Strategi Bumerang di Pemilukada

 4,637 total views,  463 views today

Oleh : Dr. Drs. Ardiyan Saptawan, M.Si, Dosen Fisip Unsri

Boomerang adalah senjata tradisional penduduk asli Australia yang unik. Untuk menggunakannya dibutuhkan keahlian khusus sehingga dia bisa maksimal hasilnya.

Jika seorang empu melepaskan boomerangnya maka sesulit apapun posisi sasaran dapat dibidik sampai terkena dan senjata itu dapat kembali sendiri ke si pelempar.

Sungguh suatu pukulan yang indah tanpa banyak membutuhkan energi. Begitulah harapan para petarung pemilukada. Saat-saat yang menggetarkan bagi para calon kepala daerah menunggu tanggal 9 Desember 2020.

Pertarungan pemilukada tahan 2020 ini sangat mengasyikkan bagi seorang yang berjiwa ksatria, tetapi sebaliknya dapat menjadi ancaman serius bagi seorang pecundang. Kalau kita lihat dari perjalanan para calon kepala daerah yang mengikuti pemilukada tahun ini terutama di Sumatera Selatan, terlihat sekali bahwa mereka mempunyai profil petarung yang kuat.

Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa meskipun pandemic Covid-19 merebak semakin kuat namun jiwa petarung mereka tetap menyala menyambut hari penentuan tanggal 9 Desember 2020, sehingga tidak ada satu pun dari mereka mundur dari arena meskipun ada di antara mereka yang sempat terkena wabah covid 19 ini.

Selain itu terlihat bahwa mereka tidak menggunakan isu covid-19 ini secara vulgar untuk menyerang lawan mereka meskipun isu covid-19 ini salah satu senjata Joe Biden untuk menyerang Donald Trump dalam kampanye Presiden Amerika Serikat sehingga Joe Biden memenangkan pertarungan tersebut.

Untuk memenangkan hati pemilih bukanlah hal yang mudah. Dalam keadaan terkendali (normal) karakter pemilih dan situasi lingkungan berpadu dalam mempengaruhi pertimbangan pemilih dalam menentukan keputusannya.

Namun dalam keadaan ada penantang atau pesaing maka variabel-variabel internal dan eksternal bergerak sangat  dinamis sehingga perlu penanganan yang cermat dan perhitungan yang akurat dalam membaca tanda-tanda pergerakan alam sampai memutuskan respon yang harus dilakukan.

Hal ini akan menjadi lebih seru ketika kedaan alam tidak normal menjadi faktor penyerang pasif terselubung seperti pandemi covid-19.

Mengapa ? Karena spekulasi menjadi faktor yang akrab ketika meramalkan hasil suatu perlakuan (treatment) atau respon dalam melempar senjata pamungkas mengunci suara.

Ini merupakan suatu kerja yang menantang bagi manajer kampanye para calon kepala daerah.

Indonesia yang merupakan negara yang sedang berkembang dan masuk ke dalam kelompok negara-negara yang tidak lama lagi menjadi negara industri (maju) ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat pendidikan penduduknya dan semakin menurunnya angka buta huruf.

Terjadi pergeseran orientasi dalam berpolitik. Masyarakat Indonesia yang dalam aspek politik awalnya masih berfikir tradisional bergerak ke arah modern dengan ditandai oleh semakin berperannya logika berhadapan dengan rasa (fillings) dalam memutuskan suatu pilihan tindakan.

Hal ini menunjukkan terjadinya perubahan budaya politik yaitu pergeseran cara pandang sikap individu terhadap sistem politik dan komponen-komponennya dan juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam sebuah sistem politik.

Keadaan ini semakain kuat terjelma karena dorongan pengaruh keterbatasan mobilitas individual yang disebabkan kewaspadaan terhadap serangan covid-19.

Dalam situasi transisi ini variasi variabel bergerak secara dinamis berpadu dengan rekayasa situasi yang dibuat oleh para manajer dengan tim kampanyenya.

Terjadinya pergeseran orientasi politik dari orientasi afektif yang menyangkut ikatan emosi yang dimiliki oleh individu terhadap sistem politik, menyangkut feelings ke orientasi yang bersifat kognitif menyangkut pemahaman dan keyakinan individu terhadap sistem politik dan atributnya atau bisa jadi berubah ke orientasi yang bersifat evaluatif menyangkut kapasitas individu dalam rangka memberikan penilaian terhadap sistem politik yang sedang berjalan dan peranan individu di dalamnya.

Masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya didominasi oleh karaktristik yang bersifat koqnitif disebut budaya politik parokial, masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya didominasi oleh karakteristik bersifat afektif disebut budaya politik subyektif, sedangkan masyarakat yang memiliki kompetensi politik yang tinggi yaitu mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang berjalan disebut berbudaya politik partisipatif.

Budaya politik partisipatif ini yang akan mewujudkan budaya politik yang demokratik, yaitu budaya politik yang mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil.

Namun kalau kita perhatikan karakter pemilih yang memenangkan calon kepala daerah sebelumnya di daerah-daerah di Indonesia menunjukkan bahwa faktor emosional masih cukup dominan termasuk serangan money politics (yang sulit sekali dibuktikan oleh Panwaslu, namun saksi mata banyak melihatnya). Seberapa banyak pemilih pemilukada yang sekarang menjadi pemilih yang partisipatif ?

Merebaknya wabah covid-19 yang ikut berpesta di arena pemilukada Th 2020 menjadi arena gonjang-ganjing. Beberapa pemikiran yang memberikan masukan untuk menggunakan media sosial (internet) sebagai media kampanye tidak bisa berjalan secara efektif, karena di daerah pemilihan yang notabene banyak di wilayah pelosok daerah seperti di Provinsi Sumatera Selatan selain signal sangat terbatas, juga tidak semua masyarakat memiliki Hp dan komputer.

Pemakainya sangat terbatas pada masyarakat berusia muda (milenial) yang familiar dengan teknologi informasi, namun mereka sebagian besar adalah berpendidikan menengah ke atas yang berfikiran logis sehingga tidak mudah untuk terpengaruh dengan paparan materi kampanye.

Menghadapi pemilih yang sedang berbudaya transisi seperti saat ini seorang figur calon kepala daerah perlu memperkuat jati dirinya agar mudah menjadi pujaan pemilih dengan memperhatikan 5 hal.

Pertama; keaslian cara berfikir dan kemampuan diri yang berbeda dengan calon lain sehingga pemilih mempunyai harapan yang besar untuk terjadinya perubahan yang bermakna;

Kedua; Hindari sikap percaya diri yang berlebihan karena akan menimbulkan kesan sombong dan egois;

Ketiga; Calon perlu membangun karakter dan positioning yang kuat yaitu membentuk kesan jati diri yang diingini masyarakat secara umum seperti pemimpin yang peduli dengan masyarakat bawah, atau pemimpin yang dermawan, atau pemimpin yang jujur, atau pemimpin yang cerdas, sehingga pemilih mendapat tipe ideal yang diharapnya;

Keempat ; Calon perlu menciptakan kesan mempunyai ideologi atau prinsip yang kuat sehingga masyarakat dapat mengenali gaya ideal calon yang bersangkutan dalam berjuang untuk rakyat;

Kelima; Mempunyai pesan kampanye yang kuat sehingga mudah untuk selalu diingat oleh pemilih.

Dalam suatu sistem manajemen kampanye, calon kepala daerah berperan sebagai pimpinan rombongan berupaya keras untuk membentuk suatu kesan “pemenuh harapan pemilih” melalui terciptanya opini publik yang positif.

Bagi seorang penantang, kontroversi cara penyelenggaraan kebijakan pembangunan yang bermuatan inovasi kreatif sangat diperlukan agar menghasilkan opini yang menjanjikan masa depan yang lebih baik dari keadaan sekarang.

Bagi seorang petahana, kemampuan mengendalikan penyebaran covid 19 bisa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi dapat menjadi positif jika efek dari wabah ini bia dikendalikan seperti jumlah penderita coid -19 bisa ditekan, pelayanan kesehatan nyaman, beban ekonomi masyarakat terkendali.

Namun sebaiknya bisa menjadi negatif jika efek wabah ini menjadikan masyarakat terpuruk dalam beban ekonomi yang semakin berat. Karena itu perlu mengangkat keberhasilan lain yang bisa menjadi triger untuk mendorong munculnya kesan kesuksesan.

Apakah “money politics” masih menjadi senjata ampuh untuk meraup suara pemlih ? Bukanlah suatu rahasia lagi kalau money politics masih tidak mampu diberantas penyelenggara pemilu.

Terlepas dari legalitasnya yang jelas-jelas “haram” masih saja dipertimbangkan oleh para manajer kampanye untuk menjadi sejata pamungkas dalam meraup suara.

Jika KPU dan Bawaslu serta jajarannya masih duduk nyaman di kursi pelaminan maka tidak bisa dihindari money politics akan meraja lela.

Penyebabnya adalah kampanye terbuka sudah bukan lagi menjadi primadona penarik suara. Calon kepala daerah dan timnya hanya bisa bertemu dengan komunitas terbatas.

Penyebaran alat kampanye pun tidak banyak dilihat pemilih karena mobilitas yang rendah dari pemilih dan tempat peletakan alat peraga kampanye pun dibatasi oleh KPU.

Keadaan ini menyebabkan pesan kampanye banyak yang tidak sampai kepada pemilih. Dalam kondisi ini peran tim kampanye sangat besar. Pengembangan mobilitas gerakan sampai ke akar rumput sangat dibutuhkan, begitupun juga dengan para calon karena pertemuan tatap muka langsung lah yang dalam kondisi pandemi ini yang lebih ampuh.

Karena itu perjalanan kampanye dari para calon betul-betul menjadi primadona kampanye pada saat covid-19 ini untuk membangun emosi kebersamaan dengan pemilih. Semoga para calon pemimpin kita tangkas dalam melepaskan senjatanya sehingga masyarakat pun akan tercerahkan untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik.**

Kontak Pengelola melalui WA : 0812-7127-4232




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster