Tantangan Media Cetak di Zaman Konvergensi Media

16 total views, 3 views today

PALEMBANG I KSOL — Media cetak yang menjadi sumber informasi masyarakat, kata General Manager Sumatera Ekspres (Sumeks) Nurseri Marwah, kondisinya saat ini banyak yang tutup dan merambah ke dunia digital.

“Harus diakui kondisi media cetak sekarang banyak yang tutup, sebab biaya operasionalnya sendiri berat, seperti harga kertas yang mahal,” ujarnya saat mengisi materi Seminar Tantangan Pers Mahasiswa Di Era Konvergensi Media, Jum’at (20/9/19).

Konvergensi media atau penggabungan media massa dengan teknologi digital menjadi polemik media cetak saat ini. Selain permasalahan pada biaya operasional, menurut Nurseri, faktor lainnya pada kecepatan penyebaran berita.

Wawancara dengan Imron Supriyadi, Pemred Kabar Sumatera.com usai jadi pembicara di Fakultas Dakwah dan Komnikasi Universitas Islam negeri Raden Fatah (Foto.Dok.KSOL/Ridho)

“Semisal di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang mengadakan pemilihan bujang gadis yang baru akan dilaksanakan pukul 10 pagi, untuk media online beritanya langsung bisa dishare pada saat itu juga, sedangkan media cetak baru akan terbit esok hari,” jelasnya.

Kendati begitu, terjadinya konvergensi media saat ini merupakan suatu pilihan. “Orang mau nikmatin via online atau cetak silahkan, semua punya hak masing-masing,” pungkas Nurseri.

Di tempat yang sama, Pemimpin Umum Harian Kabar Sumatera, Imron Supriadi mengatakan, kebebasan untuk melakukan kegiatan pers melalui media online saat ini sudah bebas dan berbanding terbalik pada zaman kolonial dahulu.

“Pers pada masa 80 an sangat sulit dan diawasi setiap gerak-gerik pers, sehingga tidak ada kebebasan dalam pers,” tuturnya yang juga menjadi pemateri seminar di Ruang Seminar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDAKOM) UIN Raden Fatah.

Mengenai konvergensi media, Imron menjelaskan kejadian di tahun 2013 ketika di negara Amerika Serikat perusahaan cetak gulung tikar dan beralih ke media online. Hal tersebut juga disusul oleh Indonesia.

“Yang pertama menggunakan media online sebut saja detik.com yang menjadi titik fokus pada saat itu. Maka dari itu, untuk menjaga keseimbangan, sebuah perusahaan media harus memiliki media cetak dan media online, dikarenakan masih banyak orang yang membutuhkan media cetak seperti koran,’ jelasnya.

Namun begitu, di zaman teknologi yang pesat saat ini, tentunya ada kelemahan yang melingkupi media online, yakni saat semua orang bisa menjadi jurnalis dan menyebarkan berita tanpa mengenal jurnalistik.

“Mengenai hal tersebut, dewan pers membuat regulasi baru untuk semua media harus memiliki PT supaya memiliki kualifikasi yang jelas,” tutupnya.

Sementara itu, pendapat salah satu mahasiswa FDAKOM, Apriliandini  Muharashita mengatakan,  di zaman konvergensi media pada saat ini, media cetak sudah minim peminatnya dibandingkan media online.

“Karena lebih cepat dan mudah diakses serta menarik, sehingga media online banyak peminatnya terutama kaum milenial. Dan saya berharap untuk media online maupun media cetak harus memberikan berita yang aktual dan tidak menyebarkan berita hoax,” sampainya saat diwawancara.

TEKS / FOTO : UKHUWAH.COM/Reporter: Rezy, Vandea I Editor : Melati Arsika





Web development by oktopweb.com