7 Cara Hidup Lebih Bahagia Tanpa Candu Facebook, Instagram, dan Gawai

 315 total views,  3 views today

Oleh : Bobby Steven

Facebook dan Instagram adalah dua media sosial dengan jumlah pengguna yang amat fantastis. Tahun 2019 ini, menurut data statista.com Facebook memiliki 2,41 miliar pengguna. Facebook adalah media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di dunia.

Indonesia menempati peringkat keempat negara pengguna Facebook terbanyak di dunia dengan menyumbang 6 persen pengguna.

Sementara itu, menurut blog.statusbrew.com, Instagram memiliki lebih dari 1 miliar pengguna. Perusahaan Facebook dalam laporan resmi terakhirnya melaporkan bahwa 2,7 miliar pengguna setiap bulannya menggunakan setidaknya salah satu dari empat “produk utama” Facebook Inc: Facebook. WhatsApp, Instagram, atau Messenger.

Facebook, Instagram, Aneka Medsos dan Generasi Nunduk

Era 1990-an, saat ponsel dan media sosial belum menjamur, orang bertegur sapa dengan lebih akrab di tempat-tempat umum. Anggota keluarga lebih sering berinteraksi langsung di rumah dan luar rumah, ngobrol dan melakukan aktivitas bersama. Kini generasi modern adalah generasi menunduk.

Di bus dan kereta menunduk. Di rumah, di jalan menunduk, sampai-sampai menabrak tiang, tertabrak kendaraan atau menubruk orang. Kita pelan-pelan telah tunduk pada Facebook, Instagram, dan aneka medsos dan aplikasi di ponsel kita.

Penyebab kita kecanduan Facebook, Instagram, dan gawai adalah ketakutan untuk tidak update. Bahasa Inggrisnya “Fear of Missing Out” alias FOMO. Kita takut bahwa kita tak tahu apa yang sedang tren di media sosial. Kita takut ketinggalan update berita artis (padahal, itu gak penting!).

Kita takut dianggap nggak update gegara satu jam saja tak berselancar di internet. Padahal, hidup kita juga akan baik-baik saja bila tak rajin update status atau tak rajin baca update status teman di dunia maya.

Alibat dari FOMO, interaksi sosial, saling sapa, ngobrol di rumah sendiri, di kantor, di warkop, di stasiun, di terminal, di dalam bus dan kereta jadi barang langka. Masing-masing asyik dengan ponsel dan medsosnya.

Tentu saja, tak berarti ponsel dan medsos semacam Facebook, Instagram, Whatsapp harus benar-benar dibenci. Penggalangan dana, usaha daring, publikasi kegiatan dan syiar keagamaan, serta jutaan kegiatan positif makin bisa berdampak luas berkat Facebook, Instagram, dan kawan-kawannya.

Hanya saja, kita sendiri perlu sadar, kebahagiaan hidup kita tak bisa dicapai hanya dengan menjadi generasi nunduk. Bahkan, kita harus kritis melawan candu Facebook, Instagram, dan gawai.

Tak sedikit orang jadi depresi, hidup sosial dan hidup keagamaannya hancur karena kecanduan media sosial.

7 Cara Hidup Lebih Bahagia Tanpa Candu Facebook, Instagram, dkk

Nah, ini 7 cara hidup lebih bahagia tanpa candu Facebook, Instagram, dan gawai.

  1. Berani Batasi Waktu Gunakan Media Sosial dan Gawai

Berapa waktu maksimal yang boleh Anda habiskan untuk membuka Facebook, Instagram, WhatsApp, dan rombongannya? Semua tergantung pula situasi Anda.

Seorang penjual yang berjualan di toko online tentu menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermedia sosial. Yang harus tahu waktu maksimal bermedia sosial adalah Anda sendiri, dengan mempertimbangkan tugas utama dan kesehatan Anda.

Ingat bahwa layar ponsel dan komputer memancarkan pula radiasi sinar biru yang bisa merusak kesehatan mata. Beranilah batasi waktu gunakan media sosial dan gawai (gadget).

Jika perlu, pasang aplikasi atau filter yang bisa membatasi penggunaan internet di gawai Anda. Kurangi berselancar tanpa manfaat yang hanya menghabiskan waktu dan menguras energi positif Anda.


2. Hindari Gunakan Media Sosial saat Sedang Bersama Keluarga dan Komunitas

Saat makan bersama, alih-alih memeriksa unggahan teman di dunia maya, bukankah seharusnya kita ngobrol dengan keluarga dan rekan di hadapan kita? Lawanlah sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dengan kreatif menciptakan suasana hangat. Ceritakan humor, pengalaman menarik, kecemasan, dan kebahagiaan Anda pada keluarga.

Ajukan pertanyaan menarik, tema diskusi menggelitik di tengah acara keluarga dan komunitas Anda. Jangan biarkan Facebook, Instagram, dan pasukan aplikasi daring menguasai keluarga dan hidup sosial Anda saat ada momen untuk menjalin kebersamaan keluarga.

3. Ciptakan Acara Kebersamaan dalam Keluarga dan Komunitas, Tanpa Gawai

Selain acara-acara rutin seperti makan dan ibadah keluarga, coba ciptakan acara-acara kebersamaan dalam keluarga Anda. Mengapa tak berakhir pekan dengan jalan-jalan di hutan atau taman di (dekat) kota Anda?

Mengapa tak bersama-sama mengunjungi panti asuhan, tempat ibadah dan peziarahan rohani/keagamaan, dan tempat-tempat di mana Anda dan keluarga bisa makin cinta pada Tuhan YME dan sesama? Catatan penting: minimalkan penggunaan gawai.

4. Bergabung dengan Komunitas Hobi

Menariknya, komunitas hobi makin mudah diakses dan dikenal melalui media sosial. Nah, ambil saja sisi positif dari media sosial dalam menghubungkan diri Anda dengan komunitas hobi.

Bergabunglah dengan komunitas hobi yang bermanfaat dan tak banyak membebani anggaran (keluarga) Anda. Alih-alih terlalu banyak berselancar di Facebook dan Instagram, kita bisa berkumpul dengan rekan-rekan (baru) yang memiliki minat yang sama. Kontak langsung dengan manusia lain jadi lebih sering terjalin.

5. Membaca Buku dan Aneka Bacaan Bermutu

Alih-alih sibuk ber-Facebook atau scroll dan stalking di Instagram, kita bisa membaca buku dan aneka bacaan bermutu. Jika perlu, sediakan anggaran untuk membeli bacaan bermutu.

Satu dua buku ringan untuk sebulan bisa jadi awal yang baik. Jika tak punya cukup anggaran, kita bisa jadi pengunjung perpustakaan dan taman baca.

Boleh juga mengunjungi toko buku untuk sekadar melihat-lihat buku-buku yang dipajang. Bisa juga bergabung dengan komunitas pinjam-meminjam buku agar tak harus selalu membeli buku.

6. Mengingkatkan Keterampilan (Praktis) untuk Diri, Keluarga dan Komunitas

Alih-alih sibuk dengan gawai, kita sebaiknya meningkatkan keterampilan praktis. Kita bisa mencoba berkebun atau membuat kerajinan dari produk yang bisa didaur ulang.

Kita bisa juga mengikuti kursus-kursus keterampilan praktis untuk pribadi dan keluarga, misalnya kursus memasak, bermusik, menjahit, menulis, reparasi, bahasa asing, dan lain-lain. Berkat keterampilan praktis itu, bisa jadi kita dapat penghasilan tambahan dan kenalan baru.Menjadi Seorang yang Mudah Disapa dan Diajak Ngobrol di Ruang Publik.

7. Menjadi Seorang yang Mudah Disapa dan Diajak Ngobrol di Ruang Publik

Ini tantangan yang tak mudah. Mari menjadi seorang yang mudah disapa di ruang publik. Ruang publik, misalnya adalah kantor, sekolah, kendaraan umum, stasiun, bandara, dan sejenisnya.

Cara pertama untuk menjadi orang yang mudah disapa dan diajak ngobrol adalah dengan tak sepanjang waktu nunduk lihat gawai/ponsel di ruang publik. Pengalaman saya, ketika kita tak sibuk dengan ponsel, orang-orang di sekitar tak ragu untuk menyapa dan bertanya.

Cara kedua, kita juga perlu memulai obrolan di ruang publik. Simpan ponsel di tas, aktifkan mode getar atau bahkan mode diam/silent. Alih-alih bertanya pada mesin peramban di internet, kita bisa cari informasi pada orang-orang yang kita jumpai di ruang publik.

Mulailah berbasa-basi menyapa sesama penumpang di bus atau kereta, misalnya. Dulu, orang biasa berbasa-basi dengan bertanya, misalnya, “Pak/Bu, nanti turun di (kota) mana?; “Selamat siang, saya mau tanya kalau mau ke alamat ini harus ambil jalur berapa ya?”

Saya yakin, jika makin banyak orang secara sadar menjadikan diri lebih mudah disapa dan diajak ngobrol, obrolan di ruang publik akan lebih mudah tercipta. Tak perlu menunggu atau menyuruh orang lain melakukan tips terakhir ini.

Mulailah dari diri sendiri. Jangan selalu nunduk di dalam kendaraan umum, di kantor (saat jeda), di bandara-stasiun-terminal-halte.

Pasang mata dan telinga untuk lihat sekitar Anda alih-alih sibuk dengan gawai. Tolonglah penumpang lain yang mungkin kerepotan membawa barang berat. Relakan tempat duduk Anda untuk ibu hamil, orang lanjut usia, dan anak-anak serta kaum difabel. Ajak ngobrol penumpang lain atau orang yang ada di dekat Anda.

Tiap orang ingin diperlakukan sebagai manusia, tak justru dicuekin karena kita sibuk dengan gawai. Mengajak ngobrol, menyapa, bertanya, siap menolong adalah cara-cara terbaik untuk memperlakukan orang-orang yang kita jumpai sebagai manusia.

Sekali lagi, jangan biarkan Facebook, Instagram, dan gawai membuat kita makin jadi generasi nunduk dan merampas kebahagiaan (keluarga) kita.

TEKS : KOMPASIANA.COM

LINK ASLI : https://www.kompasiana.com/bobby18864/5d4ae554097f36107f1848c2/7-cara-hidup-lebih-bahagia-tanpa-candu-facebook-instagram-dan-gawai





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster