Unjuk Rasa

281 total views, 9 views today


Oleh Jajang R Kawentar, Penulis di Critique Art Community Yogyakarta

PASKA PEMILIHAN UMUM (Pemilu) sebelum dilantiknya Presiden RI beberapa waktu lalu, terjadi unjuk rasa siswa setingkat SMA dibeberapa kota besar mewarnai negeri ini.

Uforia politik praktis masih hangat. Unjuk rasa di jalanan mendadak seperti trend pasion. Mereka meneriakan tuntutan-tuntutan mengatasnamakan orang banyak.

Boleh jadi mereka sendiri belum faham dengan tuntutan yang diteriakannya. Karena terprovokasi media sosial yang gencar, hampir setiap detik mengingatkan dan mengajaknya. Mungkin saja sebenarnya itu upaya pembawa isu untuk melicinkan jalan ambisi kepentingan sesaat. Siasat dari para broker politik. Begitulah politik selalu ada intrik.

Tentu tidak ada salahnya dalam kehidupan demokrasi, selama menjaga hak dan norma-norma kemanusiaan. Ini masalah dunia kreatif yang berbeda. Ternyata siswa-siswi yang unjuk rasa itu merasakan bagaimana menjadi parlemen jalanan.

Sebuah pengalaman unik bagi mereka, anggap saja simulasi bagaimana unjuk rasa yang damai dan bagaimana mengatasi unjuk rasa para pelajar.

Karya Seniman yang menjadi guru siswa PKL SMSR Yogyakarta, (kiri ke kanan) Sigit Rahajo, Totok Buchori, Subandi Giyanto, Endro Banyu, Mulyo Gunarso dan Riki Antoni. Ada 30 seniman Yogyakarta yang di pilih Siswa untuk menjadi guru. (Foto.Dok.KSOL/Jajang)

Apakah unjuk rasa itu berdasarkan kesadaran pribadi atau kesadaran yang digerakan oleh eksistensi anak muda karena gelombang teknologi yang bisa membuatnya viral. Apakah Unjuk Rasa turun ke jalan itu menjadi bagian dari pelajaran pendidikan mental, atau bagian dari pelajaran yang membentuk karakter peserta didik?

Sekarang wayahe mengimplementasikan  praktek demokrasi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Karena semua warga negara memiliki hak bersuara menyampaikan pendapat.

Anak muda kreatif dan inovatif terdepan dalam melakukan perubahan itu. Tentunya tidak dapat dielakan lagi, bahwa anak muda wayahe memimpin. Terutama bagaimana rasa nasionalisme tetap terjaga dan mempertahankan nilai-nilai Pancasila menjadi dasar pemikiran dalam setiap kebijakan negara.

Unjuk Rasa itu Pameran

Unjuk rasa bukan semata berkonotasi demonstrasi meneriakkan tuntutan atau menyampaikan protes di depan umum, di depan instansi dan lembaga bermasalah dengan toa.

Unjuk rasa bisa berarti Pameran: memamerkan karya hasil dari berdemonstrasi mengungkapkan pendapat dan perasaan melalui media kanvas, kertas, plastik, batu, tanah dan berbagai macam media, termasuk media digital dan elektronik. Sebuah cara unjuk rasa yang berbeda, yaitu dengan karya-karya monumental.  

Unjuk rasa ini justru menghadirkan manifestasi siswa yang baru diraih dari pengalamannya selama tiga bulan, sehingga membutuhkan kritik dan saran. Supaya mencapai prestasi dalam berkarya yang lebih baik lagi. walau demikian tidak ada salahnya juga kalau karyanya ada yang mengadopsinya atau mengoleksinya.

Suasana pembukaan Pameran Unjuk Rasa SMSR Yogyakarta, Sabtu, 25 November 2019, dibuka oleh Putu Sutawijaya, pelukis pemilik gallery Sangkring. (Foto.Dok.KSOL/Jajang)

Seperti halnya yang dilakukan Pelajar SMSR Yogyakarta (SMKN 2 Bantul) angkatan 2017 jurusan Lukis. Mereka unjuk rasa dengan memamerkan karya hasil Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama tiga bulan di studio pelukis Yogyakarta. Pameran ini dikomandoi oleh Gesito Arhan, siswa dari kelas Lukis 1.

Inilah bedanya unjuk rasa SMSR jurusan Lukis, dimana mereka habis-habisan demonstrasi di depan kanvas menyampaikan segala keluh kesahnya dan berbagai macam pemikiran serta gagasannya.

Dengan teknik, pengetahuan dan pemahamannya sendiri dari hasil menyerap selama berguru. Disinilah diuji kemampuan berdemonstrasi menyampaikan pendapat, pengetahuan, dan pemahaman pelajar melalui lukisannya.

Namun unjuk rasa ini tidak berhenti pada demonstrasi di depan kanvas. Apakah usai demonstrasi itu mereka berani melakukan unjuk rasa dengan memamerkan karyanya dihadapan publik? Tentu tidak semua berani melakukannya.

Hal ini terkait masalah rasa percaya diri dan kesungguhan dalam menimba ilmunya. Untuk menjadi pengunjukrasa atau seorang demonstran seni lukis harus berani, dan punya mental untuk tampil terdepan.

Memamerkan karya seni tidak harus di gedung ruang pamer yang formal, dimana saja dapat di fungsikan sebagai ruang pamer. Tergantung bagaimana mengemasnya.

Media sosial juga menjadi cara untuk unjuk rasa memamerkan karya lebih luas ketimbang hanya dipajang di ruangan konvensional. Semua dapat dilakukan dan dicoba, bagaimana memanfaatkan ruang, media dan teknologi yang ada supaya bisa unjuk rasa.

Kemampuan dalam menguasai teknologi, mencoba berinovasi, serta semangat terus belajar merupakan ciri pelajar milenial. Tidak mudah menyerah, terus berusaha menemukan sesuatu yang baru. Pantang ketinggalan informasi dan pengetahuan. Berani kreatif melakukan eksperimen, tidak mudah terbawa arus dan yang penting bertanggung jawab.

Unjuk Rasa PKL

Sebanyak 64 siswa turut ‘Unjuk Rasa’ karya dari total 78 siswa di tiga kelas yang PKL. Jumlah siswa kelas Lukis 1 yang ikut 21 dari 33 siswa, kelas Lukis 2 yang ikut 20 siswa dari 22 siswa, kelas Lukis 3 siswanya 23 semuanya ikut. Setiap siswa mengumpulkan satu atau dua karya untuk didisplay di ruang Gallery.

Semua karya yang dipamerkan merupakan representasi dari gurunya ketika berunjuk rasa. Karena mereka yang PKL diberi kebebasan memilih pelukis untuk menjadi guru sesuai dengan minatnya.

Bagaimana gurunya demonstrasi di hadapan kanvas, dengan segala pendalaman pesan dan cara menyampaikan pesan. Sedikit banyak siswa yang PKL akan menerima masukkan seperti perlakuan gurunya terhadap penyelesaian sebuah karya. Kita akan melihat peningkatan keterampilan, perkembangan kreativitas dan kecerdasan siswa PKL itu dari karyanya.

Sebagai pelajar yang kreatif tentu akan memanfaatkan waktu dalam rentang tiga bulan untuk berdiskusi, dialog lebih santai, menggali lebih banyak pengetahuan dari guru dan mencoba mempraktekannya lalu bereksperimen. Selain itu mempersiapkan diri belajar menerima sesuatu yang baru, atau sesuatu yang justru terdapat perbedaan pandangan.

Dalam PKL yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menemukan ide atau gagasan, dan membuat konsep karya. Lebih jauh lagi mengetahui lebih intim tentang konsep berkesenian.

Namun untuk saat ini bagaimana menemukan cara supaya tetap menjaga mood untuk berkarya, bukan menunggu mood datang baru mulai berkarya. bagaimana unjuk rasa yang konsisten dan berkelanjutan, bukan mood-moodan.       

Unjuk Rasa Keberhasilan

Keberhasilan para PKL merupakan cerminan dari pelukis yang menjadi gurunya. Karena dalam waktu yang relatif singkat kemampuan siswa dapat meningkat cukup signifikan. Tidak dapat dipungkiri peran guru mengemplementasikan ilmunya.

Ilmu yang akan dibawa siswanya sampai kapanpun dan terus mengalir. Menghiasi setiap langkah-langkah dan sepak terjang siswanya ke depan. Seperti mata panah yang melesat jauh dari busurnya. Begitupun antara guru dengan siswanya bisa jadi siswanya akan cepat mencapai kesuksesan.

Walau demikian janganlah kacang lupa kulit. Begitu pepatah mengingatkan kita semua. Jangan lupakan kebaikan dan ilmu yang telah diterima, karena keberhasilan yang diraih ada peran guru di sana. Baik buruk guru tetap saja guru, wajib dihormati dan dihargai. Jaga sopan santun. Karena dengan tetap menjaga kebaikan itu, ilmunya akan selalu diamalkan dan bermanfaat.

Mulai sekarang marilah kita Unjuk Rasa yang sopan dan bersahaja saja. Unjuk rasa secara bersama-sama, atau mungkin menyendiri di ruang tertutup atau di alam terbuka yang sepi. Semua punya kebiasaannya sendiri untuk bisa unjuk rasa, menyampaikan segala kegelisahannya lewat karya.**

Yogyakarta, 16 November 2019





Web development by oktopweb.com