Bertemu Tuhan di dalam WC

19 total views, 3 views today

Oleh Imron Supriyadi, Jurnalis & Pengasuh Ponpes Rumah Tahfidz Rahmat Palembang

Pernahkan Anda bertemu Tuhan di dalam WC? Kalau saya setiap saat. Saya tidak tahu persis, apakah Anda juga bertemu atau tidak. Pertanayaan saya ini, sudah pasti mendorong Anda untuk sedikit mengerutkan kening, kemudian secara spontan mungkin Anda akan memarahi, memaki saya, dan menyebut kalau saya kurang ajar, karena saya sudah membawa nama Tuhan ke dalam WC : sebuah tempat biasa kita membuang tinja, atau satu ruangan yang selama ini kita anggap lokasi pembuangan barang dan sampah najis yang menjijikkan.

Anda boleh dan berhak marah atau tidak setuju. Sebab Anda sudah pasti tidak ingin nilai-nilai dan kesucian Tuhan ternoda oleh kekurangajaran saya, yang membawa nama Tuhan ke dalam WC.

Bahkan untuk menjaga stabilitas kesucian ajaran kebaikan, semua agama juga mengajarkan, tidak ada satu kalimat Tuhan pun yang boleh diucapkan disaat kita berada di dalam WC. Dalam agama saya, secara jelas ada syariat, yang melarang mengucapkan kalimat Tuhan, atau membaca secuil ayat Al-Quran pun di dalam WC.

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (10/32), “Berzikir dengan kalbu (hati) disyariatkan setiap saat dan di mana saja berada, baik di dalam toilet maupun di tempat lainnya. Yang makruh hanyalah berzikir dengan lisan dalam toilet dan semacamnya dalam rangka mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali membaca basmalah sebelum berwudhu”.

Mungkin bukan hanya kiai, ustadz, pasteur, Bikku, bahkan Anda juga akan marah, ketika mendengar ada seseorang yang secara spontan mengucapkan kalimat Tuhan di dalam WC, setelah terlepas dari tekanan tinja di ujung anus. Kemarahan ini karena Anda tidak ingin ada seseorang yang menciderai agamnama Tuhan dengan membawanya ke dalam WC.

Tetapi di sisi lain, saya juga punya hak untuk marah, apalagi melarang Anda untuk menyebut nama Tuhan dalam hati, sekalipun Anda sedang di dalam WC sekalipun. Larangan yang selama ini disampaikan mengucapkan kalimat Tuhan dalam konteks syariat (lisan dlohiriyah), bukan hakikat batiniyah.

Lagi pula, spontanitas hati Anda menyebut nama Tuhan di dalam WC, sudah tentu tidak pernah akan lebih dulu meminta izin pada saya, atau sebaliknya akan memberitahu saya setelah Anda keluar dari WC. Itu hak prerogatif Anda sebagai mahluk Tuhan yang berkewajiban menyatakan terima kasih pada Tuhan, yang telah memerintahkan tinja keluar dari dalam perut kita, kecuali Anda lupa atau berlagak lupa.

Kalaupun saya tak bisa marah saat hati Anda menyebut nama Tuhan saat Anda di dalam WC, karena telinga saya tidak diberi kewenangan oleh Tuhan untuk menembus dan mendegarkan kalimat suci dari batin Anda saat Anda di dalam WC, sehingga saya tidak punya waktu dan otoritas sedikitpun untuk melarang siapapun menyebut nama Tuhan, apalagi dalam hati, sekalipun Anda sedang di dalam WC. Jangankan saya, malaikat saja hanya bisa mencatat perilaku fisik (syariat) seorang hamba, apalagi saya.

Penilaian perilaku batin, saat Anda di dalam WC, bukan menjadi kewenangan dan otoritas saya, karena saya tidak pernah merasa atau mengaku-ngaku kalau saya telah menciptakan Anda. Jadi yang berhak member point positif dan negative perilaku batin Anda di dalam maupun di luar WC sudah pasti Sang Penguasa Langit dan Bumi yang telah menciptakan Anda, saya dan kita, sekaligus yang telah mengatur sirkulasi tinja, kapan harus keluar, apakah hari ini, besok pagi, sore atau malam hari.

Jika tinja sesekali harus tertahan lebih dulu, itu bukan hukuman bagi Anda, tetapi lebih menjadi bentuk kasih saying Tuhan terhadap Anda, karena Anda selalu lupa mengucapkan terima kasih saat membuang tinja. Karena Anda masih dianggap hamba-Nya, sesekali mungkin diantara kita ada saja yang harus kesakitan menahan tinja untuk beberapa hari, lalu harus lebih dulu ke dokter.

Saat itu, Tuhan sedang memeluk kita. Kesadaran kita pada posisi kehambaan sedang dipaksa oleh Tuhan, karena mungkin oleh disebabkan ragam aktifitas duniawi, sebagian kita telah melupakan siapa sebenarnya Yang Maha Pengatur sirkulasi tinja.

Tetapi sebagian kita, seringkali menganggap urusan tinja menjadi barang sepele. Seorang ibu akan menangis pilu sepanjang hari, saat melihat anaknya sudah tiga hari tidak bisa berak. Kita juga akan siap keluar biaya berapapun jumlahnya untuk memaksa tinja keluar dari perut anak kita.

Bahkan semua proses kehidupan bisa menjadi tidak berjalan baik, jika urusan tinja dikelola tidak baik. Rapat besar sekalipun di istana presiden akan terhambat, jika tinja masih menekan ujung anus kita. Bukan tidak mungkin, rapat kenegaraan akan tidak serius, bahkan ditunda sesaat hanya lantaran Pak Presiden atau sebagian pemegang kebijakan negeri ini sedang kebelet buangair besar.

Jika kita kemudian menghitung kelegaan rohani usai membuang kotoran seberat 3 Ons ini dengan uang, akan berapa rupiah harus kita keluarkan untuk membayar Tuhan yang telah memformat putaran tinja dan makanan busuk secara bergantian setiap hari? Pernahkah kita kalkulasikan berapa juta atau berapa triliun jika sejak kita lahir kemudian kita harus membayar urusan tinja ini dengan nominal rupiah?

Kalau Anda tidak sanggup membayar, masih beratkah Anda untuk sekadar berucap ; terima kasih pada Tuhan, usai melepas kotoran yang baunya busuk ini?

Mengiringi pujian terhadap Tuhan dalam hati usai melepas tinja di dalam WC, apakah termasuk penodaan kesucian Tuhan? Masihkah Anda marah, kalau hati saya secara spontan juga menyebut nama Tuhan ketika saya masih di dalam WC? Apakah saya kurang ajar terhadap kesucian Tuhan, karena hati saya menyebut ayat Tuhan di dalam WC, hanya sekadar bentuk rasa syukur saya karena pagi itu saya masih bisa berak?

“Diucapkan diluar WC kan bisa? Kenapa harus di dalam? Agama kita sudah mengajarkan doa masuk dan keluar WC. Kenapa kamu buat aturan sendiri?!” tukas Wak Kenthir memprotes saya.
“Syari’atnya memang begitu, Wak. Tetapi nilai kedalaman do’a itu dalam batin yang mengucapkan, bukan sebatas lisan,” sanggah saya, membuat Wak Kenthir setengah tidak setuju.

“Jadi tidak cukup dengan lisan?!”
“Tidak!?”
“Lho?”
“Ya, bukan lho! Lisan itu perwujudan syari’at, hakikatnya dalam batin Wak Kenthir. Kalau istri Wak Kenthir mengatakan sayang dan cinta pada Wak secara lisan, tetapi hatinya tidak, gimana?” tanya saya memancing emosi Wak Kenthir.

“Itu tidak mungkin! Isteri saya sayang dan cinta lahir dan batin. Kamu ini aneh-aneh saja! Soal Wc kok bawa-bawa isteri saya!” katanya sedikit bersungut kesal.

“Ini umpama, Wak. Jangan marah dulu!” saya meredakan emosi yang hampir meledak.

“Kalau ucapan lisan itu bisa dibohongi, kalau hati tidak bisa, Wak. 
Kata Pak Kiai, suara hati dituntun malaikat, kalau lisan hanya gugur kewajiban kalau hatinya tidak ikut membenarkan,” kata saya lagi.

“Jadi yang lisannya baik tapi perilakuknya buruk, gimana?” Wak Kenthir penasaran.

“Ya, itu tadi. Kita ini sering manjaga kesucian nama Tuhan hanya dalam syariat, tetapi dalam hakikatnya masih sering melanggar,” kata saya kemudian membuat kening Wak Kenthir sedikit berkerut. Sepertinya ada kalimat yang tidak dipahami.

“Maksud saya, begini, Wak. Sebagian kita sering menyebut nama Tuhan, baik di dalam maupun di luar WC. Tetapi perilaku fisiknya tidak mencerminkan kalimat yang diagungkan.

Seperti dalam demo-demo, teriak Allahu Akbar! Allahu Akbar! Tapi perilaku fisiknya beringas, garang dan cenderung anarkis. Bukan malah sebaliknya, kalimat yang diucapna membuat hatinya lembut, dan menyadarkan kehambaan diri, siapa kita dan siapa Tuhan,” kalimat saya terputus sampai disitu, karena Wak Kenthir akan segera beran jak dari hadapan saya.

“Maaf, saya kebelet. Saya mau ke WC menemui Tuhan, ” katanya.

Kali itu, Wak Kenthir ingin membuang tinja di dalam WC, sebagai perawatan kesehatan jasmani. Tetapi kesadarannya hatinya ingin menyebut nama Tuhan saat membuang tinja, Wak Kenthir sedang ingin merawat rohaninya, yang acapkali ternoda oleh keangkuhan diri sebagai akibat dari ketidaksadarannya pada kehambaan di hadapan Tuhan.[*]

Palembang, 18 Agustus 2011





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com