Seharusnya Guru, Bukan Pengajar

 127 total views,  4 views today

Oleh : Ahmad Romdoni, Freelancer

Saya dengan mudah dapat menyelami perasaan patriotisme Belanda yang ada pada mereka sekarang, mereka yang dapat merayakan hari ulang tahunnya sekarang. Karena saya pun seorang patriot, dan seperti orang Belanda yang beraliran nasional murni yang mencintai Tanah airnya, saya pun mencintai Tanah air saya lebih daripada yang dapat saya katakan.

Tulisan di atas adalah penggalan tulisan dari orang yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara adalah Bapak pendidikan di negeri ini.

Nama Ki Hajar Dewantara ia gunakan ketika usianya menginjak usia ke-40 tahun—yang pada saat yang sama—tepatnya tahun 1929 ia berhasil mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa. Perubahan namanya dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara dimaksudkan untuk menanggalkan status darah birunya agar bisa lebih dekat dengan rakyat.

Baco Jugo : MENGHINA GURU, INI HUKUMAN DALAM KEHIDUPAN

Melalui pemikiran-pemikirannya, banyak tokoh-tokoh seangkatannya menjadi tergugah untuk turut berpikir dan berjuang membebaskan negeri ini dari penjajah. Salah satu tulisannya yang menjadi tonggak pergerakkan adalah Als Ik eens Nederlander Was (Seandainya Saya Orang Belanda) yang penggalan tulisannya dituliskan di atas.

Tulisan yang dimuat di Harian De Express milik Dr. Douwwes Dekker itu menunjukkan keberaniannya menentang rencana penarikan sumbangan Pemerintah Kolonial Belanda dari masyarakat Hindia-Belanda untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Spanyol.

Konsekuensi dari tulisannya itu, Ki Hajar Dewantara harus menerima hukuman dari pemerintah Kolonial Belanda—melalui Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (masa jabatan 1909-1916 ) dengan hukuman internering atau hukuman tahanan kota tanpa proses pengadilan. Ki Hajar Dewantara pun dibuang ke Pulau Bangka.

Ki Hajar Dewantara yang lahir pada tanggal 2 Mei 1889 memiliki dedikasi yang luar biasa dalam upaya menyebarkan minat belajar kepada masyarakat Hindia-Belanda alias Indonesia.

Tujuannya, dengan merasuknya pendidikan ke dalam jiwa masyarakat, maka dengan sendirinya masyarakat Hindia-Belanda akan tergugah dan berpikir untuk memerdekakan diri.

Maka, atas jasanya, tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, yaitu tanggal 2 Mei, dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Semboyan Ing ngarsa sung tulada (di depan menjadi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memperbaiki) menjadi semboyan sakral dalam dunia pendidikan di Nusantara.

Akan tetapi, benarkah ajaran yang terkandung dalam ketiga semboyan di atas dimiliki oleh para penyelenggara pendidikan di Negeri ini? Jika mau berkata jujur, tentu saja, jawabannya belum.

Secara konstitusional, definisi guru berdasarkan pasal 1 angka 1 UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yakni Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dari definisi guru ini, jika dicermati secara seksama, sejatinya telah terjadi pergeseran makna guru. Kini, makna guru bukan lagi sosok yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan tanpa memikirkan imbalan.

Akan tetapi, makna guru kini adalah sebuah profesi atau sebuah mata pencaharian. Sehingga sekarang, orang-orang yang menjadi guru—dengan definisi sesuai dengan UU tentang Guru dan Dosen—adalah orang-orang yang sebenarnya tercetak akan kebutuhan pekerjaan.

Maksud kata ”profesional” dalam pasal 1 angka 1 UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijabarkan di angka 4-nya yang berbunyi:

“Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi”.

Terlepas dari makna konstitusional, hakikat guru atau pendidik, menurut Hasan Basri dalam buku Filsafat Pendidikan Islam (2009), adalah figur manusia yang menjadi sumber dan memegang peranan penting dalam dunia pendidikan.

Untuk itu, ketika kita semua membincangkan tentang pendidikan, sosok pendidik tidak bisa lepas dari agenda perbincangan itu.

Hasan Basri menyebutkan, pendidik dan peserta didik adalah dwitunggal yang kokoh bersatu, yang tidak bisa terpisahkan karena hakikatnya pendidik dan peserta didik adalah satu jiwa meski berbeda raga.

Dari pandangan ini kita bisa melihat bahwa sinergisitas antara pendidik dan peserta didik amat diperlukan demi terciptanya sebuah proses pembelajaran yang efektif.

Dalam sistem pendidikan yang mapan hari ini, Paulo Friere berpendapat bahwa sistem pendidikannya bergaya bank yang antagonis.

Dalam pendidikan bergaya bank seperti yang disebutkan Freire, menempatkan peserta didik sebagai “bejana kosong” yang dapat diisi dengan apa pun sekehandak pengajar.

Model ini, memosisikan pengajar sebagai subyek aktif sedangkan peserta didik adalah obyek pasif yang penurut.

Dengan demikian, pendidikan akhirnya bergeser menjadi bersifat negatif atau minor karena pengajar hanya memberi informasi yang harus ditelan bulat-bulat oleh peserta didik.

Pendapat serupa Freire juga dikemukakan Anita Lie. Guru Besar bidang Ilmu Afro American Literature, Languange Teaching Methodology dan Reading di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini menyatakan, banyak pengajar dan bahkan dosen menerapkan metode-metode yang memplot peserta didik sebagai kertas putih kosong yang menunggu coretan-coretan apa pun dari pengajar atau dosen.

Anita Lie juga menggambarkan metode pembodohan itu ke dalam empat jenis yaitu: (1) memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik; (2) mengisi botol kosong dengan pengetahuan; (3) mengotak-kotakan peserta didik; dan (4) memacu peserta didik untuk berkompetisi bagaikan ayam aduan.

Mengembalikan Makna Guru

Dalam kitab Ta’lim Mita’alim Thariqat Ta’lim, Asy-Syekh Az-Zarnuji bahkan menganjurkan agar calon peserta didik untuk terlebih dahulu memilih-milih orang yang akan dijadikan guru.

Asy-Syehkh Az-Zarnuji mengisahkan dalam kitabnya kisah Imam Abu Hanifah yang memikir-mikir dan mempertimbangkan dengan masak-masak sebelum kemudian Imam Abu Hanifah menjatuhkan pilihan kepada Syekh Hammad sebagai gurunya.

Anjuran As-Syekh Az-Zarnuji bisa jadi bertentangan dengan adagium “semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru”.

Namun, di sini penulis mencoba mengambil napas dari anjuran Asy-Syekh Az-Zarnuji dari sudut pandang bahwa peran pendidik atau guru memang benar-benar vital sehingga sekaliber pengarang kitab saja memosisikan sosok guru tidak berada di sembarang orang.

Guru atau pendidik menjadi sentral dalam proses pendidikan. Itulah argumentasi yang disampaikan Ulil Amri Syafri dalam bukunya Pendidikan Karakter Berbasis Alquran (2014).

ara pendidik, menurut Ulil, dituntut harus memiliki kepribadian dan intelektualitas yang baik yang sesuai dengan Islam sehingga konsep pendidikan yang diajarkan dapat langsung diterjemahkan melalui diri para pendidik.

Masih menurut Ulil, pendidik dalam Islam adalah qudwah (panutan) dalam setiap kehidupan pribadinya untuk itulah pendidik menjadi cermin bagi peserta didik.

Pendapat ini bernapas sama dengan pendapat lain yang menyatakan bahwa sosok pendidik amatlah penting dalam proses belajar. Ia adalah sosok manusia yang bisa menjadi contoh perilaku bagi peserta didiknya.

Majalah Kebudayaan Jawara edisi III tahun 2016 menyebutkan, kata “guru” diserap dari bahasa Sanskerta yang bermakna “gu” berarti “kegelapan”,
“ru” berarti “orang yang menghilangkan kegelapan”.

Makna asal kata “guru” adalah lebih daripada sekadar seseorang yang mengajarkan pengetahuan tertentu, melainkan seseorang yang juga berfungsi sebagai “penasehat, semacam orang tua bagi pikiran dan jiwa siswa, yang membantu membentuk nilai-nilai dan pengetahuan, teladan dalam hidup, sumber inspirasi, dan yang mengungkapkan makna kehidupan”.

Akan tetapi, makna guru kini telah bergeser—atau sengaja digeser—menjadi sebuah profesi, seperti yang didefinisikan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Seharusnya, makna guru lebih merujuk kepada sebuah pengabdian, bukan sebuah profesi.

Di sekolah-sekolah saat ini, sebenarnya sudah tidak ada lagi guru, yang ada hanyalah pengajar.

Guru seharusnya memiliki tugas ganda yaitu sebagai pendidik dan pengajar. Jika hanya pengajar maka seyogyanya ia belum bisa disebut sebagai guru.

Guru yang profesional bukan hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, menguasai metode yang tepat, mampu memotivasi peserta didik, serta keterampilan yang tinggi, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat.

Pengajar zaman sekarang bukanlah orang yang mengabdikan diri untuk pendidikan, melainkan orang-orang yang menganggap mengajar adalah sebuah profesi.

Selain itu, sebutan lain dari guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa karena zaman dulu guru mengajar dengan sukarela dan menganggap mengajar adalah sebuah pengabdian.

Jika merujuk kepada makna kata guru yang berarti seorang ahli dalam bidang tertentu yang dianggap mulia, tentu saja seorang guru memiliki kharisma dan teladan yang baik bagi murid-muridnya.

Seorang guru tidak hanya memiliki kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga menguasai ilmu pedagogi.

Sedangkan para pengajar zaman sekarang adalah orang-orang yang tercetak dari kebutuhan akan suatu pekerjaan, sehingga bagi pengajar zaman sekarang yang penting adalah memiliki kemampuan untuk mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung.

Pengajar zaman sekarang jasanya sudah diberi tanda berupa gaji atau honor mengajar. Jadi, pengajar zaman sekarang tidak tepat bila disebut “pahlawan tanpa tanda jasa” karena pengajar zaman sekarang bukanlah guru.

Bahkan, ada adagium yang mengatakan bahwa jika dulu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa tetapi sekarang guru adalah pahlawan penuh tanda tanya.

Sistem pendidikan yang digambarkan di atas jelas sangat membutuhkan guru, bukan pengajar. Karena guru akan mampu untuk tidak sekadar memberi pelajaran dasar, melainkan juga mampu memberikan pelajaran moral, menanamkan benih kreativitas, intelektualitas, dan (yang pasti) orientasi mengajar seorang guru tidak tertuju kepada gaji, melainkan kepada panggilan jiwa untuk mengabdi.

Imam Al-Ghazali memiliki pendapat ekstrim tentang pendidik atau guru. Al-Ghazali berpendapat, pendidik adalah sosok manusia yang secara total berkonsentrasi kepada bidang pendidikan. Ia tidak boleh melakukan aktivitas lainnya. Namun di sisi lain ia juga dilarang menerima imbalan.

Gagasan Al-Ghazali itu mungkin mesti ditinjau ulang jika dilihat dari perspektif metodologi pendidikan hari ini.

Namun hal yang bisa ditarik dari pendapat Al-Ghazali itu ialah, bahwa seorang guru atau pendidik memang seharusnya adalah sosok yang mengabdikan dirinya kepada pendidikan bukan sekadar orang yang menggantungkan pendidikan sebagai mata pencaharian.

Dalam ringkasan Kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam mengatakan, guru adalah orangtua yang sebenarnya karena ayah dan ibu hanyalah penyebab lahirnya manusia ke alam dunia sedangkan guru bisa jadi adalah penyebab manusia berada di kehidupan yang kekal (akhirat-surga).

Dari pendapat Al-Ghazali ini yang dapat ditarik benang merahnya adalah bahwa sejatinya sosok guru juga merupakan bagian penting dari perkembangan hidup manusia selain kedua orangtua.

Guru juga harus mampu membangun interaksi dengan peserta didiknya dengan penuh kelembutan seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Saw. Kelemah-lembutan Rasulullah ketika menjadi seorang pendidik membuat peserta didiknya mampu menyelami hakikat ilmu yang diajarkan oleh beliau.

Sikap guru yang santun dalam menyampaikan materi-ajar akan membuat peserta didik mencintai gurunya dan akan berdampak positif dalam proses pencernaan pelajaran yang diberikan.

Sebaliknya, seorang pengajar yang arogan yang menyampakan pelajaran dengan kata-kata yang kasar, menghina muridnya, dan bahkan menghujat hanya akan membuat peserta didik berjiwa keras dan cenderung berwatak pembangkang.

Bahkan ketika menasihati peserta didik pun hendaknya tidak dilakukan dengan cara terang-terangan melainkan dengan cara memberikan contoh sikap-sikap kemuliaan.

Freire menyebutkan betapa krusialnya peran guru dalam membangkitkan kesadaran kritis peserta didik.

Menurutnya, seorang guru jangan sampai memaknai sebuah teks hanya sebatas teks apalagi mereduksinya menjadi “lirik” yang membuat peserta didik mengantuk.

Seorang pendidik, menurut Freire, harus bisa mengungkapkan kehidupan nyata yang memang bermasalah kemudian menghadirkan tantangan yang dihadapi setiap hari oleh peserta didik.

Untuk itulah, guru juga bisa menjadi teladan perilaku yang baik bagi para pelajar. Dalam bahasa Jawa, kata guru diartikan sebagai pemampatan dari kata “digugu” dan “ditiru”. Digugu berarti didengar ucapannya dan ditiru berarti dicontoh tingkahlakunya.

Sumber : QURETA.COM





Web development by oktopweb.com