Alasan Sebenarnya di Balik Kemesraan Jokowi-Prabowo

Masalah tidak selesai dengan berakhirnya pemilu. Habis pemilu, terbitlah masalah baru. Ke manakah kubu Prabowo berlabuh?

Partai-partai Koalisi Adil Makmur, setelah menyadari gagal dalam pemilu, mulai melirik pada kubu pemenang pemilu, kubu Jokowi-Amin. Partai Demokrat, misalnya, mulai melobi kubu pemenang tidak lama setelah pengumuman hasil pemilu.

Partai pimpinan Prabowo Subianto, Gerindra, pun tak luput dari pemberitaan. Pertama, ramai tersebar mengenai Gerindra yang merapat ke koalisi presiden terpilih dan meminta jatah tiga posisi menteri.

Hal ini kemudian dikonfirmasi tidak demikian adanya. Yang terjadi adalah pembicaraan mengenai swasembada pangan, energi, dan air yang merupakan konsep janji kampanye Prabowo kemarin.

Kedua, Prabowo yang diisukan akan diangkat sebagai Menteri Pertahanan. Terakhir, Prabowo mengatakan bahwa tidak ada oposisi di Indonesia.

Mengenai pemberitaan yang pertama, ada kemungkinan untuk terjadi. Walau tentu saja sulit mengingat Gerindra sebagai partai utama dalam kubu lawan. Kubu Jokowi akan memprioritaskan partai-partai yang selama ini mendukung dan menemaninya dalam suka maupun duka.

Tentang Prabowo Subianto yang diisukan menjadi menteri pertahanan? Tidak mungkin. Kita semua tahu, posisi menteri, bagaimanapun strategisnya, istilah kasarnya tetap adalah sebagai pembantu presiden. Lama tidaknya masa jabatan berada di tangan presiden.

Jika Prabowo mampu menantang untuk maju sebagai presiden, menerima jabatan menteri adalah sebuah penghinaan. Masak toh doi harus melapor kepada lawan politiknya di pemilu kemarin?!

Selanjutnya, pertemuan hangat dan swafoto antara Jokowi dan Prabowo di Istana pada 11 Oktober 2019 dan pernyataan Prabowo bahwa tidak ada oposisi di Indonesia patut kita telaah dengan positif.

Prabowo telah menghempas manja kelompok Persaudaraan Alumni 212 ketika beliau memutuskan untuk bertemu dengan Jokowi di MRT yang baru diresmikan tempo hari. PA 212, yang melakukan segala daya upaya untuk memenangkan Prabowo, tidak didengarkan. Habis manis sepah dibuang.

Kali ini, apakah benar Prabowo tidak akan menjadi oposisi?

Oposisi adalah ruhnya demokrasi. Tanpa kubu oposisi, kegiatan bernegara terasa hambar. Siapa yang akan memberikan pencerahan, analisis untung rugi, sudut pandang lain dari satu kebijakan pemerintah jika tidak ada oposisi?

Tentu saja terdapat para pakar yang mampu memberikan analisis-analisis tajam dari sudut pandang keilmuan masing-masing. Tapi, pakar-pakar itu tidak memiliki basis massa di belakang mereka.

Adapun oposisi? Setidak-masuk-akal bagaimanapun pernyataan mereka, akan diretweet dan dibagikan oleh ribuan hingga jutaan orang pengikut. Bahkan, bisa menjadi isu nasional. Ingat saja pada wacana penggunaan bahasa Inggris dalam debat capres-cawapres kemarin. Tidak masuk akal. Tapi, toh menjadi topik utama pada media nasional.

Jika tidak ada oposisi, siapa yang akan mengkritisi pemerintah? Mahasiswa?

Mahasiswa hanya mampu turun ke jalan. Di panggung televisi, mahasiswa akan diminta untuk belajar lagi dan dikerdilkan oleh mereka yang katanya lebih paham dan kaya pengalaman. Dipukuli dan ditendang petugas pengamanan, kepala retak, koma, begitu meninggal berstatus tersangka pula.

Usai bertemu dengan Jokowi, Prabowo mengatakan, di Indonesia tidak ada oposisi. Mungkin maksudnya partainya memang tidak akan menjadi oposisi. Tidak akan menjadi pihak yang nyinyirin pemerintah.

Mungkin memang sulit menjadi oposisi di pemerintahan Jokowi. Sosok Jokowi yang sejak semula dikenal populis, berasal dari kalangan sipil, menarik banyak simpati. Walau kemudian rezim pemerintahannya diplesetkan menjadi rezim ORang BAik.

Terlebih lagi, dalam perang status antara pejuang media sosial antara kedua kubu, kubu kontra Jokowi tak jarang dipermalukan hingga berakhir di penjara. Kubu Jokowi masih mampu memegang kendali dunia maya.

Tengok saja kasusnya. Apa pun postingannya, UU ITE solusinya. Tanpa analisis yang panjang, begitu mudah seseorang dipolisikan karena tarian jari-jemarinya. Apakah mungkin saya akan menjadi salah satunya? Tidaaak!

Jika untuk periode 2019-2024 Prabowo memutuskan untuk tidak menjadi oposisi, maka sungguh Prabowo kalah tangguh dari Megawati Soekarnoputri. Selama sepuluh tahun, kubu Megawati gigih berdiri berseberangan jalan dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tapi, tentu saja Prabowo memiliki pertimbangan tertentu. Salah satunya bahwa tidak akan ada Jokowi pada pemilu 2024 mendatang. Bagaimanapun, Prabowo masih memiliki kesempatan untuk ikut pemilu, Jokowi tidak. Tidak ada salahnya untuk beramah-tamah dengan Jokowi pada periode kali ini.

Lagipula, toh pada tahun-tahun pertama masa jabatan, seorang presiden bisa saja mengatakan bahwa kesulitan menjalankan pemerintahannya adalah karena adanya warisan pemerintahan sebelumnya. Ah, klasik sekali!

Tapi, apa yang dipikirkan oleh Prabowo sebenarnya? Apakah beliau mengafirmasi keberhasilan program kerja Jokowi sejauh ini walaupun menumpuk banyak utang negara?

Jika Jokowi menjalankan pemerintahan dengan baik untuk periode yang kedua setelah pelantikan ini, akankah beban presiden terpilih pada 2024 sedikit lebih mudah? Walau tentu saja akan tetap mewarisi utang negara. Hahaha

Sejauh ini, hanya Partai Amanat Nasiona (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menegaskan akan tetap berada di luar lingkaran kabinet. Tapi, ini kurang menarik, tentu saja. Jokowi itu levelnya Prabowo. Jika ada yang harus berada pada sisi yang berseberangan dengan Jokowi, maka itu adalah Prabowo. Pimpinan tertinggi dari enam puluh delapan juta pendukungnya pada pemilu April 2019 kemarin.

Sialnya, pemilu kemarin benar-benar mengerucutkan figur calon pemimpin masa depan hanya pada dua sosok. Jika Jokowi tidak mungkin lagi mencalonkan diri sebagai presiden, maka yang tersisa tentu saja hanyalah Prabowo Subianto.

Sayangnya, tidak ada pilihan kotak kosong pada kolom calon di lembaran surat suara pemilu. Setidaknya, belum ada sejarahnya. Sedangkan memilih golput membuat suara tidak terhitung.

Singkatnya, Prabowo hanya harus bertahan lima tahun lagi, menjaga citra diri dan partai, agar ambisinya menjadi presiden Republik Indonesia bisa tercapai. Bagaimanapun, waktu lima tahun bisa terasa hanya sejentikan jari Thanos. Jangan lupa, ibu kota baru menanti.

TEKS / FOTO : QURETA.COM / Ale Lemba




Web development by oktopweb.com