Majelis Taklim: Ingat Orde Lama dan Baru, Hingga Petrus

35 total views, 9 views today

Oleh : Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Pada akhir 1970-an adalah masa bocah saya. Setiap sebelum tidur seringkali ditiup sekitar cerita horor dekade 1965 bersama legenda wayang dan kancil yang mencuri ketimun.

Kala itu rumah kami di depan masjid. Tak jauh dari masjid ada rumah seorang priyayi yang cukup luas. Saya ingat di depannya ada pohon sawo.

”Dulu sebelum meletusnya pemberontakan PKI 1965 di dalam rumah ramai orang gali lobang. Anehnya sampai pemberontakan usai galian itu tetap belum ditutup. Penguninya kabur?” kata ibu.

“Itu rumah siapa”, tanya saya. Ibu menjawab pendek menyebut nama seseorang.”Dia anggota partai berlambang palu arit,” tukas ibu. Saya kecil yang baru kelas lima SD saat itu tak terlalu ‘ngeh’ dengan apa itu partai berlambang palu arit. Malah saya berpikir keren partainya sebab memakai warna merah dan ada lambang alat kerja untuk bertani di sawah.

Ibu saya yang seorang guru kemudian melanjutkan cerita. Katanya, pada suatu siang sebelum geger 1965, murid-muridnya di sekolah ribut memperbincangkan adanya lobang tanah di dalam rumah yang tengah digali. Para siswa ketika ditanya mengaku bila ada di tempat itu memang orang yang tengah mencari emas.


BACO BERITA LAINNYO :


Mendengar jawaban para muridnya, ibu saya waktu itu berpikir hal itu masuk akal sebab tanah di sekitar kawasan rumah adalah berbatu dan tidak keluar air ketika digali untuk lubang sumur.

Maklum tanah pegunungan yang penuh bebatuan. Akibatnya, untuk mencukupi konsumsi air bersih warga harus mencarinya dari ‘Kali Datar dan Kali Tengah — sungau yang mengalir di tengah dan di dekat perkampungan.

“Ibu bersama anak-anak sekolah pergi ke sana untuk melihatnya. Dan benar, banyak orang yang tengah menggali lobang. Para pekerja berteriak agar jangan ada yang mendekat. Bahkan, sempat ada yang menghardik kalau yang mendekat akan diceburkan ke lobang sekalian,” kata ibu.

Nah, waktu kemudian berlalu. Perkara lobang tak menjadi soal. Terlupa. Apalagi sang pemilik rumah juga orang sangat baik. Dia kawan ayah saya yang Masyumi/NU main catur.Jadi jelas beda ideologi.

Kata ayah, sepanjang yang dia tahu sang empu rumah tetangga kami itu getol sekali dalam politik. Setiap malam di beranda rumahnya ramai orang berkumpul melakukan rapat. Bahkan, makin mendekat ke bulan September rapat makin intens, dilakukan tiap malam.

”Ya tak ada perasaan apa-apa. Cuma ayah heran mengapa rapatnya kok pakai penerangan minim, gelap-gelapan. Bahkan saking baiknya, sang pemilik rumah malah berpesan bila nanti ada kabar dari Jakarta, jangan buru-buru ditelan mentah. Itu saja,” kata Ayah menirukan pesan tetangga kami yang aktivis partai tersebut.

Dan betul, tak lama terjadi keanehan. Kisah ayah, entah mengapa di awal bulan Oktober 1965 tiba-tiba tidak ada bus yang datang dan pergi ke Jakarta. Ini terlihat jelas karena kebetulan rumah saya tak jauh dari terminal. Angkutan bus pergi atau pulang ke Jakarta sampai dua pekan lamanya tak ditemui.

”Kabar berita soal Jakara pun simpang siur. Berita melalui RRI juga tak jelas. Malah saya sempat berfikir Nasution yang memberontak. Eh ternyata PKI,” kata Ayah mengenangkan.

Een militair bewaakt van communistische sympathieën verdachte gevangenen tijdens de opstand/staatsgreep in Djakarta, Indonesië, 1 december 1965.


Keterangan foto: Para aktivis PKI dalam tahanan masa Orde Baru. (foto:Gahetna.nl).

Uniknya lagi, ayah kemudian menceritakan dengan membenarkan cerita ibu. Katanya, memang sampai beberapa lama lubang di rumah itu dibiarkan begitu saja. Penghuninya ditangkap tentara. Isterinya yang tetangga saya itu bolak balik pergi ke markas kodim setempat untuk menjenguk suaminya yang ditahan.

Isterinya saat itu sangat khawatir sebab saat itu tersebar kabar bila beberapa orang tahanan di ‘sukabumikan’ di sebuah tempat tersembunyi di luar kota.

Tapi kengerian itu, kemudian sempat berganti. Kata ayah, pada saat itu pula tersiar kabar nama-nama yang sebelum geger 1965 sudah dimasukan dalam list untuk masuk ke lobang. Di daftar itu ada nama ayah saya dan seorang kiai yang sangat pintar dan guru bagi penghafal Alquran. Kyai itu bernama Kyai Yusuf, ayahanda mendiang politisi NU Slamet Effendy Yusuf.

”Ternyata saat itu nama saya masuk daftar juga ya,” katanya ayah saya geleng-geleng kepala.

Namun ayah pun mengaku masuk akal karena bila masuk dalam daftar orang yang harus ‘dihabisi’. Ini karena selaku seorang guru dan pegawai negeri yang pada saat itu selalu getol memberi pengajian ke masyarakat tentu dianggap aneh.

Bahkan sering disebut sebagai orang ‘Islam fanatik’ oleh rekan sekerja yang mengaku manusia rasional (materialisme) yang suka mengatakan bahwa tidak ada urusan Tuhan dalam proses pencipataan alam semesta. Mereka selalu mengatakan dunia tercipta dengan sendirinya dari gumpalan gas. Ayah dalam soal ini selalu mendebatnya.

Tapi ayah tak peduli. Bahkan, dalam setiap shalat Jumat dia selalu memberikan khutbah. Risikonya bagi orang awam kampung kami (kota kecil) yang kebanyakan masih abangan atau Islam minimalis, tentu saja bila ada seorang pegawai negeri memberikan khutbah Jumat maka itu fenomena yang sangat tidak biasa.

Namun ayah lagi-lagi tak peduli, walau paham risikonya masuk daftar pengkhubtah (kini dai) yang harus diwaspadai oleh sebuah kepentingan dari golongan tertentu.

”Mujur ayah masih hidup. Malah bersama-sama ayah bersama KH Yusuf itu kemudian merintis pendidikan sekolah menengah Islam. Sekolah itu kami beri nama SMP Diponegoro. Kami mendirikannya dari nol seperti mencarikan kayu-kayunya dari pegununungan yang ada di kawasan Gunung Slamet,” tutur ayah lagi.

Tak beda dengan ayah, ibu saya juga sibuk terjun ke kancah pengajian. Waktu itu aktif di Muslimat NU.”Saya sering ikut pengkaderan ormas wanita itu. Mentor saya Mahbub Junaedi, kolomnis dan pemikir Nahdlatul Ulama,” kata ibu saya. Dan dikemudian hari saya kemudian melihat beberapa foto ibu yang tengah berapat di sebuah acara itu. Para kaum ibu terlihat berkabaya dan berkerudung.

Setelah masa ‘perebutan kekuasaan’ lewat, maka kini memasuki masa awal Orde Baru. Beberapa sisa konflik masih terlihat. Misalnya pada suatu sore tiba-tiba kampung geger karena ada seseorang menimpuk kepala tetangganya dengan batu hingga tewas. Setelah diusut ternyata si penimpuk batu tidak terima ketika melihat seorang tetangga saya yang lain yang juga aktif sebagai pengrus PKI bisa pulang dari tahanan dengan selamat.

”Kamu kenapa pulang. Bapak saya malah mati. Sekarang ganti kamu yang aku matiin!” kata orang yang saya ingat bernama Granat itu. Kejadian ini membuat suasana kampung sangat ribut karena dilakukan di dekat perempatan jalan. Semua orang kampung tahu. Di dia ditangkap polisi.

Anehnya, dia tidak diadili apa-apa. Hanya beberapa hari ditahan, setelah itu bebas tanpa ada tuntutan. Dan bila mengingat itu, Ayah mengatakan:”Ya itulah politik nak. Hukum ya sebenarnya politik!” Dan kata ini terngiang sampai sekarang.

Memang kondisi ekonomi keluarga pegawai negeri, semenjak rezim Orde Baru semakin lumayan. Dari masa Orde sebelumnya yang hanya makan nasi dicampur bulgur, kini mulai bisa memakan nasi secara rutin. Ayah dan ibu mulai bisa menabung untuk menyicil beli rumah. Saya pun lebih leluasa beli bahan bacaan segala macam koran.

Kalau kehabisan bacaan ayah pergi ke stasiun kereta tau termina bus untuk beli koran terbitan Jakarta. Di kemudian hari, bahkan saat itu ayah mulai berlangganan ‘The Jakata Post’. Di situlah saya mulai kenal kata unik ‘seperti pilgrim’ hingga tukisan kolom sosok sangat terkenal seperti Breznev, Churchil, Gorbachev, dan Margeth Theacher.

Keterangan foto: Anak-anak belajar mengaji. (foto: Pinterest.com)

Dan di tengah kesibukan mengajar di sekolah, ayah dan ibu juga tetap selalu aktif di pengajian. Setiap malam Jumat ayah selalu gelar pengajian atau Yasinan dari rumah ke rumah. Berbagai macam bahasan dari kitab Nailul Authar, Ihya Umuluddin, Bulughul Maram, Riadhus Shalihun, hingga Tasfir Al Azhar diberikan. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai kami pindah domisili di tempat lain.

Ibu misalnya sangat aktif di Al Hidayah (salah satu ormas perempuan Golkar). Dia selalu sibuk rutin ikut pengajian. Di setiap kampanye, Pemilu 1982, dia selalu memberikan ayah mengerahkan masa ikut kampanye. Di foto keluarga pun ada foto ayah naik truk terbuka sembari mengacungkan dua jarinya.

”Ayah benar coblos Golkar waktu itu,” tanya saya sembari melihat kembali foto itu di awal tahun 2000-an.

Anehnya ayah tertawa pendek.”Ayah tidak pernah nyoblos Golkar saat itu. Paling tidak baru nyoblos golkar setelah reformasi dan setelah tahu partainya Slamet Effendy (Golkar) itu dikejar-kejar untuk dibubarkan. Saat itu saya mulai coblos golkar!”

”Lalu waktu coblos apa? PDI,” tanya saya.

”Ya tidaklah saya selalu coblos PPP,” kata sembari tersenyum kecil.

”Lho kok bisa begitu?”

“Ya bisa. Itulah politik. Kalem saja,” kata Ayah sembari mengatakan terus memegang pesan Nurcholish Madjid yang harus memompa ban kempes. Dan yang dimaksud ban kempes itu aspirasi politik umat Islam. Partai ini di masa kampanye pernah diolok Ketua Umum Golkar Amir Murtono, selaku partai ‘Blek Bodol’ (kotak besi tua) karena memakai lambang Ka’bah.

Maka PPP yang kala itu di-‘kempesin’ rezim Orde Baru habis-habisan itulah yang saya pilih. Saya bela dia,” ujarnya ringan.

Bagi keluarga kami, represi terhadap umat Islam semasa Orde Baru memang terasa telanjang dan terjadi di depan mata. Soal-soal politik hingga toleransi antarumat beragama juga jadi bahan perbincangan di rumah sehari-hari.

Apalagi rumah saya berada persis di samping gereja. Saudara-saudara kami pun sebagian non muslim. Ibu sewaktu kecil bahkan sempat menyeyam pendidikan Kristen: SD Masehi. Salah satu pelajarannya yang masih diingat sampai sekarang adalah cerita nabi-nabi dalam Bibel dalam bahasa Jawa yang disebut ‘Babad Rasul’.

Nah, di depan mata saya persaingan politik dan agama berlangsung. Kami menghayati betul ketika Buya Hamka protes soal perayaan Natal bersama. Kami baca soal itu melalui majalah Panji Masyarakat. Gereja di samping rumah acap kali didatangi ‘orang Bule’.

Di situ saya pertama kali melihat film Jesus Crist Super Star. Dan di situ juga saya kenal lagu syahdu ‘Kidung’ Chris Manusama. Syairnya yang puitis selalu teringat: “Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini, begitu ceria…”

Maka dalam suasana itu kami melihat apa yang dikatakan Buya Hamka menuai masalah. Bahkan, meredam kegairahan perayaan Natal di geraja. Apa pasal? Ya karena saat itu tetangga sekampung saya yang Muslim ikut-ikutan hadir dalam acara perayaan Natal di dalam gereja. Mereka ikut di tengah acara itu padahal itu sebuah kegiatan kebaktian. Katanya demi persaudaran karena memang yang merayakan natal memang masih saudara sedarah.

Atas adanya kenyataan itu, kemudian saya lihat langsung di forum majelis taklim pada setiap malam Jumat, ayah berusaha memberi tahu apa arti toleransi itu yang hakiki. Katanya kepada para jamaah pengajian: “Yang namanya toleransi itu tidak mengganggu atau menghalangi umat beragama lain untuk menjalankan keyakinannya. Jadi bukan ikut hadir di dalam misa gereja sewaktu kebaktian Natal pada tanggal 25 Desember.”

Dan gayung bersambut di tempat lain, seorang kyai yang juga masih saudara di dalam pengajiannya juga mengatakan hal sama. “Keblinger bila ada seorang Muslim mengatakan semua agama sama saja. Jangan ikuti!”

Dalam hal itu Fatwa Buya Hamka ternyata terbukti ampuh sekali. Umat beragama sekampung kami semakin memahami apa arti toleransi. Mereka pun paham mengenai cara hidup bersama secara rukun tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan.

Namun, pada saat yang sama ada kejadian memilukan. Hal itu adalah ketika tangan militer selalu kepanjangan tangan pemerintah Orde Baru ikut bermain. Pada masa itu, dalam acara resepsi pernikahan ‘Bu Lik’ kami tiba-tiba ada seorang pendakwah atau kyai diturunkan oleh seorang anggota Koramil dari panggung karena tak mengantongi izin.

Ini jelas pemandangan aib bagi kami. Apalagi kami tahu Pak Kyai itu hanya sekedar kelas kyai kampung yang khusus diundang untuk memberi nasihat perkawinan belaka. Tapi usut punya usut kyai itu dianggap ‘radikal’ dan tak disukai rezim karena tidak mau memilih Golkar. Ibu saya terlihat yang paling geram karena kyai itu adalah salah seorang saudaranya.

”Ini ada apa sih,” kata ibu dalam bahasa Jawa. Dan ketika kyai itu turun dari mimbar karena tak boleh berpidato kami hanya memandangnya dengan membisu. Ayah terlihat menghela napas. Akhirnya, pidato nasihat perkawinan diberikan oleh salah satu anggota keluarga lain dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Berangsur hari, suasana itu kami merasa makin mencekam. Di kampung terdengar ramai peristiwa perampokan. Di batas perkampungan ditemukan mayat tertembak di bagian kepala yang tersandar di pinggir pohon jalan. Orang ramai membincangkan terjadi operasi pemberantasan para preman atau Gali. Operasinya terkenal dengan nama ‘Petrus’ (Penembakan Misterius).


Keterangan foto: Korban operasi Penembakan Misterius (Petrus) di tahun 1980-an.

Dan akhirnya suasana memuncak ketika tetangga saya mendadak pulang merantau dari Jakarta. Dia yang mengaku sehari-hari mencari nafkah dengan mengayuh becak di dekat Kompleks Bogasari, Tanjung Priok, hidup dicekam ketakutan,

”Aku memilih pulang. Di Priok ada perang. Banyak orang mati dan tembak-tembakan.Ngeri sekali pokoknya,” kata tetangga tersebut. Dia bicara terbuka karena kebetulan teman sebangku semasa sekolah. Kisah ini setelah besar baru ‘ngeh’ bahwa itulah peristiwa berdarah tragedi Tanjung Priok.

Jadi tanpa sadar kami ada di tengah pusaran politik, mulai dari izin pendakwah semasa Orde Lama dan Orde Baru, hingga kepartaian, bahkan hingga soal tragedi berdarah nasional yang lain.

Ya itulah politik…!?

sumber : REPUBLIKA.CO.ID





Web development by oktopweb.com