Kandungan Zat dalam Gas Air Mata

JAKARTA I KSOL — Gas air mata kerap digunakan untuk membubarkan kerumunan massa oleh petugas keamanan. Peluru gas air mata termasuk dalam sejata kimia yang menyebabkan mata pedih dan menyesakkan pernapasan.

Gas yang dikeluarkan peluru ini juga kerap membuat iritasi kulit, pendarahan, dan yang paling parah menyebabkan kebutaan. Iritasi kulit yang disebabkan oleh bahan kimia gas ini dirasakan seperti rasa pedih di mata, kulit, mulut, paru-paru, dan organ lain yang terkena asap tersebut.

Encyclopedia Britannica menuliskan gas air mata pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I dalam perang kimia.

Namun, karena efeknya jangka pendek dan jarang melumpuhkan, gas itu mulai digunakan oleh lembaga penegak hukum sebagai sarana untuk membubarkan gerombolan, melumpuhkan perusuh, dan membuang tersangka bersenjata tanpa penggunaan kekuatan yang mematikan.

“Anda bisa dipaksa untuk menutup mata (ketika terkena gas air mata) dan tidak bisa membukanya,” jelas Sven-Eric Jordt, seorang anestesiologis dari Universitas Duke Amerika Serikat, seperti dikutip PBS.

Setelah itu, penderita akan terbatuk-batuk, mual, dan muntah. Bahan kimia apa yang terkandung pada gas air mata ini sehingga menimbulkan efek yang sangat tidak menyenangkan. Jordt yang sudah meneliti gas air mata selama 10 tahun itu membeberkan temuannya. Jordt berpikir istilah ‘gas’ tidak cocok digunakan untuk bahan kimia tersebut.

Pasalnya, secara teknis zat tersebut bukan berbentuk gas melainkan bubuk yang mengembang ke udara sebagai kabut halus.

“Saya menganggap gas air mata merupakan gas rasa sakit karena secara langsung mengaktifkan reseptor rasa sakit,” ujarnya dikutip dari PBS.

Jordt menjelaskan gas air mata ini dapat menyebabkan kelumpuhan otot hingga berakhir mati lemas karena kandungan gas sarin. Secara khusus, semua gas air mata mengaktifkan salah satu dari dua reseptor rasa sakit, TRPA1 atau TRPV1.

“Mereka sebenarnya tersebar dengan membakar dan menempel pada kulit atau pakaian dan dapat bertahan untuk sementara waktu,” kata Jordt.
Zat tersebut bereaksi secara kimia dengan biomolekul dan protein pada tubuh manusia yang dapat menyebabkan sensasi terbakar parah.

Kategori kedua dari agen gas air mata adalah semprotan merica dan mengaktifkan reseptor rasa sakit TRPV1. Ini sebagian besar berasal dari capsaicin, senyawa rempah dalam cabai.

Ada dua senyawa yang umum digunakan dalam kategori ini yakni Gas OC, larutan capsaicin alami, dan PAVA, campuran capsaicin sintetis

“Ini memiliki lebih sedikit reaksi kimia atau alergi, tetapi dapar menyebabkan lecet kornea jika menembaknya langsung ke mata seseorang.”

Efek jangka panjang dari segala jenis gas air mata tidak diketahui, terutama jika korban terpapar dalam waktu singkat dan jarang.

Sumber lain yakni Encyclopedia Britannica pun membahas gas air mata. Dalam situsnya, gas air mata atau lacrimator merupakan kelompok zat yang bisa mengiritasi selaput lendir mata.

Zat yang paling sering digunakan sebagai gas air mata adalah senyawa halogen organik sintetik. Dua gas air mata yang paling sering digunakan adalah ω-chloroacetophenone, atau CN, dan o-chlorobenzylidenemalononitrile, atau CS.

CN adalah komponen utama dari agen aerosol Mace dan banyak digunakan dalam pengendalian kerusuhan. Ini mempengaruhi terutama mata.

CS adalah iritan yang lebih kuat yang menyebabkan sensasi terbakar di saluran pernapasan dan menutup mata secara tak disengaja, tetapi efeknya hilang lebih cepat, setelah hanya 5 hingga 10 menit menghirup udara segar.

Senyawa lain yang digunakan atau disarankan sebagai gas air mata termasuk bromoaseton, benzil bromida, etil bromoasetat, xylyl bromide, dan α-bromobenzyl sianida.

Efek gas air mata bersifat sementara dan reversibel dalam banyak kasus. Masker gas dengan filter arang aktif memberikan perlindungan dari gas air mata.

TEKS/FOTO : CNN INDONESIA,COM (eks/age)




Web development by oktopweb.com