Buya Kamba Meninggal Dunia, Majelis Maiyah Cak Nun Berduka

 225 total views,  1 views today

JAKARTA | KSOL – Majelis Maiyah berduka atas wafatnya ahli tasawuf Muhammad Nursamad Kamba, Sabtu (20/6/2020) pukul 01.00 WIB.

Nursamad Kamba yang dikenal dengan sapaan Buya Kamba adalah dosen Jurusan Tasawuf Psikoterapi (TP) Fakultas Ushuluddin Univesitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung.

Buya Kamba kerap menjadi inisiator program Dirasah Islamiyah Wal Arabiyah di UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, dan inisiator jurusan Tasawuf dan Psikoterapi di UIN Bandung.

Tonton Video Ini :

Sumber : Youtube/imron kayaraya

Almarhum yang semasa hidupnya akrab bersilaturahmi di Komunitas Maiyah Kenduri Cinta bersama Cak Nun ini pernah mendapat sejumlah penghargaan.

Penghargaan itu diperoleh sebagai Sosok yang Menginspirasi pada tahun 1990 oleh PT Asuransi Jiwasraya, penghargaan dari KBRI Kairo pada 1993, hingga Departemen Luar Negeri RI tahun 2005.

Mengutip Koordinator Simpul Maiyah dan Anggota Redaksi caknun.com, Fahmi Agustian, almarhum menghadap Ilahi pada Sabtu din ihari (20/6/2020).

“Ketika kita semua masih terlelap, Allah memanggil salah satu kekasihnya, guru kita semua, salah satu Marja’ Maiyah: Syeikh Nursamad Kamba. Kapan datangnya maut adalah rahasia yang tak bisa disangka-sangka,” tulisnya, dikutip Sabtu.

Syeikh Nursamad Kamba dalam beberapa minggu terakhir sempat dirawat di rumah sakit dan harus menjalani beberapa terapi atas sakit yang dialaminya.

Beberapa waktu lalu, Syeikh Nursamad Kamba masih sempat mengambil gambar Video untuk Live Instagram di akun Instagram Kenduri Cinta.

Fahmi menuturkan bahwa dalam beberapa kesempatan, karena masih aktif sebagai dosen di UIN Sunan Gunung Djati, proses kuliah daring pun dijalani almarhum. Dalam masa pandemi Covid-19, Nursamad tetap membimbing anak didiknya, meskipun secara daring.

“Kita semua, Jamaah Maiyah belajar banyak dari Syeikh Nursamad Kamba tentang banyak ilmu dan khasanah keislaman, terutama dalam Sirah Nabawiyah dan Ilmu Tasawuf yang memang beliau ekspert di bidang ini,” jelas Fahmi.

Menurutnya, penjelasan Syeikh Nursamad Kamba selalu terperinci dan detail, sangat teknis akademis.

“Mungkin bagi kita yang tidak terbiasa menyimak paparan Syeikh Kamba akan merasa berat menyimak, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahaminya,” terang Fahmi.

Fahmi menambahkan para penggiat Kenduri Cinta segera memanjatkan doa ketika mendengar informasi bahwa Syeikh Nursamad Kamba harus dirawat di rumah sakit.

Fahmi menambahkan, berdasarkan informasi dari putra tertua Syeikh Nursamad Kamba, Irfan pada Jumat kemarin (19/6), Ketua Divisi Luar Negeri Badan Wakaf Indoensia (BWI) tahun 2011 ini masih sempat melakukan medical check up di Rumah Sakit. Hasil pemeriksaan memperlihatkan bahwa kondisi kesehatannya yang baik-baik saja.

Jumat sore (19/6), Syeikh Kamba masih berkomunikasi dengan Cak Nun.

“Melalui Mas Gandhie, Mbah Nun menyampaikan sebuah tulisan untuk buku yang sudah selesai ditulis oleh Syeikh Nursamad Kamba yang berjudul: Mencintai Allah Secara Merdeka,” tutur Fahmi.

Kini, Syeikh Nursamad Kamba sekarang benar-benar sudah merdeka.

“Tulisan pengantar oleh Mbah Nun sepertinya adalah sebuah tulisan yang sangat ditunggu oleh Syeikh Nursamad Kamba. Hingga akhirnya Allah menjemput Syeikh Nursamad Kamba dalam keadaan yang benar-benar merdeka,” tulis Fahmi.

Sabtu pagi (20/6), jenazah Syeikh Nursamad Kamba disemayamkan di rumah duka, di Kampung Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur. Jemaah Maiyah dilaporkan berdatangan takziyah di rumah duka, membacakan tahlil, doa dan surat yasin di samping jenazah.

Jenazah dimakamkan Sabtu sore di TPU Kampung Rambutan.

Sebagai informasi, Nursamad Kamba telah menulis sejumlah buku terutama di bidang, Tasawuf. Buku pertamanya adalah terjemahan Indonesia-Arab berjudul ‘Fatawa Majlis Al-Ulama Indunisi yang diterbitkan oleh CENSIS pada 1996.

Dia juga sempat berkolaborasi dengan Sujiwo Tejo untuk menyelesaikan bukunya yang berjudul Tuhan Maha Asyik 2.

Mengutip hadits riwayat Muslim no.2392, Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”

Kini Buya telah dimerdekakan Tuhan dari penjara duniawi, berpulang menuju yang Sejati. Selamat jalan syekh, berbahagialah di sisi Kekasihmu.

Nama Majelis Maiyah tak bisa lepas dari sosok budayawan Emha Ainur Nadjib alias Cak Nun.

Berdasar tulisan di WIkipedia, menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya, yang kemudian celetukannya diadopsi oleh Soeharto berbunyi “Ora dadi presiden ora pathèken”.

Setelah Reformasi 1998, Cak Nun bersama KiaiKanjeng memfokuskan berkegiatan bersama masyarakat di pelosok Indonesia. Aktivitasnya berjalan terus dengan merintis Masyarakat Maiyah.

Majelis ini berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara.

Cak Nun bersama Kiai Kanjeng dan Masyarakat Maiyah mengajak untuk membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka.

“Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan.”

TEKS / ILUSTRASI : JIBI/Bisnis Indonesia

loading…

MEMBERILAH WALAU SEDIKIT, SEBAB TIDAK MEMBERI ITU LEBIH SEDIKIT NILAINYA (Khalifah Ali bin Abi Thalib)
DONASI dapat di transfer MELALUI REKENING sbb:
BANK BRI CABANG POLIGON
No. Rekening : 7017-0100-6430-53-4
Atas nama : RUMAH TAHFIDZ RAHMAT




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster