MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH ITU WAJIB, TAPI MENGAPA BERKURBAN HEWAN JADI SUNNAH?

 413 total views,  1 views today

Stres Idul Adha

Oleh Imron Supriyadi

Satu bulan sebelum Hari Raya Idul Adha tahun ini (2020), saya kedatangan tamu seorang Ustadz, namanya Ustadz  Abdul Rahman. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Kiai Marogan Palembang.

Awalnya, obrolan kami hanya seputar kabar diantara kami. Sebab kali itu, saya agak jarang juga bertemu dengan sejumlah ustadz, dan para kiai.

Tapi malam itu, bagi saya agak berbeda. Ustadz Rahman sengaja datang bertamu ke pondok kami, Pesantren Rumah Tahfidz Rahmat Palembang (www.rumahtahfidzrahmatplg.com) yang dulu pernah bernaung di bawah Yayasan Pesantren Tahfidz Kiai Marogan Palembang.

Seketika, Ustadz Rahman bertanya pada saya malam itu : “Pak Imron tahun ini kurban nggak?” Pertanyaan itu membuat saya seperti disambar petir. Bukan saya tidak suka dengan hewan kurban, tapi tradisi orang tua saya yang setiap tahun mengeluarkan hewan kurban, nyaris terlupakan. Busyet kata saya dalam hati. Kenapa tiba-tiba Ustadz Rahman bertanya soal ini? Di luar logika saya.

Saya mencoba menjawab pelan. “Saya baru rencana, Ustadz,” jawab saya berat. Sebab dalam logika saya ketika itu, hitungan matematis saya mengatakan, untuk tahun ini atau tahun sebelumnya, saya belum punya kemampuan mengeluarkan hewan kurban. Jangankan sapi, seekor kambing pun, saya belum mampu. Kali itu tinggal satu bulan lagi Idul Adha. Dipastikan tahun ini saya belum bisa mengeluarkan hewan kurban.

Ustadz Rahman, sejenak memberi jeda waktu saya berpikir. Kemudian seketika beliau berkata :

“Kalau sudah rencana itu bagus, tapi jangan rencana terus, sebab itu kewajiban kita,” ujarnya tanpa menimbang perasaaan saya yang mulai gusar atas pertayaan sebelumnya.

“Tapi bagaimana kalau saya belum mampu, ustadz?” tanya saya mulai memancing diskusi malam itu.

“Kebanyakan orang bukan tidak mampu, tapi tidak mau dan tidak sadar untuk mau,” jawab Ustadz Rahman, yang sedikit membuat saya agak tersinggung.

“Tapi kan tidak bisa dipaksakan, Ustadz, apalagi kebutuhan saya dan mengurusi santri-santri saya juga banyak,” kata saya.

“Itu beda. Mengurusi santri, itu tugas kita. Tapi berkurban setiap tahun itu kewajiban,” ujar Ustadz Rahman, yang membuat saya jadi kikuk malam itu.

“Bukankah itu hukumnya sunnah, Ustadz?” saya coba memancing argumentasi.

“Nah, itu dia alasan yang membuat orang menjadi malas mengeluarkan hewan kurban,” ujarnya.

Ustadz Rahman seketika begitu berani menafsirkan Suroh Al-Kautsar ayat satu sampai tiga. Dia membacanya dengan fasih.  Ustadz Rahman menitikberatkan pada kata : Fasholli-lirob-bi-ka-wanhar : Maka sholatlah, dan berkurbanlah.

“Ayat ini, menurut saya tidak bisa dipandang sunnah, tapi wajib!” ujarnya tanpa menjelaskan secara rinci dengan dalil.

“Tapi, dalam sejumlah penjelasan fiqh, mengeluarkan hewan kurban itu sunnah, kenapa Ustadz mengatakan wajib?” tanya saya agak menyerang.

“Coba Pak Imron Pikir, Arti dari kurban itu kan berasal dari kata qoroba, artinya mendekatkan diri kepada Allah. Kalau mendekatkan diri kepada Allah kan wajib, kita memang wajib mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya melalui hewan kurban. Coba, pikir lagi, kita ini wajib atau sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah?” tanya Ustadz Rahman sembari matanya menatap saya.

Kali itu saya tidak kuat melihat tatatapannya. Saya lemparkan mata saya ke sebuah asbak di depan saya, sembari membuang abu rokok yang di ujung penghabisan.

Sesaat saya menghela napas. Lalu manggut-manggut membenarkan kalimat Ustadz Rahman. Lalu saya katakan : “Jadi Ustadz,  kalau begitu, orang yang tidak mengeluarkan hewan kurban, berarti orang  yang tidak mau mendekatkan diri kepada Allah?” tanya saya, mencoba memahamkan penjelasan Ustadz Rahman.

Kali itu Ustadz Rahman hanya tertawa. Tapi saya menangkap binar mata Ustadz Rahman, yang saya tebak matanya Ustadz Rahman malam itu, setuju dengan penafsiran saya tentang hewan kurban.

Saya kemudian mengulang pertanyaan sebelumnya :

“Bagaimana dengan yang belum atau tidak mampu, Ustadz?”

“Bukan tidak mampu, tapi tidak mau, atau memang tidak ingin mau?!” tegas Ustadz Rahman, kali kedua kalinya.

Tiba-tiba, Ustadz Rahman menisbahkan kisah seorang pemulung yang menabung dan bisa menunaikan ibadah umroh. Bahkan Ustadz Rahman juga menyebut satu kisah seorang ibu yang juga pengepul sampah, bisa mengeluarkan hewan kurban dalam setiap tahunnya.

Kisah-kisah itu membuat batin saya tertampar malam itu.  Saya benar-benar stres dibuat oleh Ustadz Rahman.  Saya kemudian bertanya tentang jalan keluar bagi orang yang tidak atau belum mampu mengeluarkan hewan kurban setiap tahun.

Seketika Ustadz Rahman bertanya pada saya. “Pak Imron dalam satu bulan, berapa rupiah kebutuhan pulsa dan paket internet?” tanya Ustaz Rahman mencoba membongkar dapur saya.

Tapi, meskipun ini sangat privat atau terlalu pribadi, saya sebut saja sembarang, yang kira-kira sesuai dengan kegiatan saya sebagai penulis.

“Saya bayar internet  tujuh ratus ribu, kemudian pulsa bisa lebih dari tiga ratus ribu,” jawab saya tanpa menimbang terhadap kemungkinan serangan balik dari Ustadz Rahman.

“Nah, Pak Imron bisa bayar semuanya kan?” spontan Ustadz Rahman menyerang balik. Untuk kesekian kalinya saya kena tohok Ustadz Rahman malam itu.

“Ya, itu saya paksa, sebab kalau tidak, saya tidak bisa kerja Ustadz, saya kan penulis yang harus mengirim tulisan ke sejumlah media?!” jawab saya membela diri. Lantas tiba-tiba, Ustadz Rahman berbalik menyerang saya.

“Kalau internet dan pulsa untuk kepentingan dunia, kenapa Pak Imron tidak bisa memaksa diri untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengeluarkan hewan kurban?” Ustadz Rahman masih terus mencecar saya malam itu.

Mendengar itu, saya kembali berargumantasi.

“Pendapatan saya terbatas, Ustadz. Saya baru bisa bayar internet dan pulsa Ustadz?” jawab saya masih mengelak.

“Coba kita runut,” kata Ustadz Rahman. Ustadz Rahman, malam itu mencoba menggali pikiran-pikiran saya tentang bagaimana kewajiban mengeluarkan hewan kurban.

“Apa Ustadz,” kata saya

“Akal dan pikiran, sampai Pak Imron bisa menulis sekarang, ciptaan siapa?  Tangan, darah di tangan yang mengalir hingga ke seluruh tubuh ini, sampai bisa menggerakkan tangan Pak Imron menulis ciptaan siapa?” ujar Ustadz Rahman malam itu.

Meskipun di hati saya membenarkan semua ujaran Ustadz Rahman, tapi dalam diri saya yang sangat ego ini, saya tidak mau kalah.

“Ustadz, honor menulis kayak saya ini berapa? Cukup untuk bayar internet dan pulsa sudah Alhamdulillah, Ustadz. Maksud saya jadilah untuk bisa makan dan membantu keseharian santri di pesantren saya,” ujar saya tidak mau hilang argumentasi.

Kali itu, Ustadz Rahman kemudian membuat hitungan matematika untuk saya.

“Sekarang begini, Pak Imron. Harga kambing, katakanlah tiga juta, atau tahun depan empat juta. Kalau harga di Palembang bisa dua juta dua juta ratus, atau tiga juta tiga ratus ribu. Sementara Hari Raya Kurban, hanya setahun sekali. Dalam satu tahun, ada dua belas bulan dikurang  Idul Adha, jadi sebelas bulan. Kalau Pak Imron menabung dua ratus ribu selama sebelas bulan, maka akan muncul angka dua juta dua ratus ribu rupiah. Kalau tiga ratus ribu rupiah, dalam sebelas bulan akan keluar angka tiga juta tiga ratus ribu rupiah, cukup harga 1 ekor kambing. Hanya seekor kambing dalam setahun Pak Imron, sementara pulsa dan internet lebih dari itu, dan ternyata Pak Imron bisa bayar?” tegas Ustadz Rahman malam itu.

Setelah Ustadz Rahman pulang, malam itu saya benar-benar stres oleh bahasan Idul Adha. Sampai menjelang fajar, malam itu saya tidak bisa tidur.  Pagi Harinya saya bilang pada isteri saya ; “Bun, mulai tahun depan dan seterusnya, kita wajib mengeluarkan hewan kurban” Bismillah…

Idul Adha,

Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat

Palembang, 01 Juli 2020





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster