Corona di Tengah Nalar Sains dan Mistifikasi yang Payah

 1,725 total views,  19 views today

 

Akhir-akhir ini, setelah mewabahnya Covid-19, banyak perbincangan yang mengundang tanya. Saya sendiri sebenarnya terheran-heran dengan makhluk yang menurut saintis berukuran Nano itu, mengapa bisa ia begitu hebat dan dahsyat mengguncang kehidupan manusia?

Tapi yang pasti, di usianya yang seumur jagung, ia layak menerima predikat “Muda Mendunia”, seperti jargon salah satu kampus swasta di Jogjakarta yang berlogo matahari terbit.

Di Libertaria Cafe, tempat saya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kuanggap bermanfaat, telinga ini benar-benar dipenuhi perbincangan mengenainya. Di kost, kawan-kawan seperantauan juga membahas hal yang sama. Mampir ke Burjo, A’a nya malah ngajak ngobrol soal itu. Ah, rasa-rasanya makin gelisah aku dibuatnya.

Akhirnya, di suatu waktu, Covid-19 mengantarkan ingatan saya pada salah satu pembahasan yang terdapat di buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari. “Lebih baik hidup daripada mati,” begitu kata Maris dalam buku mahakarya sang sejarawan itu.

Sebagaimana yang telah kita pahami sebelumnya bahwa Yuval Noah Harari adalah seorang pemikir yang berhaluan empirisme. Maka tak diherankan dalam tiga maha karyanya, Yuval meletakkan pandangannya dalam alur pikir materialisme.

Dalam bukunya Homo Deus, tepat di halaman satu sampai halaman sebelum delapan puluh satu, ia coba mendudukkan tiga masalah besar yang dihadapi oleh umat manusia sepanjang zaman, yakni kelaparan, wabah, dan perang. Hal yang ia ulas cukup menarik, selain menampilkan sejarah, tak lupa ia memasukkan pandangannya yang materialistis.

Baginya, ketiga masalah tersebut di luar rencana kosmis tuhan, atau dengan bahasa lain, ia menyebut kemanusiaan bangun dalam kesadaran yang mengagumkan sambil menyodorkan data sejarah bahwa dekade terakhir ini, manusia telah berhasil mengatasinya.

Lantas bagaimana dengan Covid-19 itu? Sebagai pemikir yang berhaluan materialisme, ia tak menutup kemungkinan akan perubahan-perubahan yang ada. Sebab, alam akan selalu membuka ruang probabilitas.

Ada satu hal dari tiga masalah terbesar itu yang tak bisa dijawab pasti oleh umat manusia, yakni wabah. Dalam halaman-halaman berikutnya, ia mengemukakan kerja keras para ilmuwan dan saintis untuk memerangi wabah yang selalu hadir dan mematikan umat manusia.

Bahkan, ilmuwan dan saintis tak hanya berikhtiar untuk melawan wabah saja. Lebih dari itu, merela sesungguhnya sedang mencari solusi untuk menghilangkan kematian dan membuat manusia hidup tak berkedaluwarsa dengan menyebut kematian sebagai masalah teknis sains belaka.

Ikhtiar itu akhirnya mengawinkan antara pengalaman dan kemapanan sains modern dengan ekonomi kapitalis. Kurzweil dan de Grey sebagai orang yang optimis untuk melawan kematian dengan menyebut “memiliki badan yang sehat, dan rekening yang sehat di bank, pada 2050 akan menghasilkan pencapaian serius, yakni mengalahkan kematian dan memberi manusia usia muda yang abadi”.

Kedua orang itu benar-benar membayar mahal impiannya. Sebagai direktur direkayasa Google, ia meluncurkan anak perusahaan yang diberi nama “Calico” dengan misi mengatasi kematian.

Hal di atas sangatlah kontras perbedaannya dengan umat beragama, khususnya sebagian umat Islam yang menyebut wabah sebagai “tentara tuhan”. Dalam konsep pemikiran Yuval Noah Harari, mistifikasi semacam itu tertolak dengan predikat “Auto”.

Yuval dalam karya lainnya yang berjudul Homo Sapiens, tepatnya pada bagian ketiga dalam buku itu, agama ia letakkan sebagai konsep penyatuan manusia saja. Klaim itu ia dasarkan pada perkembangan kognitif manusia yang ia sebut sebagai Homo Sapiens. Baginya, salah satu kemampuan manusia adalah menciptakan imajinasi kolektif atau dengan bahasa lain, yakni fiksi.

Agama, kata Yuval, diciptakan manusia pada saat-saat ia tak berdaya. Agama adalah sebuah cerita tentang hal-hal yang tak bisa ditanggulangi manusia.

Ketika manusia merasa lemah, dia menciptakan sebuah cerita tentang suatu yang maha-perkasa. Ketika manusia merasa bodoh, dia menciptakan cerita tentang sesuatu yang maha-tahu. Ketika manusia merasa terbatas, dia menciptakan cerita tentang sesuatu yang maha-segalanya.

Dari abad ke abad, cerita-cerita itu makin banyak. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan cerita yang telah diciptakan manusia. Gunanya satu: demi survival atas keberlangsungan hidupnya. Yuval mungkin tidak membenci agama atau tuhan, ia justru menghargai dan kagum dengan kreativitas manusia yang mampu membuat fiksi yang sangat memukau.

Lantas datang dari mana klaim wabah adalah tentara tuhan? Sejarah? Oke, itu satu hal. Namun, ada kontradiksi yang akut dalam alam pikir pengusung klaim itu, misalnya; dengan ngotot dan bernada ngegas mengatakan “jangan larang kami beribadah di masjid”, bukankah itu kontradiktif?

Seharusnya, mereka, jika meyakini bahwa wabah adalah tentara tuhan, takut untuk keluar rumah dan kost, misalnya. Bukan malah ngotot, “nanti kau ditembak tentara tuhan saat jalan menuju masjid”.

Belum lagi klaim si Syomad (nama samaran) yang mengatakan “corona (Covid-19) diturunkan tuhan untuk melindungi salah satu umat muslim di Cina”. Sekarang corona sampai di Arab Saudi, apa mungkin tentara tuhan itu menyerang Ka’bah? Atau, siapa yang hendak diserang tentara tuhan di Indonesia, Syomad?

Sudahlah, kalau Yuval tak bermaksud membenci agama, buka saja kemungkinan baru, bahwa yang mungkin dibenci olehnya adalah pandangan-pandangan seperti Syomad.

Tulisan ini bukan dalam rangka memojokkan kelompok tertentu dan mengunggulkan kelompok lainnya. Hanya saja, kita yang awam ini perlu pandangan-pandangan yang valid untuk mencegah dan menekan persebaran Covid-19 itu.

Sampai di sini, benar juga kata Tom Nichols penulis buku Matinya Kepakaran. Bahwa di abad ini, pakar boleh saja digantikan dengan sosok influencer yang memiliki banyak followers.

Mari kita lupakan klaim tak berdasar Syomad itu, dan menyepakati sebagian ikhtiar saintis untuk terus mengembangkan penemuannya, agar perjalanan umat manusia ke depan tak lagi dihantui wabah. Kok sebagian? Pertanyaan itu persis pertanyaan sohibku saat kami berdiskusi di Libertaria Cafe perihal Covid-19.

Sejauh ini, tak ada fakta yang menunjukkan bahwa manusia bisa hidup selama-lamanya dan memiliki nyawa yang unlimited. Membaca Homo Deus memang membuat kita melayang-layang, utamanya ikhtiar Kurzweil dan de Grey sebagaimana yang telah saya ulas di atas.

“Selain tak memiliki fakta sejarah, sampai saat ini, ikhtiar saintis juga belum bisa menciptakan hal yang persis menyerupai manusia. Robot yang dilengkapi AI!” jawab seorang sohibku.

“Sejauh ini, penciptaan robot-robot itu belum bisa menyerupai sisi subjektivitas manusia. Tak hanya itu, coba tanyakan ke mereka, saintis, apakah tatanan alam ini terjadi begitu saja sebagaiamana theory big bang?” jawabku sambil menyeruput kopi saat itu.

Berbeda dengan ikhtiar saintis untuk mengabadikan manusia di bumi yang tak memiliki landasan sejarah, wabah justru banyak landasan sejarahnya. Sebut saja wabah Maut Hitam yang meletup dahsyat pada dekade 1330.

Ia mematikan sebanyak 75 juta sampai 200 juta nyawa meregang begitu saja dibuatnya. Angka tersebut lebih dari seperempat populasi di Euroasia saat itu, bahkan Florensia kehilangan 50.000 dari 100.000 penduduk akibat dari wabah Maut Hitam.

Maut hitam bukanlah peristiwa tunggal yang mengisi sejarah manusia. Epidemi yang lebih dahsyat juga pernah melanda Amerika, Australia, dan kepulauan Pasifik setelah kedatangan pertama bangsa Eropa di sana. Tanpa mereka sadari, bangsa Eropa membawa serta penyakit-penyakit menular baru ke tempat itu. Akhirnya 90 persen populasi lokal meninggal.

Dan banyak lagi sejarah virus yang silih berganti menghampiri manusia. Kini kawanan virus termutakhir kita namai Covid-19.

Apakah Covid-19 terjadi begitu saja? Banyak jawaban spekulatif atas pertanyaan itu. Agar terang, biarkan saja pakar yang memberi kita jawaban yang valid. Lagi pula, bukan itu yang hendak saya jawab. Tulisan ini hanya sekadar menampilkan ikhtiar saintis dan kolotnya pandangan Syomad agar urusan pencegahan dan pemusnahan Covid-19 ini kita tak bertaqlid buta-buta.

Sehat dan waras selalu, amiin.

TEKS & ILUSTRASI : QURETA.COM





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster