Mengapa Masker Bentuknya Menyerupai Paruh Burung? Ini Sejarahnya

 466 total views,  5 views today

JAKARTA | KSOL — Riwayat penggunaan masker telah terekam sejak ratusan tahun silam, terlebih ketika masyarakat dunia tengah menghadapi wabah. Kini pun begitu, pemakaian masker sudah menjadi bagian dari keseharian demi mencegah laju penyebaran virus corona.

Sejarawan, Bonnie Triyana mengungkapkan masker tertua yang dapat terlacak dimulai di Eropa pada abad ke-17. Menurut dia, kala itu masker yang digunakan menyerupai paruh burung dan dipakai untuk menghadapi penyakit yang tengah mewabah.

KONTAK PENGELOLA : WA – 0852-6777-8212

“Masker ini digunakan karena memang waktu itu juga ada wabah ya menghindari penyebaran penyakit dari udara, dan di dalam paruhnya itu biasanya diisi sama herbs gitu jadi kayak rempah,” terang Bonnie dalam diskusi di Graha BNPB, Jakarta yang ditayangkan secara daring, Jumat (28/8).

Selain itu Bonnie mengatakan, bahan masker masa itu belum seperti sekarang. Dulu, masker dibuat dari bahan-bahan terbatas, seperti wol yang tipis hingga kain kasa.

“Ya seadanya dibikin, seadanya itu misalkan dari rajutan bahan, rajutan kaos kaki, atau dari perban, atau dari kain kasa,” tutur dia lagi.

Sementara bentuk masker berangsur berubah saat wabah Flu Spanyol 1918, nyaris menyerupai masker yang kini ada.

“Nggak kayak paruh burung lagi, jadi bentuknya itu yang kalau kita lihat ini, hampir mirip-mirip karena dia bisa bergerak begitu, jadi kalau berbicara, bisa gerak-gerak ,” tambah Bonnie.

Penggunaan masker selama pandemi Covid-19 ini menjadi bagian dari protokol kesehatan yang wajib diterapkan setiap kali bepergian dari rumah. Baik itu di ruang publik, maupun dalam pertemuan tertutup. Langkah ini diyakini menjadi salah satu cara untuk mengerem laju penularan Covid-19.

TEKS / FOTO/GRAFIS : CNN INDONESIA.COM (dmi/ain)  





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster