KAHMI Sumsel Gelar Pelatihan Jurnalistik Dasar, Joe : Wartawan Harus Punya Idealisme dan Integritas

 1,070 total views,  2 views today

PALEMBANG    I    KSOL  — Wartawan atau Jurnalis, harus memiliki idealisme dan integritas moral yang baik. Sebab tanpa dua point ini profesi wartawan tidak akan bisa menjadi pewarta yang baik.

“Bagaimana mungkin akan menjadi wartawan yang baik dan bermoral, bila wartawan tidak memiliki idealisme dan integritas? Disinilah melalui pelatihan ini, Majelis Wilayah KAHMI ingin melahirkan jurnalis-jurnalis muda yang berintegritas melalui media yang nantinya akan kita lahirkan,” ujar Joemarthine Chandra, SH, Ketua Bidang Hukum & Advokasi Majelis Wilayah (MW) Korps Alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)  Sumsel, saat membuka Pelatihan Jurnalistik Dasar (Pejurdas), 13-15 Desember 2019 di Sekretariat MW KAHMI Sumsel, Jumat (13/12/2019).

Lebih lanjut, Joe—panggilan akrab Joemarthine Chandra— mengatakan melalui pelatihan ini, KAHMI sedang ingin menciptakan jurnalis yang memiliki idealisme dan integritas. Bagi Joe, idalisme dan integritas bagi wartawan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sebab menurut Joe, MW KAHMI Sumsel sebagai lembaga tempat berkumpulnya para intelektual berkewajiban mendistribusikan para aktor intelektual-nya di berbagai lini kehidupan. Salah satu diantaranya, harus menempatkan kadernya di dunia media, terlebih saat ini sudah masuk di era digital.

Menurut salah satu praktisi hukum di Palembang ini — di tengah persaingan media saat ini tidak lagi bicara tentang cetak, elektronik tetapi juga online atau digital.


Joemarthine Chandra, SH, (Baju Merah), Ketua Bidang Hukum & Advokasi Majelis Wilayah (MW) Korps Alumnus Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)  Sumsel, saat membuka Pelatihan Jurnalistik Dasar (Pejurdas), 13-15 Desember 2019 di Sekretariat MW KAHMI Sumsel, Jumat (13/12/2019). (Foto. Dok.KSOL/M Ridho)

Joe menegaskan, pada era seperti sekarang, media online (digital) tidak bisa lagi dipandang sebagai media nomor dua, seperti ketika di era 90-an. Justeru kondisi sekarang situasi menjadi terbalik. Media online saat ini sudah bisa mengalahkan kecepatan dari media cetak, seperti koran, tabloid dan sejenisnya.

“Dulu orang bisa saja mengatakan media online menjadi media nomor dua, bahkan tidak ditoleh sama sekali. Sebab di era itu, media online belum banyak dikenal. Tapi sekarang keadaannya berbalik, media online sudah mengalahkan media cetak seperti koran,” ujarnya.

Oleh sebab itu, KAHMI sebagai lembaga kader, ikut bertanggungjawab untuk membangun intelektual bagi kader-kadenya melalui berbagai kegiatan, termasuk melahirkan jurnalis muda yang berwawasan dan berintegritas.

Pada pelatihan ini menurut Joe, mengedepankan kualitas, bukan kuantitas. Oleh sebab itu, pelatihan kali ini pesertanya sangat dibatasi hanya 20 orang.

Sementara, di awal pendaftaran, sudah terdata lebih dari 40 peserta. Tetapi saat acara berlangsung, tim KAHMI Sumsel hanya melibatkan 20 peserta dari bebagai kampus di Palembang dan peserta dari daerah, misalnya ada 3 peserta dari Kabupaten PALI.

“Pada palatihan ini kita tidak terlalu banyak merekrut peserta, tetapi sangat terbatas. Sebab yang kita kedepankan kualitas bukan kuantitas. Bagi peserta yang belum, diharapkan nanti dapat ikut di pelatihan berikutnya,” ujarnya.

Menanggapi pelatihan ini, Efran, jurnalis PALI.co.id salah satu peserta pelatihan mengaku, baru kali pertama mengikuti pelatikan jurnalistik. Selama ini, menurut Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) ini hanya dilakukan secara outodidag.

Efran menyebutkan, dalam pelatihan ini dirinya menemukan hal-hal penting dari para pemateri yang dihadirkan, diantaranya tentang berita yang cenderung bias fakta, berita framing dan etika wawancara.

“Saya sering membaca beberapa media, tapi saya masih sering temukan beberapa hal penting yang kesannya diabaikan, misalnya mencampuradukkan  antara opini dan berita,” tambahnya.

Selain itu, Direktur PALI RADIO 93,8 FM Kabupaten PALI ini, menyebutkan profesi wartawan menjadi satu hal yang membuatnya beruntung. Selain banyak mendapat informasi, juga meluaskan jaringan. Bagi Efran, menjadi wartawan sangat beruntung.

“Saya bersyukur dan beruntung jadi wartawan, kalau tidak suka dengan profesi wartawan sangat rugi, sebab melalui profesi inilah kita bisa membangun relasi yang baik,” tambahnya usai materi etika wawancara.

Pada pelatihan ini, MW KAHMI Sumsel menghadirkan sejumlah narasumber, diantaranya H, Firdaus Komar, S.Pd, MM, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel, Imron Supriyadi, S,Ag, M.Hum, Pemimpin Redaksi KabarSumatera.com, Asnadi, CA, Jurnalis Senior di Sumsel, Firwanto M, Isa, S.Sos. I, M.Hum, Pemimpin Redaksi Media Online Pelita.com, dan Iwan Cheristian, Dosen Fotografi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (KDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang. **

TEKS : AHMAD MAULANA   I   EDITOR   : IMRON SUPRIYADI    I   FOTO :  MUHAMMAD RIDHO





Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster