Mbah Karmin Miliki Agropolitan Tanaman Hias

 418 total views,  4 views today

PALEMBANG | KSOL –
Belasan tahun berkecimpung dengan tanaman hias, Mbah Karmin kini memiliki impian untuk melahirkan sebuah kawasan Agropolitan Tanaman Hias di daerah Kacangbayan, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Kota Palembang.

Dalam mewujudkan impian itu
ada seribu nyali sehingga Agropolitan Tanaman Hias tersebut terwujud, kata Mbah Karmin kepada KABAR SUMATERA, Rabu.

‘’Niat saya dari dulu memang ingin sekali membuat sebuah kawasan Agropolitan khusus tanaman hias di kota Palembang. Ya, namanya wacana, bisa saja kan,’’ ujar dia.

‘’Lokasi ini memang sudah berjalan cukup lama, walaupun status lahan ini masih sewa. Namun, saya yakin tanaman hias ini Insyaallah tak pernah mati,’’ ucap Mbah Karmin seraya berujar tanaman hias yang cantik dengan aneka jenis tanaman yang dipajang di lahan seluas 1,5 hektar disewa seharga Rp 30 juta per tahun itu sejak lama melayani para pengecer atau petani tanaman hias di kota Palembang.

Menurut dia, sebelum ‘jatuh hati’ pada tanaman hias, awalnya dirinya adalah seorang petani kopi di Lampung. Tak terbayang sedikitpun olehnya akan bisa terjun di tanaman hias. Awal 1979, dirinya diajak kawannya untuk membuka lahan kopi di Prengsewu di Desa Ambara, Lampung. Enam bulan jadi petani kopi, akhirnya menyusul saudaranya di Kota Palembang.

‘’Dan, saya akhirnya merantaulah ke Palembang, ya awal 1980. Waktu itu saya ikut saudara jadi tukang kembang di Kambang Iwak. Dulu namanya Kambang Ikan. Sewaktu itu gaji saya Rp 12 ribu tiap bulan,’’ kenang Karmin.

Jalan hidup Karmin tak sampai di situ. Dia banyak menuntut ilmu dari Almarhum Haji Umar dan Haji Husaini soal usaha tanaman hias. Pernah satu hari Umar berkata pada Karmin yang bunyinya. ‘’Min, kau caknyo berbakat jadi tukang kembang…!,’’ Karmin menirukan kata Haji Umar— orang Betawi selaku perintis awal tanaman hias di Kota Palembang.

Tertantang dengan ucapan Haji Umar, Karmin tak tinggal diam. Bermodal uang seadanya lalu Karmin coba membuka usaha tanaman hias persinya di tahun 1983. Kala itu ia gagas usaha bisnis tepat di hamparan tanah kosong depan Hotel Swarna Dwipa.

‘’Kalau dulu, ada program pemerintah tapi kan terbatas. Dulunya kami (petani) bergerak masih dewek-dewek,’’ ujarnya.

Ucap Mbah Karmin, dulu hingga kini persoalan bagi petani tanaman hias sulitnya mencari tempat yang bisa menghimpun para petani kembang. Bahkan, di era Walikota Palembang Eddi Santana Putera, ada wacana ingin menjadikan kawasan Punti Kayu untuk lokasi pertanaman budidaya tanaman hias dan di BLK.

‘’Tapi, lokasi itu kan lagi-lagi miliknya pemerintah provinsi Sumatera Selatan,’’ungkap ayah kandung dari Sri Utama, Syarif Widanto, dan Wawan Sugito ini.

TEKS: KABAR SUMATERA /FOTO : NET





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster