Menanti “Gas-Pol” Dewan Kesenian Palembang

52 total views, 3 views today


Susunan kepengurusan Dewan Kesenian Palembang (DKP) periode 2019-2024 sudah terbentuk. Tinggal bagaimana jajaran pengursu DKP yang baru  menyusun, mengawal dan menjalankan program kerjanya di masa mendatang. Qusoi, Sekretaris DKP mengawali sambutannya memlih kata “Gas-Pol” (gas penuh) untuk mengerjakan segudang pekerjaan rumah DKP yang masih menunggu penyelesaian.

SORE MENJELANG MALAM, sekitar pukul 16.30 WIB, suasana Gunz Cafe and Resto di Jalan Tasik Palembang, tidak seperti biasa. Sebab, kali itu berkumpul jajaran pengurus DKP periode 2019-2024. Diantara yang hadir juga sejumlah seniman senior Palembang di berbagai cabang seni.

Meski santai, suasana menjadi agak serius ketika kemudian Yos Rizal, salah satu perupa Palembang membuka acara silaturahmi dan perkenalan antar pengurus DKP yang baru.

Gunz Cafe and Resto –– Qusoi, sekretaris Dewan Kesenian Palembang (DKP) Periode 2019-2024, (berdiri) sedang memberi sambutan pada silaturahmi pengurus DKP yang baru di Gunz Cafe and resto Palembang (Foto.Dok.KSOL/im)

Qusoi, Sekretaris DKP yang baru, kemudian meng-handl acara dengan membacakan susunan kepengurusan DKP periode 2019-2024, sekaligus mengenalkan satu persatu masing-masing ketua dan anggota komite, juga Tim pembina dan Tim pengarah.

Pada kepengurusan ini, menurut Qusoi harus “gaspol” alias dengan tenaga penuh. Sebab, melihat jajaran di semua komite, menurut Qusoi sudah dinakhodai oleh sejumlah personil seniman yang mumpuni.

“Menurut saya, kepengurusan ini harus gaspol, kita harus maksimal. Sebab saya lihat semua komite sudah diisi oleh orang-orang muda, dan sangat kompeten di bidangnya,” tegasnya.  

Sekretariat dan Alokasi Dana

Silaturahmi — Iqbal Rudianto alias Didit, Ketua DKP terpillih, sedang memberi sambutan dalam silaturahmi perdana kepengurusan DKP periode 2019-2024 di Gunz Cafe and Resto Palembang (Foto.Dok.Tim 14 DKP)

Banyak hal yang kemudian mengemuka pada diskusi kecil sore itu. Diantaranya persoalan sekretariat DKP yang selama ini pindah-pindah. Hal lain mengemuka juga persoalan anggaran 2020 untuk DKP yang belum teralokasi di APBD Pemerintah Kota Palembang.

Namun, hasil diskusi DKP dengan tiga dinas (Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan) Kota Palembang, seperti diungkapkan Iqbal Rudiato, ST, Ketua DKP terpilih, hal itu tidak mesti menjadi keresahan bagi para seniman.

Sebab menurut Alumnus Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) ini, meski belum ada alokasi dana, namun tidak harus mematikan ide dan gagasan seniman untuk berkarya.

Sebab, menurut Didit—panggilan akrab Iqbal Rudianto—bila ada program DKP yang dapat dikerjasamakan dengan tiga dinas tersebut, masih sangat terbuka bila ide kreatif  itu tetap diakomodir.


Foto Bersama– Iqbal Rudianto alias Didit, Ketua DKP terpillih, foto bersama dengan jajaran kepengurusan DKP periode 2019-2024 di Gunz Cafe and Resto Palembang (Foto.Dok.Tim 14 DKP)

“Meski alokasi dana tahun 2020 belum ada, namun hasil musyawarah kami dengan tiga dinas, kalau memang ada program, ide dan gagasan kawan-kawan  mereka siap membantu dan bisa dikerjasamakan,” ujar Owner Gusn Café dan Resto Palembang, Sabtu, (17/11/2019).

Kemudian tentang sekretariat, Didit juga mengemukakan, hasil dialoh dengan dinas kebudayaan, untuk kegiatan keseharian, para seniman diberi ruangan di kantor di Dinas Kebudayaan (Disbud) Palembang. Tentang alat tulis kantor dan lainnya, menurut Didit, Disbud Palembang siap membantu.

“Kita diberi ruangan di Kantor Dinas Kebudayaan Palembang. Termasuk untuk rapat seniman juga bisa mennggunakan ruangan di dinas kebudayaan Palembang,” ujarnya.

Data Base

Di sela-sela diskusi, Anto Narasoma, salah satu pelaku sastra di Palembang memberi masukan tentang pentingnya data base seniman, lembaga seni dan karyanya.

Menurut salah satu penyair di Sumsel ini, selama ini DKP masih sangat lemah dalam bidang data base, baik nama seniman, karyanya dan lembaga seni, komunitas seni di Palembang.

“Saya berharap, jajaran kepengurusan yang baru ini, harus membuat data base seniman dan karyanya, termasuk potensi seni dan budaya Palembang yang selama ini nyaris tidak terdokumentasi,” ujarnya.

Mengurusi Seniman

Selain data base, kritik juga muncul dari Kamsul A Harla, salah satu musisi Palembang. Menurut pencipta lagu “Ya Saman” ini, tugas DKP ke depan harus mengurusi seniman, bukan hanya mengurusi masing-masing komite atau hanya mengangkat dirinya sendiri.

Membangun sinergi dan kersajama antara komite satu dan lainnya menurut Kamsul menjadi utama, sehingga DKP tidak terkesan mengangkat personal seniman, tetapi harus DKP yang muncul ke permukaan, yang dilakukan secara bersama.

“Dewan kesenian ke depan harus mengurusi seniman, jangan hanya mengurusi pribadi-pribadi seniman atau kelompok tertentu, ini fungsinya kita membuat komite. Jadi antara satu dan lainnya bisa bersinergi, untuk kemudian yang muncul bukan pribadi seniman, tetapi Dewan Kesenian Palembang,” tegasnya.

Kerjasama Komite

Di akhir acara, Dr A Rapani Igama juga didaulat angkat bicara. Panyair Palembang ini lebih menitikberatkan pada kerjasama antara komite dalam tubuh DKP. Menurut Rapani, semua komite yang menyusun program kerja, pada praktiknya tidak harus kerja sendiri-sendiri melainkan manjadi satu tim yang solid.

Dalam obrolan informal usai acara, Rapani juga menyarakan, masing-masing komite, tidak harus menjadi eksektor program. Rapani memisalkan, seandainya ada satu program, yang muncul bukan komite itu sendiri tetapi harus diakomodir DKP, dengan melibatkan semua ketua dan anggota komite.

“Program boleh saja dari usulan komite, tetapi saat eksekusi, menjadi kerja dewan kesenian secara keseluruhan. Ibaratnya, kalau dewan kesenian ini diumpamakan lembaga DPRD, misalnya ada usulan dari fraksi, boleh diakomodir, tetapi saat eksekusi, bukan lagi fraksi A dan fraksi B yang menjadi eksekutor, tetapi harus diparipurnakan oleh DPRD secara keseluruhan, dibetuk tim pelaksana, yang melibatkan semua anggota fraksi, karena usulan program itu sudah menjadi program DPRD, bukan program fraksi. Ini hanya perumpamaan saja,” ujarnya.

Rapani menegaskan, domain yang harus  muncul itu DKP, bukan komite. Masing-masing komite hanya menjadi konseptor program. Pada saat pelaksanaan, usulan program kemudian dirapatkan bersama, dibentuk tim pelaksana oleh jajaran pengurus DKP, dengan melibatkan semua komite.

“Meskipun program yang mengusulkan seni rupa, atau sastra, film dan komite lainnya, tetapi pada saat eksekusi program, tetap harus melibatkan semua jajaran komite, sehingga yang muncul ke permukaan bukan personal seniman, bukan pula komite saja, tetapi dewan kesenian Palembang,” tambahnya.

Perwali penting

Hal lain yang mengemuka dalam obrolan kecil bersama Rapani Igama juga persoalan Peraturan Walikota (Perwali) Palembang.

Merujuk pada posisi dewan kesenian di sejumlah kota, seperti Yogjakarta dan Jakarta, Rapani melihat pentingnya posisi tawar DKP di hadapan Pemerintah Kota Palembang.

Di Yogyakarta dan Jakarta, dewan kesenian sudah masuk di jajaran pemerintah, dalam arti dilibatkan dalam setiap rapat, seperti perencanaan penataan kota, merancang anggaran kebudayaan dan lainnya.

“Jadi semua program yang berkaitan dengan seni budaya, yang dilaksanakan instansi di kota, harus melakukan koordinasi dengan dewan kesenian. Dewan kesenian benar-benar punya posisi tawar yang tinggi di mata pemerintah. Dewan kesenian semacam konsultan dan juga mempunyai hak mengawasi program seni budaya yang dilakukan di Kota Palembang. Hal ini hanya bisa dilakukan kalau ada Perwali,” ujarnya.

Informasi yang diperoleh, saat ini Perwali yang diusulkan DKP sudah di meja Kabag Hukum Pemkot Palembang. Namun menurut Rapani, bila memungkinkan, sebelum Perwali ditandangani bisa dilihat ulang pointer-pointer-nya, dan sangat mungkin bisa direvisi. “Ini yang menjadi tugas jajaran pengurus DKP yang baru,” tegasnya.

Rencana Pelantikan

Pada dialog sore hingga malam itu, mengemuka juga tentang rencana pengukuhan dan pelantikan DKP periode 2019-2024. Qusoi, menjelaskan dijadwalkan pelantikan akan dilaksanakan pada pertengahan Desember 2019. Namun demikian, menurut Qusoi, di tengah nasa menunggu pelantikan, masing-masing komite sudah diwajibakn menyusun program masing-masing.

Di akhir acara, masing-masing komite melakukan rapat komisi dengan melingkar di sejumlah meja yang disediakan Guns Cafe dan Resto. Sesekali, Qusoi berkeliling berpindah dari komite satu dan komite lainnya.

Qusoi melihat beberapa komite yang serius, dan ada saja komite yang sesekali terdengar gelak tawa, tanpa mengurangi muatan diskusi malam itu. Tanpa komando, usai rapat komisi, masing komite membubarkan diri, membawa Pe-Er-nya masing-masing.**

TEKS : IMRON SUPRIYADI  I    FOTO : DOK.TIM 14 DKP





Web development by oktopweb.com