Cara Menguasai Suasana Acara

24 total views, 3 views today

BICARA yang baik dengan tata bahasa terstruktur dan cerdas, hanya bisa dilakukan dengan cara belajar secara terus-menerus.

Karena itu penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) ternama di era 1960-an, Olan Sitompul, selalu mencari hal-hal baru untuk ia kemukakan dalam kesempatan ia bekerja sebagai penyiar radio plat merah.

Ia sadar, ternyata isi benak dan wawasan luas merupakan landasan utama untuk menjadi penyiar yang cerdas. Dengan tampilan seperti itu, maka pendengar akan terkesan dan simpati terhadap Olan Sitompul.

Mamang, kebiasaan membaca situasi menjadi gagasan pertama ketika kita dipercaya untuk bekerja sebagai penyiar (baca: master ceremony).

Secara psikis, ketika kita mencoba membaca situasi, dasar pengetahuan yang menjadi landasan awal adalah mampu menguasai situasi.

Dalam suasana apa ketila kita dipercaya memimpin acara. Misalnya acara hiburan. Pada kesempatan itu kita ditantang untuk memahami suasana. Sebab suasana yang paling dekat dengan kita adalah situasi lingkungan. Seperti diungkap penyiar (MC) ternama Amerika Serikat, Nicole Briscoe, ketika ia dibebani untuk menghidupkan suasana, instiknya masuk ke dalam nilai-nilai situasi. Secara intensi, Nicole mencoba memburu suasana yang menyekap tugasnya.

Menjadi MC, kata Nicole, harus memahami diri sendiri sebagai personal yang mengungkap situasi. Karena itu, aecara sense of human, Nicole mencoba memetik nilai suasana untuk diucapkan sesuai tingkat wawasan yang dimilikinya.

Ada pertanyaan, mengapa ada pembawa acara yang nada dan temperamen suaranya kaku? Dalam buku Figuratif Language yang ditulis Adam Alexander, mengucap kata itu harus disertai nada (tone speack) berayun dan lentur.

Sedangkan emosi yang kita sertakan disaat mengungkap mata acara, harus selalu terkontrol. Karena komposisi jiwa ketika menghadapi suasana (acara), secara psikis akan menghadapi tekanan waktu dan persoalan manusia lain di luar diri kita.

Baco Jugo Berita Lainnyo :

Apabila kita mampu menguasai itu, maka kreativitas akan muncul secara empiris. Di sinilah letak kemampuan kita diuji untuk (mampu) menghidupi suasana pesta atau acara seni budaya.

Sebab emosi jiwa kita akan berombak ketika sudah menguasai keadaan. Dan, daya ucap kita akan mampu menyenandungkan nilai rhythm and rime.

Inilah keistimewaan seorang pembawa acara yang mampu mengusung tema acara (Bob Barker : Imagery, Rhytm and Rime 1967).

Jadi, menyenandungkan ucapan tidak hanya dimonopoli penyanyi saja, seorang pembawa acara yang profesional sangat membutuhkan fell and tone.

Jika kita sudah menguasai nilai intention dalam mengelola suasana acara, maka akan terlihat grafik suasana yang menarik.

Karena penyiar berkukit hitam Billy Bush menjadi sangat tersohor dalam tiap acara apapun si Amerika Serikat. Kuncinya, kata Billy, belajar, belajar, belajar dan berkarya (tampil sebagai pembawa acara).

Tirta Bening, 5 Februari 2020





Web development by oktopweb.com