Kisah Masa Muda Dajjal sebagai Samiri dengan Nabi Musa AS

 3,284 total views,  1 views today

Dajjal adalah musuh besar bagi manusia. Siapakah dia sebenarnya? Ketahuilah Dajjal sebenarnya adalah Samiri.

Samiri adalah seorang Bani Israil dari suku As-Samirah (Samaria) dan menjadi pengikut Nabi Musa AS yang kemudian menjadi sesat. Dikatakan bahwa nama asli Samiri adalah Musa’ bin Za’far. Dia merupakan salah satu tokoh kafir yang disebut dalam Alquran. Ayahanda Samiri bernama Za’far.

Dajjal terlahir dari keluarga penyembah patung sapi. Ia dilahirkan dari perkawinan sedarah. Dampak perkawinan ini menjadikan Dajjal menjadi manusia cacat dengan mata buta sebelah.

Simak Jugo Video Ini : Kisah Musa Samiri dan Sapi Yang Berbicara – Hikmah Buya Yahya

Sumber : Youtube/Al-Bahjah TV

Nama lengkap Dajjal adalah Musa Samiri yang artinya adalah Musa dari Negeri Samirah. Jadi, ada dua Musa yang populer di kalangan Bani Israil, yaitu Musa bin ‘Imran yang kelak menjadi rasul Allah, dan Musa Samiri, yang merupakan cikal bakal Dajjal dan utusan iblis laknatullah.

Sejak kelahirannya, Dajjal tidak mau menyusu dan senantiasa tertidur hingga mengakibatkan payudara ibunya mengalami pembengkakan hebat dan menimbulkan panas yang luar biasa. Dua bulan kemudian, ibunya meninggal.

Pada saat itulah, di negeri Samirah (Samaria) terjadi gempa di dasar laut yang menimbulkan tsunami sangat hebat. Seluruh negeri itu hancur disapu  banjir. Nyaris penduduk pulau itu tak ada yang tersisa.

Atas bencana ini, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril  untuk menyelamatkan Samiri yang masih bayi. Dia pun diselamatkan oleh Malaikat Jibril ketika terapung di atas laut dan dibawa ke dalam sebuah gua. Di dalam gua di tengah pulau terpencil itulah, Samiri diurus oleh Malaikat Jibril.

Pada usia remaja, keluarlah Samiri dari persembuyiannya. Sejak itu Samiri alias Musa’ bin Za’far mempunyai cita-cita aneh. Ia bercita-cita ingin menjadi Tuhan agar manusia menyembahnya.

Peristiwa itu terjadi ketika Musa sedang berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengah hari. Keadaan kota sunyi sepi ketika penduduknya sedang tidur siang. Ia melihat dua orang berkelahi. Seorang dari golongan Bani Israil bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum Firaun bernama Fa’tun.

Nabi Musa mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lebih besar itu. Maka langsunglah Nabi Musa melontarkan pukulan dan tonjokannya kepada Fa’tun yang seketika itu jatuh rebah mengembuskan napasnya yang terakhir.

Musa terkejut melihat Fa’tun yang mati karena tumbukannya yang sebenarnya tidak disengaja untuk membunuhnya. Ia merasa berdosa dan beristighfar kepada Allah seraya memohon ampun atas perbuatannya yang tidak sengaja itu.

Peristiwa matinya Fa’tun menjadi perbincangan ramai. Anggota pasukan keamanan negara Firaun mencari jejak orang yang membunuh Fa’tun, yang sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Nabi Musa.

Waktu pun akhirnya berlalu. Pihak kerajaan masih belum mengetahui siapa pelaku pembunuhan itu sampai Nabi Musa bertemu lagi dengan Samiri.

Untuk kali kedua, lagi-lagi Samiri berkelahi  saat bertemu dengan Nabi Musa AS. Lagi-lagi Samiri berkelahi dengan salah seorang dari kaum Firaun. Melihat Nabi Musa AS,  berteriaklah Samiri meminta pertolongannya.

Nabi Musa AS menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya berkata untuk menegur Samiri. “Sesungguhnya engkau adalah orang yang telah sesat”.

Lalu berteriaklah Samiri dan berkata, “Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana kemarin engkau telah membunuh seorang manusia? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri ini dan bukan orang yang mengadakan kedamaian!”

Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, laki-laki Bani Israel itu berkata, “Hai, Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seseorang manusia? Kamu tidak bermaksud, melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini. Dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.”

Kata-kata Samiri itu segera terdengar oleh para prajurit Firaun. Maka mereka dengan cepat memberitahukannya kepada para penguasa yang memang sedang mencari jejak pembunuh Fa’tun.

Maka berundinglah para pembesar dan penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa AS dan membunuhnya sebagai balasan karena telah membunuh Fa’tun.

Ketika para prajurit Firaun sedang mengatur rancangan untuk menangkap Nabi Musa AS, maka seorang lelaki dari salah seorang sahabat Nabi Musa AS datang dari ujung kota memberitahukan kepadanya dan menasihatinya agar segera meninggalkan Mesir. Sebab, para penguasa Mesir telah memutuskan untuk membunuhnya apabila Nabi Musa AS ditangkap.

Lalu keluarlah Nabi Musa AS dari Mesir sebelum anggota prajurit Firaun menutup pintu-pintu gerbang kota Mesir.

Dari perjalanan inilah, Nabi Musa akhirnya bertemu putri Nabi Syuaib yang kelak menjadi istrinya.**

TEKS/FOTO : MALANGNEWS.COM





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster