Dosen UMP: RUU Minuman Beralkohol Cegah Perbuatan Haram

 584 total views,  2 views today

Dosen Universitas Muhammadiyah Palembang DR Sayyid Habiburrahman mendukung rancangan undang-undang minuman beralkohol karena ini dapat mencegah perbuatan haram.

Peraturan UU tentang pelarangan minuman beralkohol sedang hangat diperbincangkan. Pasalnya minuman beralkohol ini sering dikonsumsi masyarakat bahkan, dipergunakan secara tidak wajar misalnya pesta miras. Padahal minuman keras sudah dilarang beredar akan tetapi, masih saja dilanggar, kata dia pada KABAR SUMATERA, belum lama ini.

Bahkan minuman beralkohol atau minuman keras tidak hanya terlarang tapi juga diharamkan untuk mengonsumsinya tanpa adanya alasan yang kuat. Apalagi mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam yang notabenenya mengharamkan bahkan, mengecam keras dengan adanya si minol.

Penggunaan barang berbahaya seperti alkohol ini sudah diatur dan dibatasi peredaran dan batasan penggunaannya. Tetap saja pasti ada oknum-oknum yang memboncengi pasar gelap dengan penjualan barang haram ini.
Seperti yang kita tahu kalau saat ini sistem penjualan sudah canggih bahkan, mempermudah mereka bertindak penyelewengan terhadap peraturan yang sudah ditetapkan.
Secara logika kita ini manusia yang diberi akal untuk berpikir jadi kita bisa memilih mana yang baik dan buruk. Jika tindak penyelewengan masih saja terjadi maka, orangnya saja yang tidak punya akal jernih untuk berpikir.

Seharusnya menjadi seorang yang beriman itu tahu bagaimana menempatkan dirinya dalam hal kebaikan dan jauh dari kemaksiatan.
Mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Islam tetapi banyak di antara mereka yang tak paham apa arti Islam itu sendiri. Terbukti dengan adanya tindak penyelewengan terhadap barang haram yang masih eksis merambah ke setiap penjuru negeri.
Sebagai seorang muslim yang baik tentu kita paham bahwa, mengonsumsi barang haram bisa menjadi sebab tertolaknya doa dan ibadah. Selain itu, mengonsumsi minol juga bisa merusak hubungan kita pada Allah dan kepada manusia.
Kita bisa lihat orang yang sering mabok pasti rawan tergoda dengan kemaksiatan misalnya berzina, membunuh, dan melakukan tindak asusila. Hal ini sudah pasti menjadi persoalan serius yang terus gencar dilirik media. Untuk itu perlu adanya ketegasan sanksi sebagai bukti nyata penegakan keadilan dan stabilitas keamanan masyarakat.

Hal senada juga dikatakan FERIYANTO, M.Pd.I
KEMENAG OGAN ILIR bahwa
dirinya sangat mendukung pembahasan RUU Larangan Minuman Beralkohol. Aturan tersebut penting dan mendesak karena alasan kesehatan, sosial, ekonomi, dan ketertiban umum. Jangan memandang RUU sebagai upaya Islamisasi saja. Tapi mudarat dari minuman keras Itu lebih banyak dari manfaatnya.

Bahkan minuman keras menjadi pintu masuk bagi penyalahgunaan narkoba dan penyakit HIV/AIDS.
Jika ada beberapa kelompok dirugikan dengan adanya RUU tersebut, yang mana yang dirugikan? Terus siapa yang dirugikan. Kan sudah jelas, yang mengkonsumsinya dapat merusak fisik dan jiwanya sendiri, bahkan orang lain kena getahnya. Bahkan ujungnya kemaksiatan.

Oleh karena itu jangan biarkan putra putri bangsa ini hancur, oleh kepentingan kepentingan mereka sendiri. Pikirkan bagaimana anak cucu kita nantinya. Harapan saya, pemerintah harus tegas dan jangan takut sama pengusaha atau penjual yang mencari untung dengan merugikan dan merusak fisik serta jiwa orang lain yang mengkonsumsinya.
Intinya, RUU Larangan Minuman Beralkohol jangan setengah hati. Jika aturan itu ditujukan untuk pelarangan minuman beralkohol, seharusnya tidak ada tempat-tempat yang dikecualikan. Lebih baik dipukul rata alias minuman beralkohol tidak boleh diminum siapapun, kapanpun dan dimanapun.

FOTO/TEKS : KABAR SUMATERA





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster