Gubernur Sumsel Minta Bukti Autopsi Bayi Meninggal Kena ISPA

PALEMBANG I KSOL — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru enggan berspekulasi mengenai penyebab kematian Elsa Pitaloka, bayi berusia 4 bulan yang diduga meninggal akibat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hanya autopsi, ujar Herman, yang bisa memastikan penyebab kematian warga Desa Talang Buluh, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin tersebut.

Diketahui, Elsa Pitaloka meninggal dunia di RS Islam Ar-Rasyid Palembang, Minggu (16/9) sekitar pukul 18.35 setelah mengalami sesak napas dan gagal pernapasan.

“Kami minta untuk rekan-rekan pers juga tidak langsung mengidentikkan dengan ISPA karena yang berhak itu kan dokter yang menangani dan yang paling jelas hasil autopsi,” ujar Herman Deru, Senin (16/9).

Herman meminta masyarakat untuk memisahkan mana penyakit yang menjadi wabah dan menyebabkan banyak orang menderita dengan penyakit yang hanya menyerang orang per orangan.

“Saya baca, malah dokter spesialisnya masih bilang begini, mungkin itu memang ada penyakit parunya. Artinya kecuali hasil autopsi [hasilnya tidak bisa dipastikan]. Kecuali itu memang hasil autopsi ya, tapi saya dengar tidak autopsi,” tambah dia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, sedikitnya 32.815 warga Sumsel menderita ISPA sejak kualitas udara memburuk akibat asap yang dihasilkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 5 pekan terakhir yakni periode awal Agustus hingga pekan pertama September.

Sebanyak 44,80 persen atau 14.720 diantaranya merupakan bayi berusia di bawah 5 tahun (balita). Secara umum jumlah penderita ISPA pun tercatat meningkat sejak Juni yang 39.683 penderita, Juli dengan 40.874 penderita, dan Agustus dengan 50.862.

Meski peningkatan penderita ISPA sudah cukup signifikan, Herman Deru belum mendirikan rumah singgah khusus para bayi penderita ISPA. Dirinya mengaku masih menunggu laporan Indeks Standar Pencermaran Udara (ISPU) dari BMKG. Apabila sudah berbahaya baru akan didirikan rumah singgah khusus tersebut.

“Itu kan bayi yang menderita tersebar, tidak berkelompok. Tapi dari hal-hal yang ringan saya perintahkan Dinkes untuk ditangani, artinya dibantu agar tidak lebih parah. Saya pikir sudah harus ada rumah singgah kalau sudah berbahaya,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, bayi berusia 4 bulan Elsa Pitaloka meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan gagal pernapasan.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuasin Masagus Hakim berujar, pihaknya memastikan bahwa terjadi gangguan pernapasan yang diderita bayi Elsa. Hal tersebut terungkap setelah pihaknya melakukan pengecekan ke RS Ar-Rasyid Palembang yang menjadi tempat meninggalnya Elsa.

“Penyebab pasti kematian bayi sampai sekarang rumah sakit belum mengeluarkan [diagnosa] tapi kita sudah ada perkiraan. Dari hasil wawancara ke petugas yang menangani, bahwa terkena gangguan pernapasan akibat ISPA,” ujar Hakim.

TEKS / FOTO : CNN INDONESIA





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com