Ustadz Yayan, Pernah Dipanggil Yayan Bodoh…

 568 total views,  1 views today

Nama lengkapnya Masagus H Ahmad Fauzan. Dikenal kemudian Ustadz Yayan. Sebagian lagi memanggilnya dengan Ustadz YanMa, alias Yayan Marogan. Sebutan Marogan di belakang Yayan, karena Ustadz Yayan marupakan satu diantara cucu dari Kiai Marogan, seorang ulama besar dan saudagar dari Palembang. Bagaimana profil ustadz yang satu ini? Ikuti laporan Imron Supriyadi, Ujang Idrus dan Taufik Usman dari Tim Redaksi Kabar Sumatera.

———————————————————————

“Mang Man!” suara itu seketika membuat Juru Kunci Makam Kiai Marogan, H.Masagus Amancik Ujang (sekarang Alm) terhenyak sesaat. Dilihatnya seorang perempuan berumur 40-an telah berada di dekatnya. Seperti ada hal penting yang hendak disampaikan.

H.Masagus Amancik Ujang sangat kenal pada sosok perempuan yang datang kali itu.

Ia adalah Bu Erna, salah satu guru di SD Negeri 92 Palembang. Tapi kali itu H.Masagus Amancik Ujang belum mengetahui gerangan apa yang akan disampaikan kali itu. Sejenak Amancik Ujang tertegun. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut Bu Guru Erna.

“Yayan, idak naik kelas, Mang. Banyak nian merahnyo,” ujar Bu Erna.

“Ndak apo-apo. Suruh be ngulang lagi,” jawab Amancik Ujang.

Sementara, pada kesempatan yang sama, di pojok luar makam, Yayan kecil dengan jelas mendengar dialog antara Bu Erna dan ayahnya.

“Saya waktu itu ada di situ. Saya juga mendengar, kalau saya tidak naik kelas lima,” ujarnya saat dijumpai di Pondok Pesantren Tahfidz Kiai Marogan Palembang, pekan silam, Jumat (11/09/2020).

Ustadz H Ahmad Fauzan, SQ – Penggagas Rumah Tahfidz di Sumsel

Sepenggal kenangan itu, hingga kini masih sangat lekat di ingatan Ustadz Masagus H Ahmad Fauzan, SQ, yang akrab dipanggil Ustadz Yayan, atau Ustadz YanMa.

Ketika itu, Yayan kecil sadar betul dengan kelemahannya. Setelah beberapa tahun kemudian, ketika Yayan kecil banyak membaca buku, atau ketika Yayan kecil menjadi sosok jurnalis di sebuah majalah Anak di Jakarta, baru diketahui Yayan kecil, tergolong anak disleksia.

Disleksia dalam wikipedia disebut sebagai gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Penderita disleksia akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan, dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

Namun sisi lemah yang telah disadari Yayan kecil, tak membuat dirinya kecil hati. Meskipun–saking terkenalnya Yayan kecil yang dianggap anak telat mikir (telmi), Yayan kecil dijuluki oleh teman-temannya sebagai “Yayan Bodoh”.

“Waktu itu, saking-nya, saya ini telmi kawan-kawan di seputar sekolah dan di sekitar Masjid Kiai Marogan memanggil saya Yayan Bodoh,” kenangnya.

Ketika kemudian Yayan kecil menamatkan sekolah dasar, Yayan kecil kemudian memohon izin kepada Amancik Ujang, ayahnya, untuk masuk di Pondok Pesantren.

Tanpa ada alasan prinsip yang menolak, akhirnya keluarga merestui Yayan kecil masuk Pondok Pesantren Roudhotul Ulum (RU) Sakatiga, Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI) Sumatera Selatan.

Hanya tiga tahun di Pondok RU, putra dari pasangan Masayu Farida dan Alm.H.Masagus Amancik Ujang ini melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Rahman, Kebayoran Baru, Jakarta. Studinya kemudian dilanjutkan ke Insitut Perguruan Tinggi Ilmu Al-quran (PTIQ), hingga selesai.

Kenal dengan Ustad Yusuf Mansur

Bila kemudian Ustadz Yayan kenal dekat dengan Ustadz Yusuf Mansur (UYM), bukan tanpa proses. Awalnya, Ustadz Yayan datang ke Pesantren Daarul Quran, yang didiirikan  Ustadz UYM, untuk bersilaturahmi.

Namun karena UYM tidak berada di tempat, Ustadz Yayan kemudian menitipkan sebuah buku kepada Ustadz Jamil, salah satu staf Ustadz Yusuf Mansur, berjudul : Kiat Jitu Bersahabat dengan Al-Quran.

Buku “Kiat Jitu bersahabat dengan Al-Quran” Karya Ust. Masagus Ahmad Fauzan alias yang akrab dipanggil Ustadz Yayan

Buku “Kiat Jitu bersahabat dengan Al-Quran” Karya Ust. Masagus Ahmad Fauzan alias yang akrab dipanggil Ustadz Yayan

Buku yang yang diterbitkan tahun 2007 bersinergi dengan Pemerintah Kota Palembang, pada masa Walikota Edy Santana Putra, MT. Awalnya terbitnya buku itu untuk mahar dalam pernikahannya dengan Ustadzah Umi Chalifah, S.Pd.I, sekaligus sebagai cindera mata bagi para tamu.

“Selain untuk mahar, buku itu saya siapkan untuk cindera mata para tamu undangan,” ujar Pria kelahiran Palembang Darussalam, 20 Agustus 1981.

Meskipun memiliki latar belakang anak disleksia, tetapi ketika di kampusnya. Yayan muda ketika itu, tetap aktif di berbagai kegiatan organisasi. Satu diantaranya di HMI MPO.

Pria yang kini duduk sebagai Manager Dakwah Syekh Ali Jaber Wilayah Palembang ini, mengaku aktifnya dalam organisasi berdasar pada kesadaran dirinya berlatar belakang anak disleksia.

Untuk menutupi kekurangan itu, berbagai aktifitas organisasi kampus diikuti, baik yang formal maupun yang non formal, termasuk diantaranya aksi demontrasi layaknya mahasiswa lainnya.

“Saya ikut organisasi karena saya sadar dengan kekurangan saya. Jadi saya ikut berorganisasi sebenarnya untuk menutupi kelemahan saya, karena saya berlatar belakang anak disleksia,” ujarnya.

Sadar pada minimnya pengetahuan umum, Ustadz Yayan memacu dirinya dengan banyak membaca buku non agama. Setiap hari, Ustadz Yayan mengaku membaca buku, minimal satu hari satu buku. Toko Buku Gramedia menjadi sasaran untuk menjadi “pos baca darurat” untuk mengisi muatan intelektualnya.

“Saya setiap hari ke Toko Buku Gramedia bukan untuk membeli buku, tetapi untuk membaca. Kalau banyak orang datang ke Gramed untuk membeli buku, saya membaca buku,” kisahnya.

Pengetahuan yang ia peroleh kemudian mengantarkan Ustadz Yayan menjadi salah satu jurnalis di Majalah Anak Special. Sebuah Majalah Anak yang menitikberatkan pada bahasan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Dari dunia  wartawan yang digelutinya, membuat Ustadz Yayan memiliki banyak referensi, terutama tentang informasi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Sampai akhirnya saya berkesimpulan, anak yang berkebutuhan khusus punya kelebihan, misalnya secara fisik tidak normal, tetapi kekuatan spiritualnya lebih besar dari pada anak kebanyakan yang tidak berkebutuhan khusus,” ujarnya mengutip sejumlah pengetahuan yang didapatkan dari buku-buku yang dibacanya.

Moment Sejarah bersama UYM

Ustadz Yayan bersama Ustadz Yusuf Mansur Ustadz Yayan bersama Ustadz Yusuf Mansur sedang memeriksa naskah (teks) yang akan diterbitkan. (Foto.Dok.Ust.Yayan) Ustadz Yayan bersama Ustadz Yusuf Mansur

Pertemuanya dengan Ustadz Yusuf Mansur (UYM), menjadi moment sejarah yang kemudian menandai dimulainya perkembangan Rumah Tahfidz di Sumsel hingga sekarang.

Pada awalnya,  Ustadz Yayan bersilaturahmi ke Pesantren Daarul Quran, karena isterinya mengajar di pesantren itu, Ustadz Yayan juga ingin bersilaturahmi.

Pada saat itulah, Ustadz Yayan menitipkan sebuah buku berjudul : Kiat Jitu bersahabat dengan Al-quran kepada  manajemen pesantren Daarul Quran. Ustadz Jamil adalah orang pertama menerima amanah agar buku yang itu diserahkan kepada UYM.

“Ustadz, ini saya titip buku untuk disampaikan ke Ustadz Yusuf Mansur,” ujar Ustadz Yayan, mengisahkan pertemuannya dengan Ustadz Jamil.

Tidak teringat berapa hari buku itu sampai di tangan dan dibaca UYM. Namun yang pasti, setelah UYM mengetahui karya Ustadz Yayan, pada satu satu rapat guru, Ustadz Yayan menjadi salah satu orang yang disebut UYM di tengah forum itu.

“Ini buku karangan kamu?” ujar Ustadz Yayan menirukan kalimat tanya UYM ketika bertemu ketika itu.

“Insya Allah ustadz,” jawab Ustadz Yayan kepada UYM.

“Sudah,  kamu disini saja. Besok Yayan dikasih meja,” ujar UYM, memerintahkan stafnya.

Sejak itu, Ustadz Yayan resmi bergabung di Pesantren Daarul Quran, sebagai Litbang. Tugasnya menerbitkan buletin, majalah dan sejenisnya.

Mendirikan Rumah Tahfidz di Hongkong

Ustadz Yayan bersama para TKI di Hongkong (Foto.Dok.Ust. Yayan)

Kedekatan Usatdz Yayan dengan UYM, berbuah perintah ke Hongkong. Pada tahun 2012, Ustadz Yayan mendapat mandat dari UYM untuk mendirikan Rumah Tahfidz di Hongkong.

Sebab menurut informasi dari UYM, jemaah Muslim di Hongkong yang mayoritas Tenaga Kerja Indonesia (TKI), berkeinginan memiliki Rumah Tahfidz.

Di tahun itu Ustadz Yayan berada di Hongkong, membimbing jemaah TKI dan mendirikan Rumah Tahfidz.

Selama dua bulan, Ustadz Yayan mendapat informasi beberapa TKI sudah menunaikan ibadah haji. Mendengar itu,  makin menguatkan niat Ustadz Yayan berangkat ke Kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

“TKI di  Hongkong saja bisa berangkat haji, sementara saya ini ustadz kok nggak bisa, kan kurang pas. Saya sudah sampai ke Hongkong kenapa saya tidak ke Makkah?” ujarnya.

Di ujung pengabdiannya  di Hogkong, Ustadz Yayan diminta membantu mengedit buku seseorang, yang diketahui salah satu TKI. Kali itu Ustadz Yayan baru megetahui, ternyata satu diantara jemaah yang berprofesi TKI juga penulis buku.

“Ustadz, saya minta bantu edit buku saya. Ada honornya Ustadz,” ujar Ustadz Yayan menirukan TKI yang meminta bantu editing bukunya.

Tanpa sadar, saat mengedit buku, air mata Ustadz Yayan menetes. Pasalnya, buku yang di edit tentang Panduan Menunaikan Ibadah Haji. “Saya waktu mengedit buku itu sempat meneteskan air mata. Kerinduan saya ke Kota Makkah makin kuat. Saya hanya berdoa, Ya, Allah saya harus bisa ke Makkah tahun itu,” kenangnya.

Menjelang kepulangan ke Indonesia, para TKI seketika mengulurkan bantuan kepada Ustadz Yayan. Tak jelas berapa jumlahnya. Lipatan amplop yang sudah tentu berisi uang diserahkan kepada Ustadz Yayan.

Namun, kali itu semua donasi dari TKI dikembaikan lagi ke jemaah. “Ini saya terima. Tetapi saya serahkan kembali kepada jemaah disini, untuk memperpanjang kontrak Rumah Tahfidz. Saya minta doanya agar saya tahun ini bisa berangkat haji,” ujarnya.

Tak ada kata yang bisa terucap kecuali hanya doa yang mengiring Ustadz Yayan pulang ke Indonesia. Mengembalikan uang dari TKI, karena Ustadz Yayan mengetahui, semua ruang yang dijadikan para jemaah mengaji selama ini semua menyewa atau kontrak.

“Jadi di Hongkong itu tidak ada yang tidak pakai duit. Termasuk rumah tahfidz-nya juga ngontrak, makanya saya serahkan saja kepada mereka supaya bisa memperpanjang kontrak rumah tahfidz,” katanya.

Doa Ustadz Yayan dan Para TKI di Hongkong diijabah. Sampai di Indonesia, Ustadz Yayan tiba-tiba kedatangan teman yang mengajak berangkat  haji. “Ustadz, nak berangkat haji dak?” tanya temannya yang datang tiba-tiba.

Meski harus tertunda di Bandara Soekarno-Hatta dan di Dubai karena Visa yang digunakan visa kerja (Visa Ummal) kerja di Arab Saudi. Karena sadar visa yang dipakai tidak resmi, Ustadz Yayan dalam perjalananannya menuju Makkah terus menerus meminta doa dari UYM melalui ponsel-nya.

“Saya kirim SMS ke Ustadz Yusuf Mansur, minta doa agar perjalanan saya ke Makkah ini lancar. Alhamdulillah kami didoakan, dan Ustadz Yusuf Mansur merespon, meski jam sudah larut,” kisahnya.

Sampai di Mekkah, Ustadz Yayan masih juga mendapat mandat dari UYM, untuk melakuan wawancara sejumlah kolega UYM, untuk bahan buku yang kemudin dilahirkan melalui tangan Ustadz Yayan, berjudul : Kun Yusuf Mansur.

Buku Kun Yusuf Mansur, Karya Uastadz Masagus Ahmad Fauzan atau Ustadz Yayan.

Melahirkan Rumah Tahfidz di Sumsel

Ustadz Yayan bersama Gubernur Sumsel, H Herman Deru (Mengenakan sarung berbaju putih) saat berkunjung ke Ponpes Tahfidz Kiai Marogan Palembang (Foto.Dok. Ust. Yayan)

Berbincang perjalanan lahirnya Ratusan Rumah Tahfidz di Sumsel, tidak bisa meninggalkan sosok Ustadz Yayan, dan UYM.

UYM mencetuskan Rumah Tahfidz di Indonesia. Sementara Ustadz Yayan penggagas Rumah Tahfidz di Sumsel. Sampai hari ini, keduannya menjadi motivator bagi lahirnya Rumah Tahfidz di Bumi Sriwijaya.

Mahar Buku saat Pernikahan

Tahun 2010, sebagaimana dituturkan Ustadz Yayan, tiga Rumah Tahfid di Sumsel diresmikan UYM, yaitu ; Rumah Tahfidz Dinas Pajak, Rumah Tahfidz Komplek Pertamina Kota Prabumulih dan Rumah Tahfidz Kiai Marogan Palembang. Sejak itu, hingga kini di Sumsel telah lahir ratusan Rumah Tahfidz.

Salah satu hukum wajib dalam suatu perkawinan adalah mahar atau maskawin. Umumnya maskawin yang sering dipakai dalam perkawinan seperti seperangkat shalat dan emas.

Namun sangat berbeda saat pernikahan Ustadz Yayan dengan istri tercintanya Ustadzah Umi Cholifah, S.Pd.I. Maskawinnya sebuah buku hasil karya cucung Kiai Marogan itu sendiri.

Buku yang berjudul : Kiat Jitu Bersahabat dengan Al-Qur’an (2007) itu diberikan kepada istri tercinta ketika pernikahan, Ustadz kesayangan dari Ustadz Yusuf Mansur tersebut.

Ustadz Yayan bersama keluarga (Foto.Dok. Ust.Yayan)

“Buku tidak akan lekang oleh waktu. Buku juga bisa menambah ilmu dalam kehidupan sehingga dirinya terinstpirasi memberikan mahar buku,” kata Ustadz Yayan saat ditemui di Pondok Pesantren Tahfidz Kiai Marogan di Palembang, pekan silam, Jumat (11/09).

Selain sebagai mahar, buku karangan Ustadz Yayan itu sekaligus dibagikan kepada para tamu undangan yang hadir. Menurut Ustadz Yayan, mahar dalam pernikahan berupa buku masih asing dilakukan.  Namun Ustadz Yayan berkeyakinan buku sangat bermanfaat untuk kehidupan bagi siapapun**.

Kontak Pengelola : WA – 0812-7127-4232




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster