Santri Tewas Dianiaya Senior, Pengurus Ponpes: Korban Jatuh dari Lantai Dua

3 total views, 3 views today

Mojokerto I KSOL – Pengurus Pondok Pesantren (PP) Mambaul Ulum membantah tewasnya salah seorang santri mereka akibat dianiaya santri senior. Menurut mereka, korban tewas akibat terjatuh dari lantai dua asrama santri.

“Mungkin dia ngantuk karena kelelahan setelah ikut lomba gerak jalan. Jatuhnya dari tangga di lantai dua. Ketinggian sekitar 10 meter. Anaknya memang tergolong berkebutuhan khusus,” kata Pengurus Pondok Putri PP Mambaul Ulum Anisatul Fadilah (32) di lokasi kejadian, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Selasa (20/8/2019).


BACO JUGO : SEORANG SANTRI PONPES DI MOJOKERTO TEWAS DIANIAYA SENIORNYA

Namun Fadilah mengaku baru mengetahui insiden yang dialami santrinya itu dini hari tadi sekitar pukul 03.00 WIB. Dia pun langsung menyusul ke RSUD Prof Dr Soekandar di Mojosari. Karena korban Ari Rivaldo (16) awalnya dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut.

“Kejadiannya semalam setengah 12, kami tak tahu. Tahunya dilapori pengurus bahwa ada anak jatuh, posisi sudah di rumah sakit. Kami dari pihak pondok langsung cepat ke rumah sakit, menyetujui semua keperluannya di UGD,” ujarnya.

Saat di RSUD, lanjut Fadilah, Ari sudah tidak sadarkan diri. Menurut dia, santri asal Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo itu mengalami pendarahan di bagian belakang kepalanya.

“Saya usulkan ke RSU Dr Soetomo, tapi kata rumah sakit (RSUD Soekandar) ini butuh cepat, takut terjadi apa-apa di jalan. Sehingga disuruh membawa ke RSI Sakinah. Dirujuk karena alat dan dokternya tidak ada,” terangnya.

Ari akhirnya tewas saat dirawat di RSI Sakinah, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Mojokerto siang tadi sekitar pukul 12.00 WIB. Jenazahnya sempat disemayamkan di masjid PP Mambaul Ulum. Sekitar pukul 15.40 WIB, korban dibawa ke RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, Sidoarjo untun diautopsi.

Fadilah menampik Ari tewas akibat dianiaya oleh seniornya. “Insyaallah tidak ada (penganiayaan) karena ustaz selalu piket bergiliran. Melakukan monitoring selama 24 jam,” kilahnya.

Ia menuturkan, Ari dinilai melanggar tata tertib pondok karena keluar dari lingkungan PP Mambaul Ulum tanpa izin untuk membeli makan pada Senin (19/8) malam. Menurut dia, selama ini hukuman bagi santri yang melanggar tanpa menggunakan kekerasan fisik.

“Selama ini hukuman hanya disuruh ngaji, bersih-bersih makam, halaman,” tandasnya.

Apa yang disampaikan Fadilah bertolak belakang dengan hasil penyelidikan polisi. Petugas telah melakukan olah TKP dan meminta keterangan para saksi. Petugas menyita barang bukti berupa kasur lantai, selimut dan pakaian korban yang ada bercak darah. Barang bukti itu ditemukan di dalam ruangan di bawah tangga lantai pertama asrama pondok.

Berdasarkan keterangan saksi, polisi menyatakan Ari tewas akibat dianiaya oleh WN (17), santri senior PP Mambaul Ulum. Pukulan dan tendangan pelaku mengakibatkan kepala korban membentur dinding kamar asarama. Sehingga korban terluka di kepala belakang sebelah kanan.

Saat ini pelaku yang diketahui asal Kecamatan Pacet, Mojokerto menjalani pemeriksaan di Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto. Karena pelaku berusia di bawah umur, yaitu 17 tahun. Polisi belum menetapkan WN sebagai tersangka tewasnya Ari.

TEKS : DETIK.COM (iwd/iwd)





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com