Buya Hamka, Natal, Dan Pelajaran Toleransi dari Rumah Nomor 5

 731 total views,  2 views today

Oleh Yusuf Maulana, Penulis Buku “Buya Hamka: Ulama Umat Teladan Rakyat”

Juni 1956, Hamka resmi menempati rumah barunya di Kebayoran Baru, kawasan di pinggir Jakarta pada masa itu. Dari enam rumah yang ada di Jalan Raden Patah III, hanya dua rumah yang seluruh penghuninya Muslim, salah satunya keluarga Hamka. Sepuluh tahun lewat, rumah jiran seagamanya itu dikontrakkan kepada orang asing. Satu rumah lagi sebenarnya ada yang berpenghuni Islam, tapi tinggal bersama-sama dengan pemeluk agama lain.

Walau terbilang minoritas di lingkungan rumahnya, Hamka tak surut bergerak menyebarkan keyakinannya: Islam. Targetnya tentu saja bukan kepada pemeluk agama lain di kanan-kiri rumah. Lewat pelbagai majelis yang dipusatkan di sebuah masjid jami’ yang berada di sebelah utara kediaman Hamka, kawasan di Kebayoran Baru tersebut berubah menjadi “hijau”, sedangkan masjid itu kelak dikenal luas sebagai: Masjid Al Azhar.

Tak banyak yang tahu bahwa orang-orang awal dan terdekat di rumah Hamka adalah kalangan bukan Islam. Tak ada permasalahan dengan berbedanya keyakinan di antara semua penghuni di Jalan Raden Patah III. Sebaliknya, mereka bahu-membahu dan tolong-menolong sebagai sesama umat manusia.

Saban bepergian jauh, semisal melawat ke luar negeri, Hamka akan berpamitan dengan semua jirannya tanpa terkecuali. Ia juga akan meminta bantuan mereka untuk turut mengawasi anak-anaknya. Terutama rumah di sampingnya persis yang dinomori angka 3.

Enam rumah penghuni awal itu dinomori dengan angka ganjil: 1,3, 5, 7, 9, dan 11. Hamka menempati nomor 1. Rumah nomor 3 milik keluarga Tionghoa asal Semarang, dan penghuninya merupakan pemeluk taat Katolik, terutama sang nyonya rumah. Hal jamak bila pastor sering mendatangi rumah ini.

Yang juga acap dimintai bantuan, sehubungan dengan kesibukan Hamka bepergian ke mana-mana memenuhi undangan dakwah, adalah rumah di sebelahnya lagi. Lagi-lagi pemeluk Katolik. George Reuneker nama kepala keluarga ini. Ia seorang Indo-Belanda asal Salatiga. Setiap Hamka meminta bantuannya, terutama untuk menitipkan anak-anak, Reuneker sangat antusias. Tidak ada basa-basi, sementara Hamka pun tak menghadirkan sangkaan buruk padanya.

Pada 1958, seorang anak Hamka, Irfan, menderita sakit yang cukup parah. Akibat sakit yang dideritanya, sekolahnya telantar setahun. Berbulan-bulan ia dirawat di rumah sakit, bahkan sampai pernah diopname. Menurut dokter ahli yang merawatnya, Irfan terlalu banyak membaca karangan ayahnya yang berat-berat, baik tasawuf ataupun filsafat.

“Dia musti diistirahatkan. Kalau tidak jiwanya bisa jadi rusak! Masih anak-anak sudah merasakan hendak jadi orang tua!” kenang Hamka tentang kejadian itu, seperti dituliskan dalam Panji Masyarakat nomor 216 – 1 Februari 1977.



Umur Irfan ketika itu 15 tahun. Tetangga mereka, Reuneker, menawarkan diri untuk membantu pemulihan jiwa Irfan. Ia memang berencana membawa putra jirannya itu ke rumah orangtuanya di Salatiga. Kepedulian terhadap tetangga kecilnya itu tak semata dalam urusan kesehatan, melainkan juga dalam peribadahan. Saat di Salatiga, istri Reuneker menyediakan tikar khusus buat shalat Irfan. Bahkan, kata Hamka, Nyonya Reuneker tak sungkan-sungkan mengingatkan Irfan agar shalat pada awal waktu.

Sebulan lamanya Irfan dirawat keluarga Reuneker. Hasilnya, ia lebih gemuk dan riang. Tak disebutkan dalam tulisan Hamka, bagaimana keluarga Reuneker melakukan semuanya. Yang jelas, setelah itu jalinan perkariban Hamka dan Reuneker kian kuat. Sampai kemudian terjadi penangkapan Hamka oleh aparat atas tuduhan subversif pada 27 Januari 1964.

“Di saat seperti itu jelas siapa sahabat setia dan siapa sahabat yang penakut,” tutur Hamka. “Sebelum datang percobaan, banyaklah orang yang mendekat. Kalau duduk di dalam Masjid Agung (Al Azhar), baik sehabis sembahyang subuh atau sehabis maghrib, banyak yang berkerumun, dan kalau bercakap banyak yang memuji. Tetapi setelah dapat cobaan yang demikian (penangkapan), mulailah istri dan anak-anak di rumah merasakan kesepian.”

“Orang yang dahulunya begitu dekat, sekarang banyak yang menjauh, karena ‘takut kena getahnya’. Ada yang berjalan menekur saja, jika terpaksa lewat di hadapan rumah kami. Hanya sedikit tinggal kawan, di antara yang sedikit itu ialah Saudara Reuneker.” Demikian Hamka mengenang.

Ya, Reuneker selalu mampir ke rumah jirannya guna menemui Siti Raham, istri Hamka, dan anak-anak Hamka. Tak hanya diri Reuneker, istri dan anak-anaknya pun bersikap sama. Mereka seakan-akan tidak merasakan adanya pengucilan sebagian masyarakat terhadap keluarga Hamka. Yang ada malah sebaliknya, Reuneker secara demonstratif memperlihatkan simpati dan solidaritas untuk beban yang ditanggung keluarga Hamka.

“Ummi, kalau ada kesukaran jangan segan-segan katakan kepada saya. Saya akan tolong sekedar tenaga saya,” katanya kepada Siti Raham, sebagaimana diceritakan Hamka.

Dan sang istri Hamka hanya menjawab pendek, tak ingin merepotkan, “Terima kasih, sekarang masih ada persediaan.”

Kebaikan Reuneker menjadi kabar penghibur bagi Hamka saban dibesuk keluarganya. Di samping yang berbuat baik secara jelas, ada pula pihak-pihak yang memilih diam-diam membantu Hamka. Orang-orang tak dikenal itu mengirimkan beras, uang, ataupun wesel ke penghuni nomor 1 di Jalan Raden Patah III.

Agustus 1964, atau delapan bulan dalam tahanan, wasir dan disentri mengakrabi Hamka. Kala itu Hamka masih berada di tahanan Mega Mendung, Bogor. Hamka berlekas melapor ke polisi agar didatangkan Saifullah Nur, dokter pribadinya. Atas saran dokter, Hamka memang harus dirawat di rumah sakit. Hamka ditempatkan di salah satu kamar di Rumah Sakit Persahabatan; tempat yang difungsikan pula sebagai ruang tahanannya hingga kelak menghirup udara bebas.

Dari seorang polisi yang menjaganya selama di tahanan Mega Mendung, Hamka mendapatkan informasi bahwa pemindahannya ke rumah sakit adalah efek pemberitaan BBC London, yang menyiarkan bahwa selama di ruang tahanan Hamka jatuh sakit tapi tidak mendapatkan pengobatan.

Dua hari setelah pemeriksaan penyakit, keluarga Hamka datang ke Mega Mendung. Pihak keluarga turut menyaksikan pemindahan Hamka ke Rumah Sakit Persahabatan di Rawamangun. Selain sang istri dan putra tertuanya, Zaki, hadir pula Reuneker.

“Sungguh saya terharu atas kedatangan Reuneker bersama istri dan anak saya ke tempat saya ditahan buat dipindahkan ke rumah sakit. Dia menunjukkan kecemasan mendengar saya sakit. Dia menembus hambatan polisi yang akan mempersukar pertemuannya dengan saya,” kenang Hamka.

Berikutnya, Reuneker turut mengantarkan Hamka dari rumah tahanan sampai ke Rumah Sakit Persahabatan.

Selepas pembebasan Hamka dari segala tuduhan, keadaan kembali berbalik normal. Bila dengan beberapa orang yang sempat menjaga jarak saja kembali ke sediakala, apatah lagi dengan Reuneker, tentunya kian rapat. Dan itu dibuktikan ketika Hamka kembali “merepotkan” Reuneker. Pada 1968, Hamka pergi naik haji bersama istri dan Irfan; Reuneker terpanggil menjaga rumah dan anak-anak yang ditinggalkan tanpa ada sikap keberatan.

Begitu pula ketika anak-anak Hamka menikah, salah satunya Irfan. Atau saat peringatan 40 tahun pernikahan Hamka dan sang istri yang jatuh pada April 1969. “Semuanya turut diramaikan dan digembirakan oleh Reuneker sekeluarga,” Hamka mempersaksikan.

Saat Siti Raham wafat pada 1 Januari 1972, Reuneker hadir dengan pakaian hitam berkabung lengkap. Ritual menurut keyakinannya dijalani dengan khusyuk di depan jenazah Siti Raham. Istri dan anak-anaknya turut mengikuti. Sebelum jenazah dikebumikan, pagi-pagi Reuneker dan sang istri ikut menjemput anak-anak Hamka di Stasiun Gambir. Mereka menanti kedatangan anak-anak Hamka yang pulang dari Pondok Modern Gontor.

Hamka memberi contoh toleransi sejati itu apa.

Setahun lewat, tepatnya pada 17 Februari 1973, umur Hamka memasuki 65 tahun. Para sahabat, teman, dan murid datang ke rumah Hamka. Di antara yang datang adalah Laksamana Budiarjo. Saat Menteri Penerangan ini berkunjung, Reuneker turut hadir, bahkan persis duduk di sebelahnya (lihat foto di header Catatan ini; kedua dari kanan). Bagi Hamka, persahabatan 17 tahun dengan Reuneker sudah menempatkannya sebagai kawan sejati. Tak ada risiko bila ia langsung menyaksikan perbincangan Hamka dengan tamu dari kalangan pejabat tinggi.

Tertanggal 30 Januari 1974. Jelang dua windu persahabatan akrab dengan Reuneker, Hamka jatuh sakit karena kecapaian. Sepekan lamanya Hamka tidak keluar rumah. Sekira pukul 10, Hamka harus beranjak dari tempat istirahatnya. Langkah kaki tergesa-gesa terdengar di telinganya. Benar saja, di depannya berdiri Nita, anak perempuan paling kecil Reuneker. Mukanya murah dengan air mata meleleh.

“Abuya… Papi meninggal….”katanya.

Mendengar itu, Hamka tak bisa menyimpan rasa terkejut. Ia harus berlekas mengganti pakaian lalu menuju rumah Reuneker.

“Tuhan sudah panggil dia…,” Istri Reuneker memberitahukan ketika Hamka memeriksa jenazah jiran sekaligus sahabat karibnya itu. Suhu badan Reuneker masih panas dirasakan oleh indra Hamka. Wajah sang sahabatnya itu terlihat tenang.

“Sudah berapa lama?” tanya Hamka.

“Baru setengah jam. Pukul setengah sembilan setelah makan pagi dia mengatakan akan pergi melihat Pak Hamka. Karena dia dengar Pak Hamka ada sakit,” terang istri Reuneker.

“Dia telah pakai pakaian dan telah saya ambilkan sepatunya. Sebentar mau pergi tengok Pak Hamka. Tiba-tiba dia jatuh, saya sambut dan mau tidurkan dia, tidak lama dalam pangkuan saya dia pun sudah pergi! Rupanya Tuhan menentukan Pak Hamka yang datang tengok dia…,” jelasnya kemudian.

“Dia kelihatan tenang. Air mata menggenang saja di rongga matanya,” tulis Hamka tentang reaksi istri Reuneker. Hamka tak ragu menyebut istri Reuneker sebagai penganut taat Katolik.

Esoknya, jenazah Reuneker dibawa ke Salatiga untuk dikuburkan di sana. Zaki, atas nama keluarga Hamka, turut mengantarkan hingga selesainya prosesi penguburan menurut agama almarhum.

Budi baik terkenang juga! Begitu Hamka menutup kenangannya pada sang jiran karib. Amat pantas Hamka menyebut kebaikan Reuneker, yang semasa hidupnya dalam bertetangga selalu membantu tanpa pamrih. Dalam iman yang berbeda, tak ada saling melukai perasaan.

“Pergaulan kami bertetangga adalah sangat baik. Timbal balik,” jelas Hamka, masih dalam tulisan tentang Reuneker. Hamka, selaku kepala keluarga, adalah contoh pertama bagi semua penghuni rumah.

“Sebabnya ialah karena hendak mempraktikkan anjuran dari Nabi saw sendiri,” terang Hamka yang kemudian menyitir hadits yang artinya: “Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman, Demi Allah tidak beriman orang yang menyakiti tetangganya.”

Sebagai orang beragama, bahkan dianggap seorang pemuka agama, menjadi kewajiban bagi Hamka untuk menjalankan sabda Nabi itu dengan seluruh tetangga. Tak peduli latar tetangganya itu berbeda keyakinan. Selagi masih dalam batas hubungan manusia, tidak menyalahi keimanan menurut Islam, semua relasi dengan manusia yang tidak berupa kejahatan amat sangat dianjurkan.

Tak semata untuk memenuhi keyakinan hati pada syariat Islam, menjalin hubungan baik dengan sesama insan—dengan berbeda iman sekalipun—berguna dalam keberlangsungan hidup. Seperti dijalankan Hamka yang sewaktu-waktu memerlukan bantuan jiran berbeda iman. Toh dalam hubungan keseharian, sebagai bagian hidup bertetangga, saling meminta bantuan tak lagi memandang perbedaan iman.

Barulah bila hal yang mengusik keimanan disentuh, batas toleransi patut dijaga. Namun, tidak lantas segera mewujudkannya dengan amarah. Siapa tahu hanya karena ketidaktahuan belaka dari sang jiran berbeda iman. Dalam hubungan dengan Reuneker, soal semacam ini kiranya manusiawi terjadi. Tidak semua kebaikan yang diberikan lantas disikapi dengan penuh tenggang rasa.

Tampaknya karena memandang berbagi kepada sesama—apalagi tetangga dekat dan akrab—keluarga Reuneker saban Lebaran mengirimkan makanan ke keluarga Hamka sekaligus mengucapkan Selamat Hari Raya.

Dalam buku Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah (2008), sebuah nama seperti segan disebutkan. Dalam bab “Toleransi”, disebutkan tetangga Hamka yang “warga negara keturunan Belanda beragama Kristen”. Sosok tersebut bisa dipastikan adalah Reuneker. Bukan hal aneh bila keluarga Reuneker ringan tangan membungahkan keluarga Hamka saat merayakan Lebaran. Namun, ada satu bagian menarik yang disebutkan di sini.

Seorang cucu Hamka tergerak untuk membalas kebaikan hati sang tetangga, keluarga Reuneker. Sang cucu Hamka ini berniat akan melakukan kunjungan balik ketika keluarga Reuneker merayakan Natal. Sembari mengutarakan niatnya itu, ia pun meminta izin pada Hamka. Niat itu tidak diperkenankan. Tidak boleh dilanjutkan.

Menurut Hamka, sebagaimana ditulis dalam Mengenang 100 Tahun, “dengan sengaja mengunjungi tetangga untuk mengucapkan selamat Hari Natal, sama artinya dengan ikut merayakan dan bergembira dengan perayaan Natal (kelahiran) itu, sekaligus mengakui keyakinan mereka (umat Kristen) yang keliru, yang menganggap bahwa Nabi Isa as, sebagai Tuhan.”

“Biarkan saja mereka merayakan kegembiraan yang menjadi keyakinan mereka itu,” tandas Hamka. Hamka sendiri ketika menasihati sang cucu digambarkan: “Jauh dari nada keras atau marah, tetapi sebaliknya disampaikan dengan tutur kata lemah lembut. Ini karena audiens-nya adalah seorang anak yang masih berusia remaja.”

Bagi Hamka, selagi masih berkaitan dengan keimanan menurut Islam, tidak ada ruang untuk mencari-cari alasan bertenggang rasa. Toleransi tetap bisa ditegakkan tanpa harus mencari-cari tindakan untuk mengendurkan semangat keimanan yang kita peluk. Sekalipun dengan atas nama kerukunan dan kebersamaan dalam atap satu bangsa.

Persahabatan Reuneker dan Hamka, juga banyak kesaksian tertambatnya hati kalangan berbeda iman pada budi pekerti Hamka, memberikan pelajaran: kapan saat mesti berlaku lembut sesuai hadits Nabi yang dipedomani Hamka dalam membina hidup bertetangga, dan kapan saat harus lugas bersikap ketika sudah masuk hal-hal syubhat atas nama yang kadang diciptakan indah didengar.

Semasa Reuneker masih hidup, Hamka tidak mengizinkan anak-cucunya untuk turut merayakan Natal di jiran terdekatnya. Bahkan sekadar mengucap Selamat Hari Raya Natal. Ini memang ijtihad Hamka, yang kelak digenggamnya erat semasa menjabat Ketua MUI. Pada 7 Maret 1981 keluar fatwa oleh Komisi Fatwa MUI yang mengharamkan umat Islam turut serta dalam upacara Natal bersama.

Saat fatwa tersebut keluar, Hamka memang tak lagi melihat senyum Reuneker. Namun, Hamka bakal yakin dirinya sudah membuat orang-orang tersenyum—yang pasti saudara Muslimnya—kelak di akhirat dari konsekuensi latah-latahan atau mau dibayar untuk ikut perayaan agama lain atas nama toleransi. Padahal, pada waktu yang lain di luar Natal misalnya, ada banyak hal yang mesti saling dibangun dan dibina oleh semua pemeluk agama, ternyata diabaikan. Toleransi hanya jadi kata indah pada momen tahunan untuk hari yang pendek.

Sekira Reuneker masih hidup saat fatwa MUI itu keluar, Hamka pun bakal siapkan hujah. Ya, agar persahabatan yang lama terbangun tak rusak karena sangkaan tidak-tidak hasil olahan para provokator, semisal pengatas nama isu kebangsaan. Dan semua penghuni Jalan Raden Patah III nomor 5 pun bakal mengerti mana yang benar-benar tulus bertoleransi dan mana yang sekadar berbasa-basi.

TEKS/FOTO : REPUBLIKA.CO.ID





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster