Jangan Memaksa Kerbau untuk Mencintaimu

 777 total views,  2 views today

Cerpen Imron Supriyadi 

Sudah enam tahun ini, Gus Pri, putra tunggal Kiai Salam almarhum dan istrinya, Nyai Hayat mengelola Rumah Tahfidz Al-Quran di Palembang. Menjadi pengasuh Rumah Tahfidz, bagi Gus Pri bukan menjadi cita-cita awalnya. Kata Gus Pri suatu hari pada saya, mengelola Rumah Tahfidz ini hanya meneruskan titah Kiai Salam dan Kakeknya Kiai Alidirejo, yang keduanya juga guru mengaji.

Sebab, sejak kami sama- sama sekolah di Mualimin Desa Tanjungraja, Gus Pri tidak suka mengaji dan membaca kitab. Gus Pri justeru suka menjadi sutradara dalam permainan drama bersama kawan sekolahnya.

Baik di panggung sekolah atau di TVRI Palembang. Sesekali, saya juga dipaksa ikut main, walaupun sebenanya saya tidak cukup berbakat menjadi aktor. Tapi berkat ketekunan Gus Pri melatih, saya sedikit-sedikit bisa akting.



Bahkan, setiap libur sekolah, Gus Pri mengajak beberapa kawan ke rumahnya, bukan belajar mengaji, atau belajar ilmu tajwid, nahwu dan shorof. Tetapi berlatih main film seperti para aktor dan aktris kawakan seperti di beberapa televisi.

Untuk meyakinkan kawan sepermainannya, selain Gus Pri menjadi sutradaranya, Gus Pri juga merangkai beberapa potongan papan bekas dengan paku, dan dibentuk seperti kamera tiruan. Saya, kadang dipaksa Gus Pri memegang kamera palsu yang dibuatnya.

Kali itu, Gus Pri mendaulat beberapa kawannya berakting di depan kamera. Kalau malam tiba, Gus Pri menarik kabel listrik dan memasang sebuah bola lampu dalam kamera palsunya, sehingga muncul gambar-gambar yang diambil dari klise foto, atau lukisan diatas plastik yang kemudian terpancar di tembok, seperti layar tancap di kampung-kampung.  

Tapi sejak awal, almarhum Kiai Salam tak merestui hobi Gus Pri. Kiai Salam berkeinginan agar kelak Gus Pri menjadi kiai, bukan menjadi bintang fim dan sinetron. Paling tidak, kata almarhum, Gus Pri harus menjadi guru ngaji di kampungnya, sebagimana yang dilakukan Kiai Salam, sejak tamat dari Pondok Krapyak Yogyakarta, hingga akhir hayatnya.

“Ndak usah pengen jadi bintang film! Kowe kudu dadi kiai, atau guru ngaji di kampung. Jadi bintang film itu banyak maksiat. Nanti kamu pegang-pegangan dengan perempuan yang bukan muhrim. Haram itu!” pesan almarhum Kiai Salam itu, hingga kini masih terngiang di benak Gus Pri.

Untuk mewujudkan cita-citanya, seingat saya–sejak  Gus Pri duduk di sekolah dasar, almarhum Kiai Salam sangat rajin membelikan Gus Pri — kaset pengajian H Nanang Qosim Hj Maria Ulfa. Kalau ceramah, Gus Pri disuruh mendengarkan kaset KH Zainundin MZ, KH Qosim Nuseha melalui Radio Kayu Manis Jakarta. Tak hanya itu, Gus Pri selau diajak almarhum ikut Pengajian KH M Noor di Medari Sleman, atau di Mushola Pengulon belakang Candi Borobudur.

“Kalau kamu tidak ikut ngaji, nanti tidak Abah belikan sate,” ujar almarhum Kiai Salam, setiap memaksa Gus Pri agar ikut mengaji kemana saja almarhum pergi, ketika itu.

Demikian juga Nyai Hayat, Isteri Gus Pri. Tak terbayang sebelumnya bila saat ini bersama Gus Pri ikut mengelola Rumah Tahfidz di Palembang. Sebab, sejak menempuh studi di perguruan tinggi pendidikan di Palembang, orang tua Nyai Hayat, bercita-cita agar putri sulungnya ini menjadi pegawai di sebuah kantor kabupaten, dan bisa mengenakan seragam PNS, seperti anak Mang Dardak, yang sudah lulus 3 tahun lalu. Tapi cita-cita Nyai Hayat berbailk 180 derajat ketika menikah dengan Gus Pri — yang kini dipaksa keadaan harus mengelola Rumah Tahfidz Al-Quran.

Pada saat tertentu, Nyai Hayat, ada saja kegelisahan terhadap pilihan hidupnya mengelola santri. Satu kesempatan, Nyai Hayat minta saran dan wejangan dari ajengan (kiai) di Garut Jawa Barat, tempat pernah Nyai Hayat nyantri.

“Alhamdulilah, kalau kamu sekarang menjadi Nyai bagi santri-santrimu. Kalau si Sri dan Hari jadi PNS, ya tidak apa-apa. Tapi kamu diberi Allah kemuliaan untuk mengurusi santri. Banyak bermanfaat bagi banyak orang. Kesuksesanmu bukan PNS atau tidak, tapi karena kamu berhasil mendirikan Rumah Tahfidz untuk santri yatim dan dhuafa. Ajengan bersyukur, kalau anak murid Ajengan sekarang jadi Nyai. Bismillah, nak,  itu berkah dunia dan akhirat,” ujar Ajengan memberi semangat Nyai Hayat, melalui telponnya.

Bersyukurnya, Gus Pri dan Nyai Hayat sama-sama pernah nyantri di pondok di daerah berbeda. Meskipun ketika itu, keduanya termasuk santri mbabung, yang kurang tertarik dengan pelajaran pondok.

Namun dengan keadaan sekarang, Gus Pri dan Nyai Hayat harus kompromi dengan takdir untuk belajar mengelola Rumah Tahfidz bersama puluhan santri, yang berlatar belakang yatim dan dhuafa di Palembang.

Kian hari, santri Gus Pri bertambah. Kapasitas ruang dan kamar tak lagi sesuai dengan jumlah santri. Gus Pri dan Nyai Hayat pun harus berpikir keras untuk merancang dan mengembangkan Rumah Tahfidz menjadi pondok pesantren lengkap dengan pendidikan formalnya untuk santri-santrinya yang mayoritas putus sekolah. Bahkan sebagian lagi sama sekali tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

Segala program dan mata pelajaran pondok ditulis sedemikan rupa. Nyai Hayat mencoba mengingat kembali pelajaran dan metode pengajaran di pondoknya sebagai rujukan. Demikian juga Gus Pri, menyusun semua strategi dan tata kelola pondok yang ideal secara outodidag.

Sesekali Gus Pri sowan ke sejumlah kiai. Sempat juga Gus Pri ngunduh ilmu ke KH Imron Jamil di Jombang. Belakangan, secara digital–Gus Pri belajar Kitab Al-Hikam karangan Syekh Ibnu Athoilah yang diasuh KH Imron Jamil, pendiri Pondok Pesantren dan sekolah Kiai Mojo di Jombang.

Tak puas dengan itu, Gus Pri beberapa tahun harus mengabdi ke sejumlah pondok untuk menimba ilmu. Sesekali Gus Pri siap jadi apa saja untuk kiai-nya. Harapnnya dengan menjadi asisten atau pembantu kiai, akan sedikit banyak mendapat cipratan ilmu dan karomah dari beberapa kiai tempat Gus Pri ber-hikmat.

Cita-cita mendirikan pondok sudah dimulai. Sebagai modal awal, Gus Pri dan Nyai Hayat menyiapkan tanah 1.200 meter di Desa Ibul Besar II Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Selebihnya, masih ada lagi 1.500 meter yang sedang dibebaskan. Kalau sudah selesai, ada 1.800 meter yang siap diwakafkan. Tetapi, Gus Pri harus memulainya dengan area yang tersedia. Pertengahan 2020, segera dilakukan peletakan batu pertama.

Namun, syetan selalu lebih pintar dari manusia. Gus Pri sangat rentan dibisiki syetan untuk menghentikan cita-citanya. Tapi tekadnya mewujudkan titah almarhum Kiai Salam lebih kuat, sehingga syetan harus mencari strategi lain untuk mengganggu rencana itu.

Tak lain, melalui Nyai Hayat. Syetan merasuki pola pikir Nyai Hayat–Hingga pikirannya tergugah untuk meragukan cita-cita keduanya. Target syetan, Gus Pri harus mundur dari rencana awal. Syetan berhasil menelusup di relung hati Nyai Hayat.

“Abah, apa rencana kita tidak salah?” tanya Nyai Hayat pada Gus Pri di suatu pagi.

“Rencana yang mana?” Gus Pri menanggapi serius.

“Mengembangkan rumah tahfidz menjadi pondok,” jawab Nyai Hayat pendek.

“Tidak ada yang salah untuk kebaikan. Kok tiba-tiba Nyai jadi ragu?” Gus Pri agak menggeser kursinya lebih dekat dengan jendela tempat Nyai Hayat duduk.

“Kata sebagian orang, mendirikan dan mengembangkan pondok itu hanya untuk memperkaya diri, sementara santrinya tidak diurus,” Nyai Hayat serius.

“Jangan berkaca pada air keruh. Itu sebagai pelajaran kita ke depan. Kalau itu buruk, berarti kita jangan melakukan hal serupa!” tukas Gus Pri.

Semburat keraguan Nyai Hayat itu bukan tanda dasar. Sebab sejak Gus Pri dan Nyai Hayat mengelola Rumah Tahfidz, tidak sedikit cerita-cerita santrinya tentang tata kelola pondok pesantren yang tidak serius mengurusi santri.

Seperti dikisahkan Fahrudin, yang keluar dari pondoknya karena sebagian ustadznya tidak menjadi tauladan. Peraturan di pondok harus puasa Senin dan Kamis, tapi ustadz-ustadznya tidak puasa. “Kalau memang tidak puasa, jangan makan di depan santri. Itu kan tidak bagus untuk percontohan kami,” ujar Fahrudin, berkisah pada Nyai Hayat, sembari belajar masak di dapur bersama santri lainnya.

Lain halnya dengan Zulkarnain. Keluar dari pondoknya karena tidak sesuainya antara perjanjian awal antara wali santri dan kenyataannya. “Katanya makan tiga kali, ternyata Cuma dua kali. Itu pun kami sudah tiga bulan ini hanya lauk kerupuk dan sambel. Kalau kami gratis, masih mending. Ayah saya kan bayar terus. Tapi ndak tahu kok seperti itu, makanya kami keluar dari sana,” tukasnya.

Kisah lain juga disampaikan Pak Syam, teman Gus Pri di Lampung. Pak Syam menemukan kenyataan buruk diantara perilaku pengelola pondok pesantren. Uang SPP santri dan yayasan berbalik menjadi asset pribadi ketua yayasan. Sementara santri-santrinya kepalaran.

“Ada di tempat kami. Ustadznya ndak salah-salah. Keluar masuk pondok dengan mobil inova. Isterinya pakai Avansa. Tapi santrinya kelaparan, gedungnya dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang itu-itu saja. Sementara bayar SPP jalan terus. Bantuan dari donator datang tak terhitung. Aku sedih melihatnya, kok begitu?” tutur Pak Syam ketika mengunjungi Gus Pri di Palembang.

Melihat dan mendengar kisah-kisah itu, meyakinkan Nyai Hayat bila di sejumlah pondok ada peristiwa pilu. Sekilas, Nyai Hayat sangat takut kalau dalam lembaga yang akan dididirikan bersama suaminya itu, muncul tuduhan miring seperti itu.

“Bah, gimana kalau ada orang yang menuduh buruk terhadap rencana kita?” tanya Nyai Hayat ingin meyakinkan hatinya.

“Satu tandan pisang, itu tidak akan semuanya bagus,” ujar Gus Pri membuat perumpamaan. “Sekarang tinggal kita, mau jadi pisang bagus yang enak dimakan, atau jadi pisang busuk yang dibuang pemiliknya. Masih mending kalau jadi makanan burung Kutilang, namanya masih bermanfaat. Lha, kalau dibuang? kan masuk kotak sampah?” jawaban Gus Pri pagi itu mengaduk-aduk batin dan logika Nyai Hayat.

“Terus ada lagi, yang bilang, Gus Pri itu kan orang tarekat, kok malah mendirikan pondok. Mestinya Gus Pri itu buat majelis suluk saja, ndak usah sibuk ngurusi pondok, apalagi mau buat pendidikan formal dan perguruan tinggi segala,” ujar Nyai Hayat mengutip nada sinis dari sebagian orang terhadap rencana Gus Pri dan isterinya.

“Lalu?” Gus Pri mencoba memancing jawaban Nyai Hayat, yang sudah mendampinginya 30 tahun.

Meskipun dalam hatinya banyak jawaban yang hendak disampaikan, namun Nyai Hayat membenamkan untaian kata itu dalam-dalam.

Beberapa detik mata Nyai Hayat melihat mata suaminya. Tapi sebentar kemudian mengalihkan pandanganya ke arah lain. Bagi Nyai Hayat, lebih dari lima detik menatap mata Gus Pri, menjadi bagian perlawanan terhadap suami. Hanya napas gundah di dadanya yang kemudian ditangkap Gus Pri. Masih ada gejolak Tanya di hati Nyai Hayat.

Meskipun, dengan berbagai pengalamnnya di pondok,  Nyai Hayat bisa saja menerka-nerka jawaban dari suaminya. Tapi ia hanya diam. Menunggu jawaban dari orang yang ia hormati, dunia dan akhirat. Sikap ini menjadi adab dan takdzimnya Nyai Hayat pada suaminya. Sebab, Nyai Hayat sadar betul, bila isteri mengatakan sesuatu yang melebihi suaminya, baik suara, nana bicara yang tinggi, apalagi membentak—bisa-bisa membuat Nyai Hayat di akhirat kelak tidak akan mencium bau sorga.

“Jangan pernah berubah niat hanya gara-gara perkataan orang,” ujar Gus Pri menyemangati isterinya yang terlihat gundah.

“Menurut Abah, tujuan kita mengembangkan rumah tahfidz menjadi pondok, apa?” pertanyaan ini membuat Gus Pri kembali menatap serius Nyai Hayat.

“Sebelum Nabi Adam diturunakn ke Bumi, Allah sebagai Pencipta alam semesta, langit, bumi dan isinya, jauh sebelumnya sudah merencanakan semuanya. Jauh sebelum mahluk penghuni bumi dan langit ada, Allah sudah membentangkan semua fasilitas hidup bagi mahluknya.

Bumi, matahari, air,  angin dan semuanya disiapkan secara gratis. Jadi, kalau kita sudah mengendarai mobil atau sepeda motor, jangan lagi bertanya kemana kita akan pergi. Aneh itu. Jalani saja dengan bismillah. Allah yang akan mengarahkan kita?” Gus Pri menenangkan Nyai Hayat.

“Tapi tujuan kita ini tidak salah jalan, kan, Bah?” Nyai Hayat masih penasaran. Gus Pri belum secara gamblang memberi jawaban.

“Yang salah itu, kalau kita tidak melakukan apapun. Tapi melakukan sesuatu dengan cara yang salah, itu lebih salah lagi! Bahasa pondoknya, jahil murokab!” tegas Gus Pri, mengingatkan saya pada kelakar santri saat ada santri yang sulit menerima materi pelajaran, sering disebut : jahil murokab. Artinya kebodohan yang teramat sangat.

“Jadi tentang tujuan kita bagaimana?” Nyai Hayat mengembalikan pertanyaan awal.

“Ya, membangun generasi baru yang jadi pewaris para nabi. Sebab, bangsa ini banyak orang pandai dan pintar, tapi kekurangan orang baik. Ada orang baik, mungkin masih banyak, tapi mereka berada di sudut-sudut kampung dan perdusunan. Hanya Allah yang mendengar suara mereka,” Gus Pri mulai berargumentasi.

“Lalu kenapa kita harus mengembangkan pondok, apa dengan Rumah Tahfidz ini tidak cukup?” tanya Nyai Hayat lagi.

“Anak-anak dari teman-temanmu yang PNS, atau yang petani itu, sekarang sedang mondok juga. Ada yang sedang masuk ke perguruan tinggi. Lima tahun, sepuluh tahun lagi atau lebih dari itu, mereka akan selesai dan mencari pekerjaan. Atau sebagian pulang kampung, karena kalah perang di kota, lalu memilih berkebun meneruskan nenek moyangnya. Bagi yang bekerja di perusahaan, akan meninggalkan kampung halaman, tanpa pernah berpikir lagi bagaimana nasib orang-orang kampung yang terus terbelakang sampai ajal menjemput. Belum lagi sebagian anak mudanya menganggur, meskipun diantara mereka sudah belajar bertahun-tahun. Kalau kita punya pondok dan berkembang, ya semua itu kita siapkan untuk anak-anak kita, untuk lahan mereka agar mengarkayan diri di pondok kita. Ini peluang bagi anak-anak temanmu agak kelak kalau saat pulang kampung bisa mengabdikan dan membagikan ilmunya di sini. Mereka tidak usah keluar dari dusun lagi, karena pondok  kita ini lebih membutuhkan mereka!” Gus Pri seketika menggelontorkan kalimat panjang.

“Jadi tugas tugas kita, Apa?” Nyai Hayat selalu bertanya pendek. Hanya dengan cara ini, Nyai Hayat kian mengetahui landasan mendasar suaminya mendirikan dan mengembangkan pondok.   

“Sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” jawab Gus Pri singkat.

“Hubunganya dengan tarekat?” Nyai Hayat kembali menyampaikan simpanan pertanyaan.

“Tarekat itu kan jalan. Ya, jalan menuju Allah. Jalurnya bisa macam-macam. Salah satu diantaranya mengembangkan rumah tahfidz ini menadi pondok pesantren. Kiai-kiai pondok banyak yang bertarekat, dan mereka mendirikan pondok, punya ratusan bahkan ribuan santri. Jadi apa salahnya dengan tarekat dan mengembangkan rumah tahfidz menjadi pondok pesantren?” tegasnya.

“Ya, kata sebagian mereka, kalau Gus Pri sudah bertarekat, banyak-banyak dzikir saja, fokus pada Allah dan tidak usah sibuk lagi ngurusi santri. Buat saja majelis untuk nampung Jemaah suluk,” ujar Nyai Hayat mengutip pembicaraan beberapa orang yang beberapa bulan ini melihat Gus Pri dianggap tidak lagi fokus pada Jemaah suluk.

“Ingat kata guru kita, Buya Syekh Salman Daim, jangan karena kita karena bertarekat, kemudian kita berpangku tangan, menyerahkan sesuatunya kepada Allah tanpa berikhtiar dan berusaha. Itu salah juga. Kita lihat, Buya masih mendirikan pondok dan majelis. Bahkan sekarang mengembangkan perguruan tinggi, untuk para syekh muda yang akan kuliah. Itu bukti kalau Buya tetap berusaha dan berikhtiar tanpa henti. Tapi semua hasil itu Allah yang urus, bukan kita.  Tarekat itu juga memperjelas tujuan, memperjelas posisi : dimana Allah dan dimana hamba. Siapa kita dan siapa Allah! Tugas hamba, ya menjalani, tapi soal hasil itu Allah yang punya,” tegas Gus Pri, memperkuat batin Nyai Hayat.

“Tapi diantara mereka ada saja yang tidak memahami tentang apa tujuan kita. Tuduhan miring selalu ada yang datang dan pergi. Kadang terpikir, dengan cara apa kita harus menjelaskan pada mereka supaya mereka mengerti apa yang kita cita-citakan,” Nyai Hayat menuangkan kegelisahannya lagi.

“Tugas kita menjalani dan menjadi tauladan. Apakah mereka sadar dan tidak , itu bukan urusan kita. Kalau sudah wilayah batiniyah, itu urusan Allah, bukan tugas kita. Kita tidak mungkin memaksa kerbau memahami isi buku. Dikasih buku juga, kerbau tidak akan paham? Sebab kerbau memang ditakdirkan tidak memahami buku! Jadi kita juga tidak perlu memaksa siapapun agar paham dengan apa yang kita cita-citakan. Tidak perlu kita memaksa kerbau mencintai kita. Tapi sebaliknya, kitalah yang harus lebih dulu memahami mereka. Lebih dulu mencintai kerbau, supaya kerbau juga berbalik mencintai kita. Kalau orang tidak cinta, tidak suka, kenapa harus kita paksa untuk suka dan cintai?! Itu urusan Allah. Tugas kita sekarang, mengurusi dan mencintai hamba Allah, khususnya santri di rumah tahfidz ini. Kata Allah : urusilah hamba-Ku, maka Aku akan mengurusi engkau, itu saja,” tegas Gus Pri, yang kemudian menuju ke kebun di depan rumah tahfidz, dan mengajak para santri menebar benih, menanam sayuran, yang di kemudian hari akan tumbuh dan berkembang dengan hasil  yang lebih baik. Aamiin.**

Jl. Seruni – Ponpes Tahfidz Rahmat (Palembang, 27 Desember 2019)





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster