Antropogenik, Diskursus Tentang Manusia di Puncak Perubahan Iklim

 168 total views,  1 views today

Di penghujung tahun 2020, yang merupakan tahun penuh kecemasan akan masa depan hidup manusia karena pandemi Covid-19, Teater Potlot akan menampilkan Antropogenik yang ditulis dan disutradarai Conie Sema.

Antropogenik Aktifitas manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan] yang akan dipresentasikan Teater Potlot dalam Temu Teater se-Sumatera di Taman Budaya Jambi, 23-25 November 2020, dan Pekan Teater Sumatera di Taman Budaya Sumatera Barat, 26-28 November 2020, mencoba membangun diskursus tentang masa depan hidup manusia akibat perubahan iklim global.

Kedua kegiatan tersebut menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari rapid test setiap anggota tim teater yang hadir, hingga menerapkan jaga jarak dan menggunakan masker.

Pertunjukan yang akan dipresentasikan Sari Febri Andani, Sonia Anisah Utami, Dandi Rianto, dan Hasan, “Sebuah presentasi kecil pergerakan transisi antara permukaan atau lapisan luar kerak bumi dengan atmosfer di bawah langit,” kata Conie Sema.

Foto/Grafis : Teater Potlot

Para presentator ini merupakan mahasiswa dan pengajar di FKIP Universitas PGRI Palembang.

Dalam pertunjukan Antropogenik ada beberapa fragmen ekologi dan lanskap sebagai upaya merespons perubahan iklim dan pencemaran lingkungan akibat perilaku manusia.

“Presentasi kecil ini seperti mengajak ke ruang probabilitas karya, sambil bersama membaca masa depan manusia dan bumi dalam kajian-kajian futuristik ilmu pengetahuan, yang berhadapan pada keyakinan dalam pijakan spiritualitas budaya. Bagaimana perjalanan tubuh bumi dan manusia dari peradaban megalitikum sampai mekanika kuantum yang hadir dalam gerak modular sebuah peristiwa teater. Bagaimana prediksi-prediksi manusia post human dan anatomi trans humanism. Dalam konteks perubahan iklim global dan meningkatnya temperatur bumi, serta proses tersekapnya pantulan radiasi matahari di lapisan atmosfer akibat polutan udara.”

Antropogenik mungkin menjadi diskursus ekologis para antropos hari ini yang ‘menghadirkan’ manusia tanpa ras, datang dari masa depan,” jelasnya.

Antropogenik merupakan produksi ke-40 Teater Potlot. Sejak reborn pada 2015 lalu, Teater Potlot selalu mengusung isu ekologi dalam setiap pertunjukannya. Mulai dari Rawa Gambut, Puyang, Talang Tuwo Glosarium Project, Awang 3445 Celcius, dan Inside Plastics, yang dipentaskan di sejumlah kota di Sumatera, mulai Palembang, Bandarlampung, Jambi dan Padang Panjang.

“Kami memilih tema ekologi sebab berbagai persoalan saat ini seperti sosial, kesehatan, budaya, politik, dari lokal hingga global, bermula dan berakhir pada persoalan ekologi. Ketamakan manusia terhadap sumber daya alam sudah membawa kita menuju akhir kehidupan manusia dan Bumi. Mudahan ini upaya kami ini memberi dampak agar kita segera mencegah tindakan yang mempercepat kerusakan Bumi yang indah ini,” kata T. Wijaya, pegiat Teater Potlot, pada Maret 2020 lalu meluncurkan novel keempatnya berjudul Cekap, yang mengisahkan tentang ketamakan manusia terhadap sumber daya alam, khususnya lahan.**

Grafis : Tim KSOL

TEKS/FOTO : TEATER POTLOT





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster