketika itu saya didaulat oleh kawan-kawan menjadi Ketua Panitianya.

Sebagai pemula, untuk mengendalikan tim kerja SEMITRAJUR 1995, saya mengikuti arahan para senior, diantaranya Warto Raharjo, ketika itu masih sebagai Ketua Penyunting Majalah Ukhuwah, Nas’at Patikawa (Ketua LPM Ukhuwah era 90-an), dan sejumlah “pendahulu” saya di LPM Ukhuwah, seperti Khoriyah, YS (Pemred Majalah GETAR Tarebiyah IAIN RF di era 90-an, sekarang menjadi politisi DPW Partai Persatuan Pembangunan -PPP Sumsel), dan Mustakim Eska (Ketua Penyunting Majalah GETAR di era 90-an, sekarang di PAPUA).

Diantara ide yang muncul ketika itu menjalin kerjsama dengan Harian Pagi Sumatera Ekspres, yang secara beriringan Sumeks baru mulai “menebar pesona” di Palembang dan Sumsel.

Sebagaimana tata kelola organisasi, saya dan tim kemudian mendatangi Sumeks untuk audienci. Saya masih ingat ketika itu kami ditemui sejumlah jurnalis senior di Sumeks. Belakangan di era 1997 saya baru mengetahui nama-nama mereka, diantaranya Anwar Rasuan, Anto Narasoma, Muntako BM, Triono Junaidi dan lainnya.

Waktu itu, Mas Parno tidak langsung menghandl audienci. Namun dalam perjalanan acara, Mas Parno bersedia menjadi salah satu trainer  dalam SEMITRAJUR sekaligus memfasilitasi semua perangkat internet (komputer dan perangkat keras lainnya) termasuk mentor dan tenaga teknisnya.

Pertanyaan uncul, berapa kami harus membayar Mas Parno dan Tim Sumeks? Alhamdulillah semua gratis. Hanya makan siang dan snack yang menjadi tanggungjawab kami sebagai panitia untuk tim Harian Sumeks.

Headline Halaman satu Sumeks

Almarhum Suparno bin Wonokromo

Selama persiapan dan hari pelaksanaan,  Mas Parno menugasi Mbak Pipit (salah satu jurnalis perempuan) di Sumeks untuk mengikuti semua proses panitia. Hampir semua audienci dengan sejumlah lembaga dan instansi pemerintah, Mbak Pipit menyertai kami.

Luar biasanya, Mas Parno menempatkan SEMITRAJUR IAIN Raden Fatah di headline halaman satu (di cover depan).  Bahkan selama satu pekan kami diberi kolom khusus liputan dari hari per hari, dengan bonus koran gratis di lokasi SEMITRAJUR.

Awal mula pembukaan acara, SEMITRAJYr menempati urusan satu di Harian Sumeks. Judulnya : Seminar Iptek pertama Sumbagsel Digelar.  

Judul ini bukan isapan jempo. Sebab di tengah kebanyakan orang belum melek teknologi, apalagi tentang internet, di tahun 1995 LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah bersama Mas Parno sebagai pengendali Harian Sumeks menggebrak dunia pers dengan teknologi.

Bukan hanya trasnfer pengetahuan (transfer knowledge), tetapi Mas Parno kali itu, bersama mentornya membuat kami takjub ketika kemudian kami diajari bagaimana membuka internet, sekaligus menyaksikan informasi di belahan dunia dalam waktu dan hari yang sama.

Kali itu di tahun 1995 kami baru mengenal dahsyatnya teknologi internet. Mas Parno dan pserta nyaris tak ada jenjang, meskipun Mas Parno petinggi di Harian Sumeks.

Latar belakangnya sebagai wartawan di Jawa Timur hingga di Palembang,  telah membentuk jiwa Mas Parno yang selalu tampil sederhana, baik dari sisi kostum dan pergaulan dengan siapapun.

Sebagai Wartawan Sumeks

Kantor Harian Sumatera Ekspres di era 1995, tempat saya dan kawan-kawan dibina oleh Mas Parno (alm)

Tahun 1995 akhir, saya resmi menjadi wartawan Harian Harian Sumeks, setelah menyingkirkan palamar lain se-Sumbagsel yang berjumlah 200-an orang. Kali itu 100 persen sarjana dari berbagai Perguruan Tinggi. Sementara saya masih menggarap skripsi.

“Dari ratusan pelamar ini, kami hanya butuh lima orang,” ujar Mas Parno, ketika memberi sambutan penerimaan awal di Harian Harian Sumeks di lantai bawah, yang dulu untuk maon tenis meja para wartawan.

Sontak saja, ujaran itu ditingkahi dengan gemuruh kegelisahaan, tawa, kagum dan perasaan lain sebagian pelamar yang saya tidak ingin tahu.

Masuk tahab akhir, usai beberapa jenjang ujian tulis dan lainnya saya lolos tes wawancara bersama 9 calon wartawan lainnya. Kali itu saya harus berhadapan langsung dengan Mas Parno.  Masuk ruangan mas Parno, badan saya terasa panas dingin. Harap-harap cemas, antara diterima dan tidak. Sebab kali itu saya harus menyingkirkan 5 orang lainya yang masih menunggu di luar.

AWAL KARIR — Menjadi Wartawan Sumatera Ekspres — saya (baju batik coklat) saat setahun mengawali karir dipimpin Mas Parno saat menjadi wartawan –wawancara dengan Pangdam II Sriwijaya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) thn 1996 di Palembang (Foto: Dulmuti Djaya/Sumeks)

“Selamat ya Dik, sudah masuk tahab akhir,” ujar Mas Parno, setelah sebelumnya menyilakan saya duduk.  

“Terima kasih, Mas,” jawab saya pendek. Perasaan masih dalam posisi degub kencang jantung. Beberapa kali saya harus mengehal napas, ketika Mas Parno membuka-buka lembaran CV saya.

Deretan pertanyaan mengalir begitu saja dari mulut Mas Parno. Tak ada  yang akademik sebagaimana yang saya persiapkan sebelumnya. Mas Parno bertanya tentang kisah hidup saya, sejak dari Jawa sampai Palembang, termasuk pekerjaan orang tua, tentang status saya yang anak tunggal. Bagimana izin orang tua tentang pilihan profesi wartawan, dan masih banyak lagi  hidup saya.

“Mengapa Anda ingin jadi wartawan?” sebuah pertanyaan dari Mas Parno yang hampir saya tidak menjawab.

Kali itu saya ingat dengan sejumlah pesan dari senior saya. Mas Warto Raharjo ketika kami masih mengelola Majalah Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang bilang, kalau mengelola media harus didasari oleh panggilan hati.

“Kalau hati kita, jiwa kita nggak masuk, mengelola media ya nggak serius, nanti setelah selesai kuliah yang cari kerjaan lain, tapi kalau menjiwai nggak gitu,” ujar Mas Warto ketika tahun 1992-1995 kami bersama-sama masih bedeng kos mahasiswa di Jalan Letnan Yasin No. 2924 yang tahun 1997  terbakar habis.

“Karena panggilan jiwa, Mas,” spontan saya jawab, mengutip ujaran Mas Warto, di tahun 1993 ketika di bdeng kos mahasiswa.

“Memangnya pernah mengelola koran atau media?” tanya Mas Parno menyelidik jawaban saya. Mas Parno ingn ada alasan riil tentang jawaban saya.

“Alhamdulillah Mas, sejak saya masuk kampus tahn 1992, saya sudah ikut mengelola Majalah Ukhuwah di Lembaga Pers Mahasiswa, disitu saya banyak belajar menulis dan meliput berita, meskipun Msih dalam kampus,” jawab saya tak ditambah-tambah.

“O, yang pernah kerjasama dengan kita waktu itu, yang apa…seminar Iptek! Ya…ya..,” Mas Parno ingat kerjasama antara Harian Sumeks dan LMP Ukhuwah.  

“Alhamdulillah Mas, kebetulan waktu itu saya jadi ketua panitianya,” sekalian saya mengurai ingatan Mas Parno, supaya lebih jelas.

Almarhum Mas Parno dalam sebuah wawancara

“Pertanyaan terakhir, Dik. Gimana kalau Anda dapat amplop dari dari narasumber?” tanya Mas Parno. Kali itu punggung Mas Parno tak lagi bersandar, tapi duduknya lebih maju. Saya tidak tahu bahasa tubuh Mas Parno waktu itu. Tapi mungkin karena ini pertaanyaan serius dan terakhir.

“Saya belum pernah menerima amplop, Mas,” jawab saya lugu.

“Ini seandainya, setelah Anda wawancara kemudian dikasih amplop oleh narasumber. Apa sikap Anda?” jelas Mas Parno setengah mendesak saya kali itu.

“Saya tolak Mas,” jawab saya pendek.

“Kenapa ditolak?” Mas Parno kian mendesak jawaban dari saya.

“Sesuai kode etik, yang saya tahu kalau kita menerima dan meminta amplop dari narasumber itu melanggar kode etik, jadi ya saya tolak, Mas,” jawab saya mengutip sejumlah materi jurnalistik yang saya ketahui sebelumnya.

“Kalau tidak bisa ditolak. Misalnya Anda dipaksa untuk menerima, dan Anda tidak bisa menolak. Apa yang  akan Anda lakukan?” Waduh, kian gemetar badan saya kali itu. Mas Parno masih mencecar pertanyaan.

“Kalau saya Mas, karena itu pelanggaran, ya tetap saya ambil, dan saya akan kembalikan ke redaksi, maksud saya saya laporkan ke atasan saya, saya serahkan amplop itu ke atasan saya,” jawab saya, sekenanya. Kali itu saya tidak tahu persis bagaimana saya harus menjawab. Tetapi itulah yang saya lontarkan ketika itu di depan Mas Parno, tanpa pertimbangan apapun.

“Ok, Dik, Cukup!” Mas Parno tiba-tiba berdiri. Saya juga berdiri. Mas Parno tiba-tiba menyalami saya, sebelum saya sempat berpamitan.

“Selamat bergabung di Sumeks, ya Dik. Informasi selanjutnya, nanti sore tunggu telepon dari kantor ke rumah Anda,” Mas Parno melepas saya, tanpa duduk lebih dulu.

Hanya 2 Teman Bertahan

Keluar dari ruangan, sejumlah calon wartawan lain masih menunggu.  Biasa, diantara mereka kemudian mengerebuti saya, bertanya tentang apa saja yang ditayakan Mas Parno.

Apa yang saya jawab, apa yang saya dengar itulah yang saya kabarkan kepada teman-teman. Hanya ucapan terakhir Mas Parno yang tidak saya sampaikan, tentang ucapan selamat bergabung. Sebab semuanya belum selesai kali itu.

Diantara wartawan se-angkatan saya yang hingga kini masih tetap bertahan di Harian Sumeks, diantaranya Srimulat Sari (Redaktur Sumeks) dan Hanida Syafrina (sekarang di PAL-TV). Lainnya, mundur secara teratur dengan alasan berbagai hal.

Ada yang lulus PNS, ada yang tidak kuat di pekan pertama ujian lapangan dan lainnya, terutama ketika selama tiga bulan pertama, kami semua (5 orang) wartawan baru di lepas “ikut” para senior tanpa ongkos dan kendaraan.

Ujian Berat 3 Bulan

Sungguh ujian berat yang pernah kami alami, dari manajemen Harian Sumeks ditangan Mas Parno–yang kemudian berbuah manis sampai hari ini dan seterusnya.

Banyak hal yang jadi kenangan saya dengan Mas Parno, terutama dalam liputan kriminal. Dalam memberi tugas liputan, Mas Parno nyaris tidak melihat kondisi hujan dan panas.

Mas Parno hanya butuh jawaban “ya” dari wartawan.  Itulah Mas Parno, selalu memberi tugas kepada wartawan yang tepat.  Alhamdulillah, dua tahun bersama Mas Parno, hanya kata “ya” yang saya berikan pada Harian Sumeks.

Uji nyali, mental dan integritas benar-ebanr saya rasakan dari Mas Parno. Ilmu jurnalistik secara teksnis Mas Parno tidak terlalu intervensi, tetapi sikap, penampilan, pergaulan, pola kerja, leadership, manajemen dan cara memerintahkan wartawan, bagi saya adalah ilmu tidak akan saya lupakan sedetikpun.

Semua itu akan menjadi amal jariyah bagi Mas Parno, ketika Mas Parno pergi meninggalkan semuanya, pada Rabu (9/12/2020) pagi sekitar pukul 08.40 WIB. Selamat Jalan Mas Parno. Fisikmu boleh saja mati, tapi semangatmu, ilmu dan semua yang pernah kau ajarkan padaku tak pernah akan mati….**

Palembang, 13 Desember 2020





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster