Ah, Akulah Penulis Paling Hebat – Cerpen Anto Narasoma

 340 total views,  6 views today

Cerpen Anto Narasoma

Orang tua itu terkekeh. Meski suara tawanya tidak keras, tapi bobot suara basnya begitu tegas, sehingga volumenya terdengar lantang dan berat.

“Kau jangan merasa bahwa dirimu itu segala-galanya. Karena tiap manusia itu ada kelebihan dan banyak sekali kelemahannya,” tukas orang tua itu setelah menghentikan tawanya.

Aku masih tetap bertahan dengan sikap awal bahwa karya yang kutulis sudah meledak di masyarakat. Bahkan tulisan terkait pemahaman tentang penguasaan teknologi itu sudah dicetak ulang untuk terbitan kedua.

“Dari keberhasilan buku inilah sikap dan cara berpikirmu dihadang berbagai ujian. Karena itu kau harus menyadari bahwa kebehasilanmu ada campur tangan orang lain,” ujar orang tua itu. Suara beratnya membelah kesunyian.

“Apa masuk Bapak adanya campur tangan orang lain,” tanyaku. Aku ssngat benci dengan pernyataan orang tua itu. Karena karya ini adalah murni dari pengalaman dan hasil pemikiranku sendiri.

Orang tua itu kembali tertawa. Perasaanku semakin menyesak. Ingin marah ke pada orang tua berambut panjang putih ini, rasanya tidak pantas. Sebab usianya sama seperti umur ayahku almarhum.

“Nak, kau tadi mengatakan, karya itu hasil pengelolaan pikiran dan pengalamanmu? Hmm, tak ada orang yang memprotes itu adakah karyamu,” kata orang tua itu. Mimiknya kali ini begitu keras.

“Nah, lantas Bapak tadi mengatakan ada campur tangan orang lain. Apa maksud ucapan Bapak tadi,” tanyaku. Nada suaraku meninggi karena aku tak suka ucapannya.

Orang tua itu menatap tajam ke arahku. Ia tersenyum. Bagiku senyum itu begitu menusuk perasaanku. Api kemarahan yang selama berjumpa dengan orang tua itu tersimpan sejuk, mulai membara. Aku mulai tersinggung.

“Maaf, Pak. Aku agak tersinggung dengan ucapan Bapak yang telah mengatakan campur tangan orang lain,” kataku mulai dibakar emosi.

“Nak, kita ini manusia. Mungkin kita mampu untuk berkarya lebih baik dari karyamu ini. Tapi pada satu sisi, banyak kelemahan kita yang mampu mengatrol popularitas kita,” kata orang tua itu.

Orang tua itu memberikan contoh yang sangat dekat dengan kehidupan diri manusia. Tiap orang memiliki dua tangan. Tangan di sisi kanan lebih kuat ketimbang tangan kirinya. Bahkan sebaliknya, seorang kidal, tangan kirinya lebih gagah dibanding tangan kanannya.

“Itu artinya, kau memiliki kelebihan pada satu sisi. Tapi di sisi lainnya kau tidak memiliki kelebihan. Itu sebenarnya filosofi hidup yang harus kau pahami,” ujarnya.

Kembali ke karyaku yang sukses menembus pasaran pembaca. Apalagi banyak peminat yang suka membacanya, itu menunjukkan bahwa karyaku bukan aku yang menangani pemasarannya. Ah, aku baru sadar. Seperti orang pingsan baru tersadar setelah diguyur air es. Masya Allah, orang tua ini betul.

“Coba kau lihat di TV itu. Ada dua pembaca berita, laki-lako dan perempuan yang begitu indah menyampaikan isi berita. Sesungguhnya orang mengenal dirinya setelah ada yang menulis berita yang mereka bacakan. Belum lagi peran teknisi perusahaan tivi tersebut yang telah membantu keduanya tampil di layar kaca, sehingga ia dikenal banyak orang. Karena itu popularitas keduanya karena ada yang membantunya,” kata orang tua itu.

Kata-kata orang tua itu seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Tepat mengenai nilai kesadaranku sebagai anak muda yang angkuh, sombong dan selalu memuji diri sendiri. Ya Allah, apa yang dikatakan orang tua benar dan tepat sekali. Serta merta kemarahan yang telah membakar emosiku tiba-tiba redup dan lenyap.

“Masya Allah. Maafkan aku Pak. Aku tadi telah tersinggung dengan ucapan Bapak. Setelah Bapak menjabarkan segala keterlibatan orang lain dan sejumlah kelemahan kita sebagai manusia, aku baru menyadarinya. Ah, maafkan aku, Pak,” kataku dengan ritme suara lembut.

Orang tua itu kembali tertawa. Ia menepuk lembut pundakku. “Nak, Bapak tidak meragukan kepiawaianmu dalam hal menulis. Menuangkan ide-ide serta teknik.jelajah pikiranmu yang begitu jauh menerawang untuk membuat tulisanmu menjadi lebih menarik. Tapi ingat, yang menerbitkan buku itu bukan dirimu, kan?”

“Iya, Pak,” jawabku.

“Nah, itu baru satu sisi yang kukatakan. Belum lagi soal pencetakan buku, usaha untuk memperoleh ISBN dan usaha pemasarannya, pasti dilakukan orang lain, Nak. Ingat itu, agar bisa menjadi nilai bagi kesadaran kita yang banyak sekali kelemahannya,” ujar lelaki tua itu menguncir rambutnya yang putih, riap-riapan ditiup angin dari jendela kayu rumahnya.

Sebenarnya, diri manusia itu ibarat cermin. Meski ia diciptakan sebaik-baiknya oleh Sang Mahapencipta, namun ada batas-batas kemampuan di didalam dirinya yang dhoif dan fana.



“Mata kita ini alat untuk melihat apa saja yang terlihat. Bahkan akan selalu melihat diri orang lain. Melihat segala kelemahan orang lain. Lantas, dengan mata itu, mampukah kita melihat kelemahan diri sendiri?” tanya orang tua itu.

Aku diam mendengar itu. Pokok pemahamanku mulai menjelajahi ke berbagai sikap dan contoh teladan yang sangat luas itu. Tapi aku belum mampu memahaminya secara luas. Namun aku berpikir, semakin banyak nilai yang kuperoleh dari contoh yang disebutkan orang tua itu, membuat sikap seseorang akan menjadi bijak. Yah, sikap inilah yang aku perlukan.

“Tapi nanti. Setelah usiamu dan pengalaman hidupmu bertambah, emosi dirimu makin menjadi bijak. Karena ini naluri dan format kehidupan yang dialami semua orang. Sepanjang ia mau mengubah dirinya, Insya Allah ia akan menjadi lebih baik,” kata orang tua itu.

Aku tercenung di atas kursi butut di rumah orang tua itu. Segala apa yang diucapkan Bapak berambut putih dan panjang ini sangat mengena untuk membangun kebaikan dan kebijakan pribadi.

“Tak usah jauh-jauh, Nak. Diri Bapak ini dulunya muda seperti lelaki seusiamu. Tapi sekarang Bapak sudah berusia 70-an. Segala nikmat dan kenikmatan yang diberikan Allah SWT, sudah banyak yang dikurangi,” ucap orang tua itu.

Pada surat Ali Imran ayat 145 disebutkan,” Senakin bertambah usia, semakin gugurlah gigi-gigi kita. Karena Allah sedang mengingatkan, suatu hari nanti kita akan gugur ke dalam tanah selamanya.”

“Nah, inilah keterbatasan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk menolak kapan kita bakal mati. Karena yang menentukan semua itu adalah Allah SWT. Karena itu janganlah sombong, angkuh, merasa hebat sendiri. Bahkan selalu mengolok-olok kelahan orang lain. Sedangkan kelemahan sendiri kita “pelihara” untuk diri kita menjadi sombong dan angkuh,” ujar orang tua itu.

Aku hanya tertunduk mendengar apa yang diucapkannya. Ah, aku keliru telah membanggakan kelebihan diri sendiri. Padahal kelemahan diri sendiri itu adalah nasihat paling bijak. (*)

Tirta Bening 29 Februari 2020

KLIK DI SINI – Baca Cerpen LAINNYA





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster