Corona Membongkar Rapuhnya Kapitalisme-Liberalisme

 96,739 total views,  370 views today

Oleh : Situt Saputro, Mahasiswa

Meletusnya virus COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Corona di Wuhan sejak di penghujung tahun 2019 melumpuhkan sebagian lini sektor kehidupan manusia.

Kestabilan kehidupan yang selama ini terbangun mendadak mencapai titik krisis paling nadir dengan ditandai lumpuhnya ekonomi-politik sebagai infrastruktur kehidupan paling utama di berbagai negara terdampak. Termasuk Indonesia yang belakangan mencapai angka tertinggi kedua sebagai presentase korban terdampak Corona paling parah dengan indeks lebih dari 5%.

Baco Jugo Artikel Lainnyo :


Corona sebagai sebuah pandemi, semua sepakat mangatakan bahwa Corona merupakan suatu bencana kemanusiaan yang berbahaya dan harus dilawan secara bersama-sama. Salah satu cara paling sederhana adalah adanya usaha interaktif antara pemerintah atau negara dengan masyarakat untuk saling merangkul mengantisipasi atau paling tidak meminimalisasi penyebarannya.

Namun membaca fenomena Corona tidak hanya menyempitkan batasan hanya menafsirkan Corona sebagai sebuah pandemi atau penyakit secara medis. Corona sebagai sebuah fenomena atau bahkan sudah sampai pada titik bencana secara universal memiliki efek-efek dan pengaruh secara luas dalam jalannya sebuah sistem kehidupan baik dalam sisi ekonomi maupun sosial-politik.

Dari sudut pandang inilah keberadaan Corona menjadi semacam titik kesadaran bagi setiap individu pada masyarakat dalam membuka kaca mata perspektif kritis terhadap sebuah sistem kehidupan tentang sejauh mana sistem tersebut kokoh dan kuat dalam menangkal sebuah krisis.

Salah satunya adalah kapitalisme dan liberalisme. Sebagai sebuah sistem, kapitalisme adalah sistem yang menisbatkan dirinya pada prinsip kebebasan individu dalam menjalankan roda produksi sebagai mesin utama sebuah siklus ekonomi. Secara distribusi, kapitalisme mempercayai sistem pasar bebas dengan globalisasi dan modernismenya serta mengorientasikan dirinya pada satu titik tolak ukur yakni profit atau keuntungan.

Sedangkan liberalisme, sebagai prinsip kehidupan sosial mengorientasikan diri pada kebebasan secara individual. Persamaan orientasi keduanya menjadikan kapitalisme-liberalisme sebagai sebuah kolaborasi sistem kehidupan yang kuat pada peradaban modern ini dengan diikutinya sebagai besar negara di belahan dunia, termasuk Indonesia meski tidak sepenuhnya mutlak menerapkannya.

Mengaca pada Indonesia sebagai salah satu negara yang mengadopsi sistem tersebut, keberadaan Corona menjadi semacam bencana yang membongkar kerapuhan dan kebrobokannya sebagai sebuah sistem secara kemanusiaan. Nilai kemanusiaan menjadi pondasi paling fundamental dalam sistem kehidupan sosial. Nilai-nilai kemanusiaan tersebut teraktualisasi dalam banyak hal seperti kepekaan, kepeduliaan, bahkan rasa saling ketergantungan.

Adanya keterkaitan antar nilai kemanusiaan tersebut niscaya menciptakan komunal masyarakat yang solid dan saling menjada kestabilan sistem kehidupan. Namun keadaan bertolak belakang dengan sistem kapitalisme-liberalisme, nilai-nilai kemanusiaan tersebut merupakan kemustahilan, tergerus privatisasi dan ambisi kalkulasi keuntungan.

Kerapuhan sisi kemanusiaan sistem kapitalisme-liberalisme dalam konteks Indonesia contohnya banyak kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menganggapi keberadaan Corona dilakukan secara serampangan. Langkah-langkah yang ditempuh alih-alih memprioritaskan prinsip keselamatan dan kemanusiaan, negara atau pemerintah atas nama menjaga kestabilan sistem mengesampingkannya, serta lebih berpihak pada kepentingan investasi dan modal.

Terlihat ketika wabah pandemi Corona baru meletus dan melumpuhkan Tiongkok, Indonesia secara terbuka tidak menutup segala akses untuk mengantisipasinya, melainkan membuka kran lebar-lebar jalur masuknya wisatawan dengan memberikan diskon dan promo wisata yang diluar nalar logika.

Kepekaan negara sebagai penanggung jawab atas kehidupan masyarakatnya tertutup atau tergantikan dengan ketakutan menurunnya keuntungan secara kalkulasi dari pendapatan nasional di sektor pariwisata.

Kebijakan lain yang tak kalah membuat malu wajah kemanusiaan Indonesia adalah adanya suplai anggaran yang sangat besar secara nominal kepada para influencer dengan tujuan menggenjot kepercayaan modal di tengah gentingnya waspada penyebaran Coronna.

Kebijakan tersebut sangat jauh dan tidak berpihak pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Kesehatan sebagai sisi yang paling terdampak, bahkan tidak disentuh dan dibekali sejak dini dengan berbagai langkah dan modal biaya antisipasi. Dampaknya, ketika Corona benar-benar menunjukkan eksistensinya di Indonesia, negara sebagai bagian dari sebuah sistem seakan tidak siap menjawab tantangan tersebut.

Infrastrukur kesehatan tidak dibekali secara serius, sumber daya yang tidak memadai, bahkan ketidakpercayaan kedaulatan ketahanan dengan tetap memosisikan diri meringkuk di bawah kepentingan modal dan investasi menegaskan sistem yang selama ini berjalan tidak cukup kuat dalam menjawab tantangan kehidupan secara kompleks, bahkan meniadakan prinsip kehidupan paling fundamental, yakni kemanusiaan.

Selain itu, manusia-manusia yang terbentuk dalam sistem kapitalisme-liberalisme adalah manusia tanpa kemanusiaan. Dalam keadaan yang sangat kritis seperti ini masih banyak dijumpai adanya perilaku-perilaku yang nir-humanisme, seperti priviatisasi dan komersialisasi alat keselamatan publik; masker, hand sanitizer, dll.

Memaknai Corona lebih dari sekadar perkara medis, melainkan sebagai sebuah fenomena yang berefek kompleks pada akhirnya membuka lebar-lebar kaca mata kritis kita sebagai individu bagian dari masyarakat dan sebuah sistem kehidupan yang besar dalam memandang kapitalisme-liberalisme sebagai sebuah sistem yang rapuh secara kemanusiaan, serta membentuk kualitas manusia-manusia tanpa kemanusiaan.**

TEKS/FOTO : QURETA.COM

loading…




Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster