Perang 5 Hari 5 Malam Palembang yang Terlupakan

 555 total views,  2 views today


Oleh Kemas Ari, Peminat Sejarah, Budaya dan Sastra, serta Jurnalistik

Memasuki Tahun Baru 2020, tak terasa 73 tahun sudah terjadinya Perang 5 hari 5 Malam di Palembang (P5H5MP), yang terjadi pada tanggal 1-5 Januari 1947.

Peristiwa ini sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, dan Palembang satu diantara kota yang menjadi sasaran Belanda dalam merongrong kedaultan RI.

Banyak korban tenaga, harta, dan bahkan ribuan nyawa yang melayang. Ada ribuan orang menjadi korban dari serangan berutal pasukan Belanda.

Namun, sepertinya banyak yang lupa akan peristiwa ini. Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Perang diawali pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi.

Ketika itu sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda mabuk karena pesta malam tahun baru, keluar dari Benteng (BKB) dengan kecepatan tinggi. Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati.

Sumber Foto : https://lemabang.wordpress.com

Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan. Kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI atau Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara.

Atas aksi Belanda yang melampaui batas ini disambut oleh pihak Republik, maka dimulailah perang yang kemudian berlanjut dengan perang kota. Melihat betapa gigihnya para pejuang dalam P5H5MP, sudah selayaknya peristiwa ini dijadikan momen bersejarah oleh pemerintah provinsi Sumatera Selatan dan kota Palembang.


Keterangan: Suasana Peringatan Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang, beberapa waktu yang lalu. | Foto : sndrtsk.blogspot.com

Bahkan Seharusnya diperingati setiap tahun agar masyarakat tahu, bahwa daerah ini juga memberikan sumbangsih besar terhadap kemerdekaan RI. Bukankan dengan mengingat sejarah, rasa kecintaan terhadap Negara ini (nasionalisme) akan semakin kuat. Bahkan jika dikemas dengan baik, peringatan bersejarah seperti ini dapat juga bermanfaat dari sisi kepariwisataan, dll.

“Para pejuang telah melewati jalan yang sangat sulit untuk kemerdekaan, sangatlah naif dan keterlaluan jika kita tidak dapat menyelenggarakan kegiatan yang sekadar mengingat jasa-jasa mereka. Kegiatan peringatan harusnya mendapat dukungan oleh berbagai pihak.”

foto : https://lemabang.wordpress.com

Sudah ada beberapa pihak yang pernah menggagas untuk melakukan kegiatan diskusi dan doa bersama tentang P5H5MP, sayang karena kurangnya dukungan dan perhatian akhirnya tergerus juga oleh gemerlapnya perayaan tahun baru dan ke-alfa-an kolektif tentang sejarah bangsanya.

Disaat tahun baru di rayakan dengan pesta dan hura-hura serta pesta kembang api, Setidaknya pada beberapa tahun belakngan sejumlah unsur pencinta sejarah diantaranya Museum dr AK Gani Dewan Kesenian Palembang (DKP), Lembaga Budaya Ulu Melayu (LBUM), dan Kesultanan Palembang Darussalam (KPD), Komunitas Pencinta Sejarah UIN Raden Fatah Palembang, MGMP Sejarah kota Palembang, selalu menggelar kegiatan yang yang sederhana saja seperti diskusi, baca puisi, dan Doa Bersama untuk para pahlawan yang terlibat dalam Perjuangan P5H5MP.

Seharusnya diantara tanggal 1-5 Januari ini, dibuat acara-acara menarik di Palembang seperti lomba puisi, treatrikal perang lima hari lima malam, Diskusi dan Seminar Lomba lukis, dll yang dapat menimbulkan kecintaan dari generasi muda di Palembang, yang penting ada apresiasi dari pemerintah dan masyarakat. Kegiatan monumental seperti ini bisa juga dilakukan dengan melibatkan dari perusahaan-perusahaan yang ada di Sumsel dan Palembang melalui dana CSRnya, intinya bersinergi antar berbagai pihak.

Sumber : kompasiana.com





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster