Dinkes: Bayi Elsa di Banyuasin Diduga Meninggal Akibat ISPA

PALEMBANG I KSOL — Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyebut bayi 4 bulan, Elsa Pitaloka, meninggal akibat infeksi salurah pernapasan akut (ISPA). Namun belum bisa dipastikan ISPA yang diderita Elsa akibat kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau bukan.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin Masagus Hakim mengatakan pihaknya sudah memastikan ke RS Ar-Rasyid Palembang yang menjadi tempat meninggalnya Elsa.

“Penyebab pasti kematian bayi sampai sekarang rumah sakit belum mengeluarkan [diagnosa] tapi kita sudah ada perkiraan. Dari hasil wawancara ke petugas yang menangani, bahwa terkena gangguan pernapasan akibat ISPA,” ujar Hakim, Senin (16/9).

Menurut hakim selain ISPA Elsa pun menderita pneumonia. Gangguan pernapasan yang diderita Elsa belum diketahui penyebabnya. Kualitas udara di Banyuasin seperti yang dilaporkan Dinas Lingkungan Hidup masih di kategori sedang dan belum membahayakan jiwa.


Lihat juga: Bayi Meninggal di Palembang Diduga Akibat Asap Karhutla

“Tapi berdasarkan laporan anak buah saya tadi keadaan rumahnya permanen, itu jadi kemungkinan dari lingkungan juga enggak. Makanya kita belum tahu penyebab pastinya,” kata dia.

Bayi Elsa telah dimakamkan di tempat pemakaman umum Dusun II Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin pada Senin (16/9) pagi. Dinkes Banyuasin memberikan santunan atas meninggalnya buah hati pasangan Ita Septiana (27) dan Ngadirun (34) ini.


Atas meninggalnya balita dengan dugaan ISPA ini Dinkes Banyuasin akan melakukan pemeriksaan khusus terhadap para balita yang terpapar kabut asap untuk mencegah jatuhnya korban lanjutan.

“Kita juga imbau ibu untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, jangan bawa anak ke luar rumah kalau tidak mendesak. Rajin kasih ASI, minuman hangat, dan makanan bergizi,” ujar dia.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini berujar, kabut asap yang terjadi akibat karhutla bukan faktor utama penyebab ISPA. Penyebab utama ISPA adalah bakteri atau virus. Sedangkan kabut asap bisa memperparah penderita ISPA, khususnya anak di bawah umur lima tahun (balita) yang sangat sensitif.


“ISPA tetap ada meskipun tidak ada karhutla. Namun jumlah penderita ISPA bisa meningkat dengan adanya kabut asap akibat karhutla,” kata dia.

TEKS/FOTO : CNN INDONESIA (idz/sur)




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com